Rabu, 12 Agustus 2015

Sepotong Kaki Diamputasi

Sepotong Kaki Diamputasi
Oleh : Noer Ima Kaltsum
Setelah mendapatkan musibah, kakinya tertimpa robohan bangunan kolam, kakinya harus diamputasi. Permintaannya untuk mempertahankan kakinya agar tak diamputasi ternyata keliru. Ya, siapa yang mau kehilangan kaki? Tentu saja tidak ada yang mau.

Dokter telah memberikan banyak masukan tentang kakinya. Kakinya bukan hanya patah, melainkan remuk. Kalau untuk dioperasi itu tidak mungkin. Dokter hanya menyarankan untuk pasrah dan segera diambil tindakan.

Laki-laki itu tetap pada pendiriannya, tidak mau diamputasi. Jadilah selama beberapa hari dokter membatalkan sarannya. Mereka menurut kepada pasiennya. Entahlah, apa yang dipikirkan laki-laki itu? Beberapa hari untuk menstabilkan kondisi membuat luka pada kakinya mengeluarkan cairan dan berbau busuk.

Sekali lagi dokter mengatakan tidak ada tindakan lain selain amputasi. Laki-laki itu sejak lama mengidap diabetes. Luka pada kaki setelah tertimba robohan bangunan berakibat fatal. Akhirnya laki-laki itu dan keluarganya menyetujui tindakan amputasi. Berat rasanya kehilangan satu kaki.

Kehilangan satu kaki akan lebih baik daripada mempertahankan satu kaki yang sudah remuk dan tak bisa kembali. Menimbulkan bau busuk, cairan, dan akhirnya kakinya tak berfungsi.

Laki-laki itu kini berada di atas kursi roda. Sesekali menggunakan bantuan kruk untuk membantunya berjalan. Laki-laki itu dapat beraktifitas lagi meski dengan satu kaki.

Suatu hari dia pergi ke makam di dekat rumahnya. Bukan untuk berziarah kubur, bukan untuk mengingat kematian. Di depan gundukan tanah dia menatap kosong.
“Bukan Fulan atau Fulanah yang berada di dalam liang ini, melainkan sepotong kakiku.”

Laki-laki itu meneteskan air mata. Kedua anaknya yang berada di sampingnya memegang tangan kiri dan kanannya.  (Selesai)

Karanganyar, 12 Agustus 2015
Kisah nyata seorang tetangga