Senin, 08 Juni 2015

Suami dan Sate

Suami dan Sate
Gambar : Malioboro kala senja
Aku paling benci pada orang yang munafik. Dibilang selingkuh tidak mau, tapi buktinya memang selingkuh. Meskipun tak mengakui hubungan itu, toh dunia telah tahu kalau kamu selingkuh. Mungkin benar kata orang, selingkuh itu memang enak. Bagi laki-laki seperti lagu Wedus, celemotan penyanyi yang menggoyang-goyangkan bokongnya, dengan bibir sensual dan pakaian seksi. Daripada beli wedus lebih baik beli satenya. Menusuk sekali lagu itu! Merendahkan kaum wanita. Bagi perempuan, yang penting terpenuhi materinya setelah itu kelar. Bah!
Aku cuma membatin, kok bisa-bisanya dua teman sekantor laki (Pak Jun) dan perempuan (Rin), menjalin hubungan terlarang alias berselingkuh. Menurut seorang teman yang menjadi ahli percintaan (dibilang ahli, titelnya apa?), fenomena semacam ini kerap terjadi karena ada peluang. Dua orang manusia berlainan jenis, di mana masing-masing sudah memiliki pasangan, tetapi merasa tidak bahagia, akan mencari kebahagiaan di luar.
Kalau sudah klik, maka hubungan tersebut tidak bisa disebut hanya teman biasa. Kata temanku, tak mungkin mereka yang berselingkuh menghabiskan waktu berdua hanya dengan makan siang, ngobrol atau jalan-jalan. Mereka sudah dewasa (oh, dewasa artinya 17 tahun ke atas) pasti akan melakukan hal yang lebih dari sekedar itu.
“Maksudnya?”tanyaku dengan mimik kubuat kaget. Padahal ya sudah tahu.
“Hubungan itu terjalin dan menghasilkan simbiosis mutualisme.”
“Oh,”mataku membulat.
“Halah,  pura-pura tak tahu.”
“Sumpah, aku tak tahu.”
“Yang laki butuh dikeloni, yang perempuan putuh materi. Klop kan.”
“Begitu ya. Sungguh menjijikkan. Kalau dengan pelacur, status perempuannya sama tidak?”
“Pelacur itu kata-kata tidak terhormat. Yang sedikit terhormat gitu, misalnya..... Wanita Idaman Lain.”
“Halah Pak, Gundik atau Gendakan po gak sama?”
“Ya, begitulah kira-kira.”
00000
Pada suatu hari, kami dikejutkan sebuah berita. Rin, teman perempuanku  jatuh dan kakinya patah. Kami sekantor membezuk di rumahnya. Keadaan temanku sungguh memprihatinkan. Setelah dipasang platina pada kakinya yang patah, dia tak bisa beraktifitas. Praktis dia harus libur. Berjalan saja tidak bisa!
Selang dua minggu kemudian aku mendapat pesan singkat dari Rin.
“Nyah, Pak Jun (Pria Idaman Lainnya) pa sudah mati atau masih hidup?”
Keningku berkerut. Berarti setelah menengok bersama-sama teman sekantor, Pak Jun belum menampakkan batang hidungnya lagi ke rumah Rin. Memang kenapa Rin? Bukankah kamu mengelak, dan kamu katakan bahwa kalian memang tak ada hubungan apa-apa. Lantas kalau Pak Jun tidak ke rumahmu, mestinya tidak masalah. Kamu di rumah ada suamimu. Suami yang kau anggap tak bisa memberikan kebahagiaan. Suami yang setia mendampingimu. Meskipun dia juga tahu perselingkuhan itu. Dia hanya diam tak berdaya, karena mulutmu seperti harimau.
Setelah kau tak berdaya, bisakah kamu memberikan kebahagiaan semu untuk Pak Jun? Bisakah kau dipeluk-peluk, dikeloni seperti guling? Padahal kamu berharap Pak Jun ada di dekatmu. Jangan berangan-angan kosong, Rin. Camkan itu! Kamu ibarat sate kambing yang dibeli. Dibayar, habis, ditinggalkan begitu saja.  Sakit? Tak usah sakit hati. Karena sejak awal kamu tahu. Kamu sudah membuat kesepakatan. Senang bersama-sama, susah sama pasangannya sendiri. Selesai, beres kan?
Ingat, Pak Jun bukan suamimu. Pak Jun punya isteri yang sah. Dia akan kembali pada isterinya. Atau mencari sate di warung yang lain. Sekali lagi Pak Jun tidak akan membeli wedus. Kalau membeli wedus, jelas repot mencari rumputnya. Itu kata penyanyi seberang, seberang sungai barangkali.
Rin, memang susah dan tak mungkin kamu menuntut macam-macam pada Pak Jun. Karena dia laki-laki dan punya uang. (Selesai)
Karanganyar, 7 Juni 2015
Cerita ini hanya fiktif belaka, kalau ada persamaan nama, itu hanya kebetulan saja. Cerita ini juga tayang di kompasiana.com: http://www.kompasiana.com/noerimakaltsum/rin-selingkuhannya-dan-suami_5575b1252f9773d754e599ee