Selasa, 02 Juni 2015

Tips Untuk Ibu-ibu Bekerja Yang Tidak Memiliki Asisten Rumah Tangga


Gambar : Makanan Halal dari Suami

Pagi ini saya berbelanja sayuran pada tukang sayur yang biasa membuka lapak di depan rumah tetangga. Saya bertemu dengan orang-orang hebat, ibu-ibu yang bekerja dan di rumah tidak memiliki asisten rumah tangga. Obrolan/bincang-bincang kecil dimulai.
Dari beberapa kalimat-kalimat yang keluar dari ibu-ibu, sempat saya catat dalam hati. Karena saya biasa menulis dengan hati, maka catatan dalam hati mulai saya buka. Bincang-bincang pagi ini tentang pekerjaan rumah yang tak kunjung selesai. Kalau mau jujur dan mau mengerjakan, sebenarnya pekerjaan rumah tangga tidak ada selesainya. Sehari diberi waktu yang sama, yakni 24 jam terasa kurang.
Tinggal ibu-ibu pandai membagi waktu. Kebetulan ibu-ibu yang berbelanja adalah ibu-ibu bekerja. Dengan demikian libur nasional benar-benar dimanfaatkan dengan baik. Libur nasional, hanya libur bekerja di kantor. Pekerjaan di rumah tetap menunggu untuk dikerjakan.
Agar pekerjaan rumah dapat diselesaikan dengan sukses, ada beberapa tips dari ibu-ibu kreatif yang ngobrol tadi. Beberapa tips tersebut adalah:
1.      Bekerja ikhlas tak perlu menggerutu
2.      Segera mulai bekerja tak perlu menunda
3.      Dikerjakan sekarang atau nanti, akhirnya juga dilakukan sendiri maka perlu dicicil pekerjaannya
4.      Kalau lelah luangkan waktu istirahat
5.      Mengkonsunsi minuman yang cukup untuk memulihkan tenaga
6.      Jangan ngoyo
7.      Jangan memaksakan diri
8.      Kerjakan semampunya
9.      Bila suami sering protes ini itu katakan dengan sopan jangan membentak membuka perang
10.  Kalau suami tak membantu pekerjaan rumah tangga, biarkan saja
11.  Kalau anak-anak tak membantu pekerjaan rumah tangga, tak usah pasang aksi
Semoga yang kita lakukan mendapat balasan dari Allah. Sejatinya pekerjaan rumah tangga itu kewajiban suami bukan isteri. Mengapa begitu? Karena suami memiliki kewajiban untuk memenuhi sandang, pangan, papan buat keluarganya.
Mulai dari pakaian, suami wajib menyediakan pakaian yang layak untuk keluarganya. Termasuk bila kotor mencuci lalu menyeterikakan. Untuk makanan, mestinya makanan yang siap untuk disantap. Kalau makanan itu masih mentah, berarti suami mengusahakan untuk mematangkannya/memasak. Dan yang terakhir adalah rumah, tempat untuk berlindung. Yang penting suami menyediakan tumah yang layak untuk dihuni. Entah itu rumah sendiri atau mengontrak, yang penting layak huni dan bersih.
Maka yang merasa menjadi suami sekarang introspeksi. Sudahkah memberikan sandang, pangan dan papan untuk keluarganya secara layak? Untuk itu suami yang baik jangan sok alias mentang-mentang.
Kalau ibu-ibu mau melakukan pekerjaan rumah tangga dengan ikhlas, semoga usaha ibu-ibu mendapatkan balasan dari Allah. Ibu-ibu yang baik dan kreatif, kalau sudah selesai mengerjakan pekerjaan rumah lalu menulislah minimal satu paragraf.

Karanganyar, 2 Juni 2015