Minggu, 30 Agustus 2015

Berkah Terindah dari Sedekah


Gambar 1. Bersama keluarga besar
(Sumber: dok.pri)
Kehilangan sesuatu yang amat berharga rasanya kecewa sekali. Tapi semua kita kembalikan pada pemilik yang sesungguhnya. Sejatinya semua yang kita miliki hanyalah titipan dari Allah. Sebaliknya, kalau kita mendapatkan sesuatu pasti kita akan merasa gembira, suka cita dan bersyukur.
Beberapa waktu yang lalu, tepatnya hari Selasa 3 Februari 2015, saya kehilangan laptop dan kamera saku. Kedua barang itu diambil pencuri saat saya meninggalkan rumah untuk kepentingan di tempat kerja. Rumah dalam keadaan kosong. Awalnya saya merasa kecewa. Tapi saat itu pula saya memutuskan untuk berdamai dengan musibah dan pasrah. Mungkin semua itu memang belum rezeki saya. Padahal laptop tersebut berisi data-data sangat penting bagi saya sebagai guru dan penulis. Ya, saya ikhlaskan saja. Doa saya semoga Allah segera menunjukkan hikmah dari peristiwa kemalingan ini.
Sehari setelah saya kemalingan, saya ditelepon polisi (Satreskrim Kota Solo). Ketika polisi tersebut menelepon saya, dia berada di sekolah tempat saya mengajar. Akhirnya saya dan suami menemui 3 polisi di rumah. Singkat cerita : saya diminta untuk terus berdoa agar barang-barang saya yang hilang dapat kembali lagi. Mereka tidak mengatakan malingnya sudah ketangkap atau belum dan barang-barang saya sudah ketemu atau belum. Tapi saya memiliki keyakinan kalau barang saya sudah ada di tangan polisi.
Gambar 2. Keluarga kecilku
(Sumber: dok.pri)
Saya menduga polisi sudah menemukan laptop saya. Mengapa saya yakin demikian? Sebab polisi tahu alamat tempat kerja saya pasti sesudah membuka laptop saya. Tidak mungkin kan mereka tahu alamat saya dan saya kehilangan barang? Kalau mereka tahu saya kehilangan barang, lantas itu info dari mana? Saya dan suami belum melapor kehilangan di kantor polisi, lo. Data saya tentang tulisan-tulisan, sebagian besar ada alamat tempat kerja saya. Ya, tidak mungkin laptop saya belum ada di tangan polisi. Tapi saya tidak menunjukkan rasa sok selidik dan sok tau. Saya ikuti saja yang dikatakan Pak polisi.  
00000
Sebelum memutuskan untuk membeli laptop yang baru, bila malam hari saya meminjam laptop yang dipakai suami. Laptop yang hilang milik suami. Sudah lama kami bertukar laptop. Sehari tak memegang laptop rasanya hampa. (apa mungkin penulis berhenti menulis gara-gara tak punya laptop sendiri). Alhamdulillah berbulan-bulan kami nyaman berbagi laptop.
Empat bulan kemudian, suami diberi tahu polisi lewat pesan singkat bahwa laptop kami sudah ketemu. Alhamdulillah, benar juga pikiran saya dulu. Polisi hanya memerlukan waktu yang tepat untuk memberi tahu kalau laptop sudah ketemu. Akhirnya awal Ramadhan kemarin, laptop kembali ke tangan saya. (Ya Allah, Kau mudahkan kami mendapatkan laptop dengan sedekah kecil).

