Sabtu, 19 September 2015

SMS Nyasar, Selingkuh

Aku paling kemropok kalau dibilang bengese kurang abang. Aku bukan artis. Aku hanya guru biasa, statusku juga hanya GTY. Gajiku tak cukup untuk membeli benges mahal yang warnanya merah menyala dan awet di bibir. Paling-paling kalau sudah makan, bibir dilap, benges ikut di tisu. Tapi tidak lantas wajahku jadi pucat! Karena dengan tersenyum saja wajahku sudah ceria, tak perlu polesan kosmetik tebal.
Aku paling benci kalau ada orang yang membandingkan antara aku dengan perempuan lain. Apalagi itu yang bilang laki-laki, bukan suamiku pula. Kalau ada laki-laki yang terlalu reseh dengan penampilanku, itu artinya laki-laki kurang kerjaan dan pasti tak bahagia dengan isterinya.
Apa ada laki-laki semacam itu? Tentu saja ada. Sebut saja Hari. Hari temanku di kantor. Sepertinya dia tak bahagia dengan kehidupan rumah tangganya. Itu kata teman-teman. Aku sendiri tak tahu.
Secara ekonomi Hari dan isterinya sudah mapan. Tapi di usia perkawinannya yang sudah matang, keduanya belum dikaruniai momongan. Isteri Hari adalah seorang pegawai bank. Dahulu isteri Hari pernah menjalani operasi untuk mengambil kista di rahimnya.
Beberapa tahun yang lalu Hari mengadopsi seorang bayi yang baru saja dilahirkan. Kebetulan ibu dari si bayi adalah tetangga orang tuanya. Setelah bayi tersebut dibawa pulang, Hari dengan sengaja memutus kontak antara ibu dan anak.
Bayi Hari ternyata mengalami downsyndrom. Di usia 8 tahun anak itu baru bisa berjalan. Tak banyak kata-kata yang keluar dari gadis kecil itu. Sekedar bapak, mbak, maem, mah. Kadang ungkapan isyarat keinginan anak tak bisa Hari respon. Anaknya frustasi. Marah lalu mengamuk.
Berkali-kali Hari memakai jasa asisten rumah tangga, gonta-ganti. Tidak ada yang kerasan. Maklum anak Hari hiperaktif. Sang asisten rumah tangga kewalahan menghadapi anak Hari. Biarpun diberi bayaran tinggi, mereka tak sanggup untuk melayani anak Hari. Kalau dikerasi, kok ya kebangetan. Kalau tidak dikerasi, si asisten remuk sendiri. Gerakan anak Hari tak bisa dikendalikan.  
Akhirnya Hari dan isterinya menyekolahkan anaknya ke SLB sekaligus anaknya tinggal di YPAC. Setiap hari Jumat sore-Minggu anak Hari tinggal di rumah. Senin-Jumat siang anak Hari tinggal di YPAC.
00000
Teman-teman sudah mencium kedekatan Hari dengan beberapa perempuan beristeri. Aku tak mau mengikuti perkembangan kisah asmara Hari. Bagiku cukup tahu saja. Beberapa kali desas-desus berhembus, Hari tetap mengelak. Bahkan teman sekantor juga ada yang dekat dengan Hari. Mungkin keduanya sama-sama gila. Sudah pernah kepergok saja masih mengelak. Gila benar tuh.
Aku paling benci kalau Hari membandingkan aku dengan perempuan yang mau diaturnya. Perempuan itu tak lain teman sekantor. Perempuan itu (mungkin) cantik. Dulu sebelum dekat dengan Hari perempuan itu lugu. Tapi sekarang beda banget. Kayaknya gak masuk akal. Gaji perempuan itu berapa? Sama dengan aku, tak lebih dari lima ratus ribu rupiah. Tiap bulan facial, creambath, pakai bedak tebal dan lipstick tebal.
Aku tersenyum, hem. Beruntung aku bisa mengendalikan diri. Kalau Hari mengatakan mukaku pucat karena tidak pakai lipstick aku tak pernah menanggapinya. Bahkan aku tidak mengatakan,”lihat perempuan itu. Kayak badut! Apa yang membuatmu tertarik?”
Memang suatu ketika aku pernah memakai benges warna merah.  Lipstick yang kumiliki, jarang sekali aku pakai karena suami tidak mau aku berdandan norak. Apalagi seperti ondel-ondel. Busyet, suamiku memang ingin aku tampil apa adanya. Jangan mengada-ada hanya karena omongan orang yang kurang bahagia.
