Senin, 14 September 2015

Tentang Bibir Merah

 Laki-laki setengah abad itu dekat dengan teman sekantor (karyawan). Entah itu hanya TTM atau ada hubungan spesial, aku juga tak tahu. Yang jelas, teman sekantor ini penampilannya menarik. Memakai bedak tebal dan berbibir merah menyala. Wuih, luar biasa.
Suatu hari, beberapa orang murid yang datang ke rumahku sempat bilang,”Bu, Bu Rina itu kalau pakai lipstik kok sampai pipi juga. Dan itu yang dipakai bedak atau labur?”
“Wah, gak tahu ya. Tanya Bu Rina sendiri saja,”kataku.
Bayangkan, perempuan yang disangka Hari cantik ternyata dinilai murid seperti itu. Biarlah, Hari merasa Rina cantik di matanya.
Sudah berapa kali saja Hari bilang padaku kalau mukaku pucat karena bibirku kurang merah. Lipstik yang yang menempel di bibirku kurang menyala. Aku sudah menjawab berulang-ulang kalau aku guru, dan suamiku tak suka bila aku berdandan menor. Suamiku tahu karakterku yang sederhana. Laki-laki itu melarang aku berdandan ala badut.
“Pucat, gak pake lipstik.”
“Biarin. Suami saya menerima saya apa adanya.”
“Tapi masukan orang juga perlu dipertimbangkan.”
“Oh, tidak perlu. Saya lebih menurut suami saya daripada orang lain.”
Aku benar-benar jengkel. Aku tak mau debat kusir dan menanggapi omongan Hari yang kian ngelantur. Bagiku menulis status di BBM cukup membuatku lebih tenang. Ini status yang kutulis ulang karena Hari mengatakan hal sama, katanya mukaku pucat karena tak pake lipstik. “Aku guru dan aku penulis. Aku bukan artis. Penulis tidak memerlukan benges tebal, yang penting karyanya.” Hari kok ya usil ngomentari statusku.
Aku menulis status lagi dengan nama samaran.
“Jon Koplo itu lagi kumat. Karena Cempluk masuk kerja lagi setelah izin selama sebulan karena sakit. Koplo bilang Nikole pucat karena gak pake lipstik. Kasihan, mungkin Koplo kurang bahagia di rumah.” Luar biasa, tak ada komen dan tanggapan.
Pagi harinya, Hari tidak masuk ke kantor karena sakit. Rina bilang kalau kemarin Hari diteror oleh seorang perempuan lewat BBM. Status itu yang membuat Hari kondisinya drop. Sekarang Hari berada di rumah sakit daerah.
(Maka dari itu, tak usah mengatakan sesuatu yang menyakitkan orang lain. Hati-hati dalam berlisan. Ketika kamu menyakiti hatiku, aku tetap kuat. Begitu baca statusku, kamu terus limbung dan ambruk).
(SELESI)
Karanganyar, 14 September 2015