Gambar 3. Di kantor polisi, laptopku diamankan
(Sumber: dok.pri)
Saya tak perlu membeli laptop lagi. Tapi saya harus segera membeli kamera lagi. Tanpa kamera hidup ini kurang penuh warna. (Saya dan Faiq suka memotret). Saya terus bersabar, berharap ada rezeki nomplok datang sesegera mungkin. Suatu hari Faiq bilang menginginkan kamera DSLR seperti yang diidam-idamkan dulu. Sebenarnya saya ingin memenuhi keinginan itu, tapi apa daya, saya belum memiliki dana.
Memang sejak lama saya ingin membeli kamera digital untuk Faiq (putri saya, 15 tahun). Saya berjanji bila ada rezeki akan saya belikan. Sebenarnya saya menunggu tunjangan sertifikasi saya yang belum cair. Karena ada masalah teknis, tunjangan tersebut belum cair. Saya cukup menyerahkan semua pada Allah. Kalau tunjangan itu masih rezeki saya, insya Allah cair juga. Tapi seandainya belum rezeki saya, saya harus menerima rezeki yang lain. Karena pada dasarnya tunjangan sertifikasi ini tidak bisa diharapkan (apalagi untuk guru swasta seperti saya).
Pertengahan bulan Agustus ini saya ditelepon teman sekantor. Malam itu teman saya meminta saya untuk mengecek rekening saya lewat ATM, karena ada dana yang masuk selain tunjangan untuk 6 bulan terakhir. Kali ini saya mengajak suami untuk mengecek saldo. Alhamdulillah, ada pemasukan dana yang jumlahnya amat besar. Saya segera memberitahukan pada Faiq kalau saya mau memenuhi membelikan kamera digital (Katanya harganya sekitar 6-jutaan, itu saja lensanya masih yang bawaan). Tak apalah, yang penting saya tidak ingkar janji.
Selain rezeki tunjangan sertifikasi, suami yang juga guru mendapatkan pembagian warisan dari kakek/neneknya. Karena bapak mertua sudah meninggal maka warisan itu jatuh pada suami dan tiga saudara kandungnya. Jumlahnya tidak sedikit. Dengan datangnya rezeki hampir waktunya bersamaan di bulan Agustus ini, rasanya bulan Agustus ini penuh dengan berkah. Tak lupa kami keluarkan sedekah. Semoga ujian nikmat yang melimpah ini tak membuat kami lupa diri. Kami bersyukur dan kami jauhi kufur.
Gambar 4. Bersama murid di rumah makan bakso, syukuran
(sumber: dok.pri)
Suatu hari saya memberi tahu kakak perempuan saya. Rumah kakak bersebelahan dengan rumah bapak dan ibu. Saya mau mengirim sejumlah uang buat bapak dan ibu lewat rekening kakak saya. Tapi sayang karena saya repot, sampai beberapa hari saya belum sempat mengirimkan uang (transfer).
Pada suatu malam, tiba-tiba kakak perempuan saya menelepon. Dia menanyakan sebenarnya tujuan saya mau mengirim uang buat apa dan jumlahnya berapa. Saya menyebutkan jumlah dan maksud/tujuan mengirim uang.
Kemudian kakak perempuan saya malah bercerita bahwa dia ditawari rumah letaknya persis depan rumah bapak dan ibu. Tetangga bapak akan menjual tanah dan rumahnya. Kakak saya menyebut suatu bilangan, harga penawaran itu. Dia sudah memiliki dana separo. Harapannya dana kekurangan bisa dipikul saya dan 4 saudara saya lainnya.
Ketika saya mengatakan pada suami (sekaligus minta izin), suami setuju malah dia menyebutkan angka yang di luar dugaan saya alias banyak sekali. Bagi suami sendiri berita ini sangat menggembirakan, sebab dia juga ingin berinvestasi berupa tanah. Kebetulan ini ditawari di dekat rumah orang tua. Tentu saja rumah tersebut bakalan ramai untuk berteduh cucu-cucu bapak dan ibu yang kuliah di Yogya (termasuk anak saya kelak, 3 tahun lagi).

Gambar 5. Sedekah mempererat tali silaturahmi
(Sumber: dok.pri)
Tiba-tiba saya ingat kata-kata kakak perempuan saya dulu. Allah mengatur rezeki tiap manusia. Rezeki itu bukan untuk dirinya sendiri. Rezeki harus didistribusikan pada orang lain yang berhak. Jangan takut kekurangan. Sebab yang kita miliki itu justeru yang kita sedekahkan. Rezeki kita akan memberikan barokah/berkah bila kita sedekahkan. Ketika laptop saya ketemu, kakak saya juga bilang itulah dahsyatnya sedekah.
Tidak berlebihan kalau saya mengatakan apa yang terjadi pada keluarga saya selama ini adalah,” Berkah Terindah dari Sedekah.”



Karanganyar, 30 Agustus 2015