Minggu, 03 Mei 2015

Tips Berhemat dengan Membawa Kotak Makanan dan Botol Minuman

Tips Berhemat dengan Membawa Kotak Makanan dan Botol Minuman
Gambar 1. Kotak Makanan dan Botol Minuman
Ketika mendengar saran orang lain untuk berhemat, rasanya itu sudah saya lakukan sejak kecil. Bahkan di antara anak-anak Ibu dan Bapak, saya adalah anak yang gemi (hemat) tapi tidak pelit. Saya membelanjakan uang dengan bijak. Ketika masih sekolah saya berusaha menyisihkan beberapa koin untuk saya simpam dalam celengan. Bila harus jajan saya akan membeli makanan yang mengenyangkan perut, tidak sekedar ingin mencoba jajanan yang baru.
Sejak kecil Ibu sudah membiasakan kami untuk sarapan. Sarapan pagi memang tidak harus Ibu yang memasak sendiri. Di tahun 80-an, belum ada magic com, magic jar, belum ada rice cooker, belum ada perlengkapan masak yang praktis dengan energi listrik. Padahal Ibu pagi-pagi harus ke pasar untuk berjualan dan Bapak bekerja sebagai tukang kayu.
Biasanya Ibu membelikan sarapan di rumah tetangga. Lebih praktis dan hemat. Namanya juga sarapan, jadi yang dimakan tidak terlalu banyak. Kalau sedang tidak mood makan, satu bungkus nasi untuk berdua. Yang penting bisa untuk menegakkan punggung dan tidak lemas hingga pulang sekolah. Masa saya sekolah dulu, SD sampai SMA, perasaan sekolah sampai jam setengah dua itu santai sekali dan tidak merasa berat. Uang saku kami sangat terbatas.
Setelah Ibu di rumah, Ibu akan menanak nasi dan memasak sayur dan membuat lauk seadanya. Tahu, tempe, telur, dan ayam goreng. Jangan membayangkan semua dinikmati secara berlebihan. Kami, anak-anak Ibu berenam selalu bersyukur setiap menyantap makanan. Bagi kami, betapa nikmat Allah luar biasa. Kami tak pernah berebut dan selalu menerima apa adanya.
Setelah berkeluarga saya tetap membiasakan sarapan di rumah, makan siang dan makan malam dengan tidak berlebihan. Sekarang lebih praktis, memasak beras memakai magic com pada malam hari. Pagi harinya membuat lauk yang praktis yaitu tempe goreng, telur dadar, atau tahu goreng. Saya tidak memasak sayur, cukup membeli di rumah tetangga atau membeli soto/kare.
Kalau sudah sampai kantor, kadang-kadang ada teman yang mengajak sarapan/makan siang ke warung makan. Saya kadang tak bisa menolak ajakan teman. Karena saya sudah sarapan di rumah, kadang perut masih kenyang.
Saya mencuri pengalaman sehari-hari kakak perempuan saya, Mbak Lichah. Di dalam tas kerjanya selalu ada kotak makanan dan botol minuman. Tujuannya adalah bila makan bersama di warung makan ternyata makanan dan minumannya masih ada sisa, maka dimasukkan wadah lalu dibawa pulang. Kakak saya tahu porsi makannya. Bila satu porsi makanan ukurannya jumbo, dia akan menyisihkan dulu nasi dan lauknya, baru yang lain dimakan. Atau sebagian minumannya dituang ke dalam botol, sisanya diminum. Kalau tidak dihabiskan jadi mubazir.
Wah, ternyata hemat juga. Ini bukan berarti pelit. Saya juga melakukan hal yang sama dengan Mbak Lichah. Yang terpenting kotak makanan dan botol minuman selalu dibawa. Teman saya juga sudah paham betul dengan saya, ada yang geleng-geleng kepala. Tapi ada yang sinis dengan kebiasaan saya.  Saya tidak memedulikan tanggapan mereka. Saya nyaman-nyaman saja.
Saya ingat kata-kata kakak saya yang lain, Mbak Anna. Makanan yang sudah kita beli, milik kita. Tak usah malu membawa pulang. Kita tidak mencuri, kenapa harus malu, tapi ya jangan nguris kebangeten. O, benar juga Mbak Anna dan Mbak Lichah.
Karanganyar, 3 Mei  2015