Kamis, 26 Juni 2014

Potong Bebek Angsa

Hari ini saya mengikuti pengenalan kurikulum 13 yang akan dilaksanakan di SMK Tunas Muda Karanganyar mulai tahun ajaran 2014/2015. Persiapannya cukup memadai, cukup membuat kepala berdenyut-denyut. Apalagi saya dari rumah belum sarapan. Biarpun sudah menyantap 2 buah arem-arem dan kudapan istimewa, tetap saja rada-rada pusing. (permakluman orang ndeso, kalau belum makan wujudnya nasi meskipun menghabiskan satu porsi sate ayam dan lontong atau tahu kupat, tetap saja pusing).
Kebetulan pelajaran Kimia yang saya ampu ada pengurangan jatah. Biasanya pelajaran kimia diberikan pada kelas X, XI, dan XII. Pada K13 ini Kimia diberikan pada kelas X dan XI. Dan yang lebih membuat waktu mengajar banyak luangnya adalah jurusan multimedia tidak ada pelajaran kimia. (ditrima-trimake saja).
Setelah selesai urusan dinas, waktunya untuk refreshing. Siang ini rencananya akan menjenguk putra teman guru yang baru saja dikhitan. Saya dipaksa untuk memberi tahu teman saya dulu, biar disiapkan segala sesuatunya.(walah, ngarep-arep disuguh makan siang!).
Sampai di rumah teman saya, ternyata teman saya sedang repot meladeni buruh-buruh panen. Hari ini teman saya panen padi. (apes deh, teman-teman yang lain membayangkan makan siang gratis, ternyata di luar dugaan).
Bertemu dengan putra teman saya yang baru disunat, saya jadi ingat keponakan saya yang baru saja melakukan ritual “POTONG BEBEK ANGSA”. Kebetulan 3 hari setelah dikhitan, putra teman saya sudah sembuh. Beda dengan keponakan saya. Awalnya keponakan saya hepi banget mau dikhitan. Katanya, pakai metode laser tidak sakit.
Ketika saya masuk kamar keponakan saya, anaknya diam. Saya tanya sakit nggak. Dia hanya mengangguk. Pertanyaan saya berikutnya tidak dijawab. (ternyata sakit katanya). Sampai hampir satu minggu keponakan saya masih susah jalannya. Malah untuk menghindari “angsanya” agar tidak kena gesekan, ayahnya membuat “koteka” dari barang daur ulang.
Ritual “POTONG BEBEK ANGSA” membuat orang-orang melakukan cukup sekali saja. Sewaktu menjenguk putra teman saya, kebetulan hanya saya yang lain jenis. Dalam hati saya bilang, wahai kaum lelaki, dirimu jangan kemaki. Ternyata sakit hanya sekali lalu kapok. Ya, itu dilakukan demi kesehatan dan mengikuti ajaran Nabi Ibrahim.
Bagi putranya yang akan dikhitan, dampingi, dan berikan dorongan psikologis, biar cepat sembuh. Jangan lupa makannya yang bergizi! Kalau kebetulan putranya dapat amplop, ikhlaskan saja buat ananda (nanti si anak tidak merasa sakit, atau mendadak hilang sakitnya begitu pegang amplop).
Pulang dari silaturahmi, di perjalanan pulang saya kehujanan. Lengkap sudah penderitaan saya (nggak-lah dibuat hepi), sudah kelaparan, kehujanan pula. Sampai di rumah kliyeng-kliyeng. Pet. Langsung tidur! (SELESAI)
Karanganyar, 26 Juni 2014