Kamis, 26 Juni 2014

Konsisten Menanam dan Menulis

Saya ingin waktu yang saya miliki tiap detik memiliki nilai manfaat bagi kehidupan saya, keluarga dan orang lain. Saya tak ingin menyia-nyiakan waktu saya, maka setelah mengajar saya turun ke sawah untuk bercocok tanam. Sebenarnya saya dan suami tidak memiliki ilmu bercocok tanam. Akan tetapi kami memiliki keyakinan, semua bisa dipelajari.
Awal menikah kami mencoba peruntungan menanam kacang hijau. Hasil panen tidak dapat mengembalikan modal awal. Gagal total, alias merugi. Setelah itu berturut-turut kami menanam padi, jagung, dan kacang tanah. Dari sini baru saya tahu semua membutuhkan kesabaran yang luar biasa. Saya dan suami dapat menikmati hasil jerih payah. Yang kami dapat bisa saya tabung untuk membangun rumah.
Setelah saya menempati rumah sendiri (menempati sawah milik mertua), saya mulai belajar bercocok tanam komoditas lainnya. Ada lombok, kacang panjang, mentimun, kangkung darat, sawi hijau, bayam cabut dan pare. Semua saya tanam secara bergantian, akan tetapi ada yang multikultur. Keuntungan multikultur adalah hasil panen lebih optimal. Bila yang satu gagal, maka panen sayuran yang lain dapat menutupi biaya yang kami keluarkan.
Dari beberapa sayuran yang saya sebutkan, sepertinya saya lebih sreg atau pas kalau menanam kacang panjang dan mentimun. Keduanya termasuk sayuran berumur pendek, cepat dipanen, dan harga jualnya juga tinggi. Meski harga jatuh, setelah dihitung-hitung hasilnya dua kali dari pengeluaran (syarat : pengairan cukup). Artinya keuntungan minimal 100%.
Biasanya panen perdana sengaja kami sedekahkan kepada tetangga, teman-teman guru, atau saudara. Suami saya lebih puas bila mereka memanen sendiri di kebun kami.
Ada kepuasan tersendiri bila melihat kebun yang sarat dengan buah. Rasa lelah tidak pernah membuat saya cepat istirahat, justeru lebih puas lagi kalau habis dari kebun malamnya dilanjutkan menulis. Menulis apa saja yang saya alami sejak pagi sampai malam hari. Dari mengajar, berkebun dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga.
Sejak SMA kegiatan menulis sudah saya lakukan. Malah Cerpen yang saya ketik (manual) ada yang dimuat di Majalah lokal. Sampai sekarang kegiatan menulis tidak saya tinggalkan. Meskipun baru beberapa Cerpen dan Sajak sempat dimuat di media massa, tapi saya puas. Sekarang ingin membuat buku.
Ternyata bercocok tanam dan menulis adalah kegiatan yang tak bisa dipisahkan dari kehidupan saya. Rasanya hidup saya lebih berarti dengan mengerjakan rutinitas saya. Saat ini saya menanam kacang panjang, mentimun, gambas (oyong), dan kangkung darat. Paling tidak untuk mentimun satu bulan lagi bisa dipanen. Alhamdulillah, Allah menunjukkan rejeki saya dengan bercocok tanam dan menulis. (SELESAI)
Karanganyar, 1 Maret 2014