Kamis, 04 Juni 2015

Rumah Tanpa TV, Kok Bisa?


Gambar: Tak ada TV, Yang Ada Printer dan Seterika
Kotak Ajaib
Hampir setiap berkunjung ke rumah teman, saudara, atau tetangga, rata-rata televisi alias kotak ajaib di rumah mereka menyala. Acara atau stasiun TV yang mereka pilih sangat bervariasi. Semua tergantung pada kesukaan masing-masing. Ada beberapa rumah yang tidak menyalakan TV, alasannya adalah ada kegiatan yang tidak bisa diselingi dengan menonton TV atau karena tidur.
Kotak ajaib yang menyajikan beragam acara memang sangat memikat. Mulai dari berita, reality show, hiburan, olahraga dan lain-lain. Dari beberapa tayangan tersebut membuat para penikmat TV akan ketagihan. Apalagi acara TV dimulai pagi hari dan akan berakhir pada dini hari. Bisa dikatakan hampir 24 jam kita disuguhi acara TV bila kita mau terus mengikuti.
Suatu hari teman-teman atau tetangga membicarakan acara TV yang menarik. Mereka seolah-olah minta pendapat saya tentang acara itu. Saya akan menjawab,”Maaf, saya tidak mempunyai TV.”
Biasanya mereka tidak percaya dengan apa yang saya sampaikan.
“Kok bisa di rumah tak ada TV?”
“Ya, bisa saja. Sudah terbiasa hampir 3 tahun di rumah kami tak ada TV.”
“Rasanya gimana, di rumah tak ada TV? Apakah anak-anak tidak protes?”
“Biasa saja. Rasanya nggak gimana-mana. Dulu awalnya anak-anak protes. Sekarang tidak lagi. Mereka terbiasa tidak melihat TV. Si kecil melihat TV bila berada di tempat penitipan anak. Kalau yang besar melihat TV kalau berada di rumah teman, saudara atau kakeknya.”
Rata-rata mereka menanyakan hiburan di keluarga saya. Ada radio, ada komputer, laptop plus modem, internet, musik, buku bacaan. Ada ayam, kelinci, burung/unggas, tanaman dan lain-lain.
Saya, suami dan anak-anak merasa nyaman berada di rumah meski tanpa televisi. Memang awalnya anak saya protes, mengapa kami tak memiliki TV. Dengan penjelasan sederhana dan masuk akal, anak saya bisa menerima dan memahami.
Beberapa waktu terakhir ini, banyak ibu yang mengeluh. Tayangan televisi sekarang banyak yang tidak mendidik. Kekerasan, pergaulan bebas, gosip-gosip, lunturnya budi pekerti dan lain-lain. Akan tetapi tayangan yang positif pun sebenarnya juga banyak. Permasalahannya adalah orang tua tidak dapat mendampingi putra-putrinya  metika melihat TV.
Saya merasa aman karena tak memiliki TV. Namun demikian, saya tetap mengawasi anak-anak ketika mereka sedang membuka internet.  Semoga bermanfaat.
Karanganyar, 4 Juni 2015
Mungkin saya berbeda dengan orang lain. Sungguh perbedaan ini membuat dunia lebih indah.