Selasa, 27 Januari 2015

Lupakan Komitmen, Hormatilah Tamu




Gambar. Menghormati dan memuliakan tamu

Cerita ini berdasarkan kisah nyata. Kisah dari seorang kenalan yang dimaki-maki tuan rumah kala bertamu. Ironisnya kenalan saya ini masih berada di luar rumah dan yang memaki-maki adalah isteri dari orang yang akan ditemui.
Kenalan saya sedang ada urusan penting dengan seseorang yang bisa memberikan solusi masalah pekerjaannya. Bukan hanya menyangkut nasibnya melainkan juga menyangkut nasib kawan-kawannya. Kenalan saya harus menemui seseorang sebut saja Pak X. Singkat cerita kenalan saya berdua bertamu ke rumah Pak X dan ditemui Pak X. Isteri Pak X juga membuatkan minuman.
Pak X bertanya pada kenalan saya, dari mana dia tahu rumahnya. Kenalan saya mengatakan dari Pak Y. Akhirnya urusan kenalan saya selesai. Akan tetapi setelah diterapkan, masih ada kendala. Di hari kedua kenalan saya datang lagi ke rumah Pak X. Oleh Pak X disarankan untuk menemui di kantor saja.
Hari ketiga kenalan saya menemui Pak X di kantor. Pak X member tahu semua petunjuk pengisian administrasi. Karena bersifat online, maka memerlukan kesabaran. Sampai di kantornya sendiri kenalan saya membuka computer dan online. Sesuai petunjuk dari Pak X tahap-tahap pengisian dilakukan. Tapi gagal! Karena hari sudah sore, kenalan saya yakin Pak X sudah pulang.
Ditemani sang pimpinan, kenalan saya mendatangi rumah Pak X. Ternyata Pak X belum pulang. Mereka berdua ditemui isteri Pak X. Ditemuinya di luar rumah, tidak dipersilahkan masuk ke dalam.
Versi teman saya, kata-kata dari isteri Pak X setelah diedit seperlunya, intinya adalah sebagai berikut:
“Pak, panjenengan itu ada urusan apa dengan suami saya. Bolak-balik datang ke rumah saya. Saya malu dengan tetangga, dikira ada apa-apa dengan suami saya.”
“Saya datang ada urusan penting yang menyangkut anak buah saya, Bu,”jawab pimpinan kenalan saya. “Kalau sampai hari ini urusan kami tidak selesai, maka nasib kami akan terombang-ambing. Dan yang bisa memberikan solusi adalah Pak X.”
“Pak, perlu Bapak ketahui. Kami, saya dan suami sudah sepakat tidak akan membawa pekerjaan ke rumah. Semua yang ada kaitannya dengan urusan pekerjaan akan diselesaikan di kantor. Saya tidak ingin terganggu dengan urusan pekerjaan suami.”
DORRRRR. Mendengar cerita kenalan saya, saya kok jadi ingin tahu isteri Pak X itu pejabat mana to? Sampai-sampai suami didatangi orang yang benar-benar membutuhkan saja kok dimaki-maki, di luar rumah lagi.
“Isterinya Pak X itu adalah Ibu Rumah Tangga.”
Saya jadi ngelus dada. Mengapa ada orang yang tidak lunak, setelah tamunya menghiba. Dan Isteri Pak X tidak sungkan memaki-maki kenalan saya dan pimpinannya. Apakah itu karena komitmen atau kesepakatan yang telah dibuat antara Pak X dan isterinya?
Apakah kesepakatan itu tidak ada pengecualiannya? Kecuali kalau keadaan darurat, mendesak atau kepepet.
Kalau saya menjadi isteri model isterinya Pak X, wah bisa gawat darurat. Kebetulan suami saya guru olah raga. Aktivitas di luar pekerjaan juga ada. Mau tidak mau suami juga berhubungan dengan banyak orang. Bila ada urusan di luar kedinasan, itu tidak mungkin dapat diselesaikan pada jam kantor. Pasti pertemuan non formal diselesaikan di luar jam kantor.
Saya tak pernah merasa terganggu dengan tamu-tamu, baik teman, saudara, karib, murid-murid atau tetangga. Saya terbuka saja. Prinsip saya kalau saya memudahkan urusan orang, pasti suatu saat saya juga akan dimudahkan di segala urusan.
Lalu, apa maksud dari komitmen/kesepakatan sampai memaki-maki tamu? Cobalah, lupakan komitmen dan hargailah tamu. Suatu saat kita berada dalam posisi membutuhkan orang dan status butuhnya adalah mendesak dan penting.
SEMOGA BERMANFAAT!
Karanganyar, 27 Januari 2015