Sabtu, 28 Juni 2014

MEMBUKA WARUNG MAKAN

WIRAUSAHA
KELUAR DARI PABRIK : MEMBUKA WARUNG MAKAN
Oleh : Kahfi Noer
Sudah dua hari (sebelum berpuasa) yang lalu saya makan di warung lama, pemilik baru. Biasanya saya hanya makan nasi sayur dan minum teh panas. Bayarnya hanya 3-4 ribuan. Bukan berarti saya suka jajan, lebih karena ingin langrisi (biar warungnya laris saja).
Beberapa bulan yang lalu warung makan ini milik mbah Mul. Masakan mbah Mul memang enak. Karena saya termasuk pembeli yang manut, tidak banyak nawar atau banyak komentar, kadang-kadang saya diberi murah.
Setelah mbah Mul meninggal, usahanya diteruskan anaknya yang pertama (mbak Sri). Selain masakannya jauh di bawah standar rasanya, juga menunya tidak mengundang selera. Tapi untuk makan siang saya juga makan di warung itu juga. Warung makan yang diteruskan anaknya tidak bertahan lama.
Tempat tinggal mbak Sri jauh dari warung mbah Mul. Lagian, mbak Sri setiap malam juga berjualan nasi sayur di rumahnya sendiri. Dengan demikian repot sekali. Belum lagi ongkos becak jasa antar jemputnya yang tinggi. Praktis warung mbah Mul tutup lagi.
Lama warung makan mbah Mul tutup, lalu usaha ini diteruskan anak yang ragil. Saya biasa memanggil Mas Devi. Mas Devi (pendidikan terakhir SMK/STM) awalnya bekerja di pabrik. Setelah menikah, pasangan suami isteri yang pernikahannya baru 3 bulan ini memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya. Isterinya Mas Devi (pendidikan terakhir SMP) juga bekerja di pabrik. Lalu meneruskan usaha simboknya mengelola warung makan.
Selain membuka kembali warung makan, Mas Devi juga membuka jasa cuci sepeda motor. Ternyata Mas Devi ini juga tukang masak yang tidak diragukan. Sebagian sayur yang dimasak bumbunya dari Mas Devi, sedang isterinya tinggal mengolah atau sreng-sreng.
Menurut hemat saya, pasangan muda ini sangat kompak. Suatu hari sang isteri sempat saya ajak bincang-bincang. Katanya dengan membuka warung sendiri ternyata bekerja lebih nyaman. Tidak ada yang memerintah. Waktunya juga fleksibel.
Sayur dan lauk yang ada, rasanya hampir sama dengan sayur yang memasak mbah Mul. Kalau saya lihat, berjualan dengan membuka warung makan sampai saat ini masih prospek. Memang berjualan ada pasang surutnya. Bila tekun atau tidak mudah putus asa pasti berhasil juga.
Saya salut dengan pasangan muda ini! Berani memutuskan keluar dari pabrik untuk membuka warung makan dan jasa cuci sepeda motor, usaha sendiri. Inilah contoh wirausahawan. (SELESAI)
Karanganyar, 28 Juni 2014