Kamis, 31 Juli 2014

Mudik Seru Naik Sepeda Motor

Gambar utama : Sendang Tirto Sinongko, Klaten
Alhamdulillah, acara mudik berjalan dengan sukses. Yang ditinggal di rumah sukses, dan yang mudik jelas lebih sukses. Bertemu dengan sahabat lama, teman SMP yang sudah lebih dari 27 tahun berpisah. Bertemu dengan guru mengaji di kala saya masih kecil. Beliau adalah Ibu Wazilah Wido Suroto. Beliau telah berjasa pada dalam hal berbagi ilmu baca quran. Bertemu dengan tetangga yang baik dan menjadi bagian keluarga Bapak/Ibu.
Mudik, inginnya tetap tinggal di Yogya dan bawaannya malas kembali ke Karanganyar. Akan tetapi pekerjaan di rumah sudah melambai-lambai. Hari Selasa, 29 Juli 2014 kami kembali ke Karanganyar. Perjalanan kami tempuh pada pagi hari agar tidak bertemu dengan “Bang Macet”.
Sampai di Prambanan, kendaraan dari arah Yogyakarta cukup ramai. Jalannya juga masih lancar. Karena kami bertiga dengan adik kecil 4 tahun, maka sampai di Stadion Klaten, kami beristirahat. Saya dan adik kecil jalan santai keliling lapangan satu kali putaran. Setelah itu keluar dari stadion, kami menuju Warung Sop Ayam Pak Min dekat stadion.

Gambar 1. Sop Ayam Pak Min, Dekat Stadion Klaten
Pada hari biasa, nasi sop biasa dihargai lima ribu rupiah. Kalau sop brutu, sop ayam, dan yang istimewa lainnya tarifnya sembilan ribu per porsi. Saya memesan dua porsi sop brutu. Satu porsi harganya cukup Rp. 12.000,00/ harga khusus lebaran. Saya puas sarapan di sini karena rasanya benar-benar maknyus. Kebetulan ayam yang dimasak adalah afkiran ayam petelur. Pas sekali di lidah saya.
Setelah sarapan, perjalanan kami lanjutkan. Memasuki Klaten kota, jalanan sudah ramai, padat tapi lancar.
Ada kesan mendalam pada mudik tahun ini, karena dari Yogyakarta sampai Karanganyar saya harus membawa dan menyelamatkan dua buah balon milik si kecil. Awalnya saya sudah minta pada si kecil balonnya ditinggal di rumah Mbah Yi saja, tapi si kecil tidak mau. Daripada sepanjang jalan menangis dan ngambek, dengan senang hati simboknya menjadi pahlawan tanpa minta jasa pegal tangan.

Gambar 2. Dua buah balon mahal 
Kami beristirahat lagi di sendang yang airnya jernih.

Gambar 3. Sejuk

Gambar 4. Bercanda dengan si kecil

Gambar 5. Sang Penjaga Hati
Selama dalam perjalanan, saya bersyukur bisa menghindari macet karena sang “penjaga hati” saya mengajak lewat pedesaan yang udaranya sejuk. Sampai di rumah selamat dan saya bisa kembali beristirahat di garasi, sambil menikmati udara sejuk di dekat rumah kami. Alhamdulillah, hikmah rumah mewah alias rumah mepet sawah adalah dapat menikmati udara sejuk.
Mudik mengendarai sepeda motor kali ini dan tahun-tahun sebelumnya sangat menyenangkan.  Yang penting membawa bekal cukup untuk si kecil, agar tidak rewel. (Selesai)
Karanganyar, 31 Juli 2014