Minggu, 12 April 2015

Biarpun Wajahku Tak Secantik Anggun C Sasmi


Wajah saya tidak cantik, biasa-biasa saja alias pas-pasan. Bila kantong tidak tebal, menggunakan bedak dan lipstik murah pas banget untuk muka dan bibir saya. Kerudung instan yang langsung siap pakai juga pas bila saya pakai untuk bentuk muka saya yang oval. Bila memakai kerudung yang harus disemat dengan peniti pas banget untuk menyamankan pemakaian.

Saya sangat bersyukur  dengan wajah yang pas-pasan yang diberikan oleh Allah. Hikmahnya agar saya tidak takabur. Saya juga sangat berterima kasih pada Bapak tercinta yang telah memberi nama saya Kaltsum, yang artinya cantik. Bapak tidak salah memberi nama saya.

Sewaktu masih anak-anak, saya termasuk anak yang sering sakit. Tubuh saya kurus, malah bisa dikatakan kerempeng. Tapi saya memiliki kelebihan yaitu tinggi badan saya tidak termasuk pendek. Warna kulit saya sawo matang. Dengan mata sipit, saya juga menjadi mudah dikenal.

Pada suatu hari, waktu itu saya masih duduk di bangku SMP, tetangga saya bercerita kalau saya pernah digunjing oleh seseorang. Orang yang menggunjing saya usianya sebaya dengan saya. Sebut saja namanya Janet. Rumah Janet berada di depan rumah saya. Kebetulan orang tua Janet menyewa tanah lalu membangun rumah sendiri.

Kata tetangga saya : Janet mengatakan bahwa di antara 5 anak perempuan Bapak saya, yang wajahnya jelek adalah saya. Saya tersenyum tidak marah kala itu. Tetangga saya tentunya juga tersenyum.

Biarpun wajah saya jelek, tidak secantik Anggun C Sasmi, tapi hati saya baik. Anggun C Sasmi waktu itu banyak dikenal orang sebagai artis dengan suara emas. Rambut panjang dan giginya yang gingsul menjadi ciri khas Anggun C Sasmi. Antara saya dan Anggun ada persamaan yaitu sama-sama berambut panjang! Hanya itu saja. Selebihnya tidak.

Di dalam keluarga saya, saya dikenal anak yang suka bekerja keras membantu orang tua. Waktu itu Ibu berjualan di pasar. Setiap hari libur saya harus membantu di pasar. Kalau pulang sekolah, saya juga menyempatkan diri mampir ke pasar untuk membantu Ibu meski hanya sebentar. Bila malam hari, saya juga membantu kulakan dagangan. Mengeluh? Oh, tidak. Senang sekali.

Saya sekolah di SMP MUH 3 Yogyakarta. Waktu itu saya libur hari Jumat. Hari Minggu masuk seperti biasa. Semua sekolah Muhammadiyah liburnya hari Jumat. Pernah suatu pagi, saya kelas 3 SMP, saya tertidur pada jam antara 1-3. Saya dibangunkan oleh teman sebangku saya. Alhamdulillah, tidak sampai ketahuan guru. Saya benar-benar lelah, dan harus melek hingga malam karena menunggu dagangan datang waktu kulakan.

Kalau Janet menilai saya hanya fisiknya saja, itu keliru besar. Karena biarpun wajah saya jelek tapi hati saya mulia. Dan dia juga tidak tahu, saya taat beribadah. Itu yang diajarkan orang tua. Semua yang kita miliki harus kita syukuri dengan taat beribadah.

Mengapa saya dan tetangga saya tersenyum dengan kata-kata Janet, yang katanya wajah saya jelek? Kata orang Jawa “wong kuwi ora isa ndelok githok-e dhewe” atau orang itu tidak bisa melihat tengkuknya sendiri. Mengapa demikian? Saya tidak mengatakan kalau Janet itu jelek. Sungguh, saya tidak menilai seseorang hanya berdasarkan fisiknya saja. Janet itu memiliki ciri-ciri sebagai berikut: gigi tonggos/mrongos, kulit hitam, perawakannya pendek, gemuk dan suaranya agak cempreng.

Saya tidak secantik Anggun C Sasmi, tapi saya tidak balik menyerang Janet. Biarlah, toh wajah saya juga ajeg tidak berubah. Kalau saya cantik, kecantikan saya tidak berkurang. Kalau wajah saya dinilai jelek, wajah saya juga tidak semakin jelek. Allah lebih tahu dengan keadaan saya sekarang. Bersyukur dengan wajah pas-pasan lebih nyaman daripada menjadi kerdil karena tidak cantik.

Janet, apa kabar? Sekarang kau berada di mana? Maaf ini kisahku, jadi aku harus menulisnya!

Karanganyar, 12 April 2015