Benar dugaanku, Hari memujiku. Sebaliknya di ruangan kelas murid-murid bersorak. Siswa yang duduk di depan meja guru berkata setengah berbisik,”Bu, nggak pantas pakai lipstick merah.” Belum lagi teman-teman kantor yang setengah memprotes, berbisik,
“Pakai lipstick merah, norak Bu.”
Plong! Lega rasanya, aku diperhatikan murid dan teman-temanku. Sedangkan suara Hari tak ada yang mendukungnya.  
Tak ada artinya aku mengatakan semua itu di depan Hari. Aku cukup menulis status di BBM. Intinya aku guru dan penulis. Aku beda dengan artis. Perbedaannya terletak pada bedak dan lipstick.
Tanpa permisi Hari mengomentari statusku. Beberapa hari statusku sama. Dan Hari mengomentari dengan kata-kata yang sama. Terakhir aku nulis status,”orang yang bahagia tak akan mengomentari yang bukan ladangnya.”
Pet! Hari tak memberikan komentar sedikitpun. Mungkin dia tersinggung. Tapi ini dinding-dindingku sendiri. Aku tak bermaksud menyinggung siapapun. Daripada aku teriak-teriak membela diri, lebih baik aku diam, tapi tulisanku bisa dibaca.
00000
Aku paling benci dengan orang munafik. Kadang aku berpikir, kok ada orang seperti itu? Diuji dengan bermacam hal, tetap saja tak mau introspeksi.
Beberapa bulan yang lalu Hari menjalankan ibadah umroh. Pikirku, Hari pasti sudah berubah. Ternyata tidak. Malah semakin menjadi. Padahal selama pelaksanaan ibadah di tanah suci, ada beberapa teguran.
Aku memang lugu apa adanya. Tapi sungguh, aku ingin berbuat yang terbaik buat keluargaku terutama suamiku. Aku tak mau menyakiti suami. Aku bahagia dengan kehidupan ini. Kehidupan tanpa kemunafikan.
Siang tadi, seperti biasa setelah tidak mengajar, aku membuka internet di kantor. Tiba-tiba Hari mendekatiku. Huh, apalagi?
“Bu, maaf. Tadi saya mengirim sms ke nomer jenengan. Tadi salah kirim, seharusnya bukan di nomer jenengan.”
Spontan aku membuka hape. Tak ada pesan masuk.
“Tak ada pesan masuk, kok Pak. Mungkin tidak terkirim.”
Waktu terus berlalu. Hari sudah pergi meninggalkan sekolah. Aku masih membuka berita lewat internet. Tiba-tiba hapeku bergetar. Aku membuka pesan yang masuk. Wow, dari Hari. Berarti ini yang dibilang Hari salah kirim. Stt, sms nyasar!
Isinya bikin merinding. Aku buru-buru memberi tahu temanku.
“Pak, Pak Hari tadi bilang salah mengirim pesan. Seharusnya pesan tidak dikirim padaku. Tapi tadi memang belum ada pesan yang masuk, pesannya baru saja sampai.”
“Coba isinya apa?”
“mama sudah di lab belum? Jagong sama siapa Ma? Kok kemarin gak cerita.”
“Pak, mestinya itu bukan untuk isterinya. Lalu buat siapa?”
“Oh, itu. Buat orang PDAM kalee.”
Aku ndak mudeng maksudnya. Kutanyakan maksud sms itu pada temanku yang lain.
“Oh, itu. Buat orang PDAM. Bahkan ada orang yang bilang kalau isterinya Hari bekerja di PDAM.”
“Badalah. Jadi Pak Hari itu ada sesuatu dengan orang lain to?”
“Kok dirimu baru tahu. Itu sudah lama.”
“Pantas saja dia nanya seperti itu. Takut kalau aku tahu cerita tentang perempuan itu.”
Bagaimanapun juga aku harus bercerita pada suamiku tercinta tentang sms nyasar ini. Agar kelak kalau ada sms nyasar, kebetulan suami yang membuka, suami tidak main curiga dan asal tuduh aku berselingkuh.
Ketika aku ceritakan pada suami tentang sms nyasar tadi, mungkin dia akan bilang Hari lagi Hari lagi. Anehnya suami malah bilang,”sepertinya aku mengenal perempuan yang dimaksud. Dia bernama Rosa, pegawai PDAM yang nyambi bekerja di laboratorium. Belum lama ini suami Rosa meninggal. Bla-bla-bla. “
Plong, lega sudah. Rasa penasaranku hilang. Kalau dulu aku selalu ingin teriak-teriak memaki Hari, sekarang aku terenyum dalam hati dan mencibir.
“kau tak lebih baik dari penilaianku. Terima kasih atas sms-mu yang nyasar.”
(SELESAI)
Karanganyar, 19 September 2015

http://www.kompasiana.com/noerimakaltsum/sms-nyasar-selingkuh_55fd7a0c4223bd2f1eec389a