Selasa, 06 Oktober 2015

Belatung

Malam ini adalah malam takbiran, malam yang ditunggu banyak orang. Seperti biasanya, di masjid-masjid, mushola dan langgar, orang-orang melakukan takbir bersama sampai pagi hari. Apalagi sekarang di sekolah-sekolah yang berbasis agama, juga mengadakan takbir keliling dengan jalan kaki membawa obor. Siswa-siswa dengan semangat mengelilingi kampung. Mereka berseragam abu-abu putih.
Adanya kegiatan takbiran semacam ini, bagiku merupakan berkah tersendiri. Aku bisa mengumpulkan barang-barang bekas yang digunakan untuk makan dan minum mereka. Tempat minuman plastik dan kardus tempat kudapan dan nasi.
Aku tak perlu berkeliling mengumpulkan barang bekas, dari tempat pembuangan sampah satu ke tempat pembuangan sampah yang lain. Aku tak perlu mengorek-orek, memilah-milah sampah seperti saat memulung di tempat pembuangan sampah. Di samping barang rongsokannya masih bagus, hasilnya juga lumayan.
Besok paginya, atau beberapa hari ke depan selama hari tasrikh, masih ada orang/pengurus/panitia kurban yang akan menyembelih hewan kurban. Biasanya sampah plastik dan kertasnya bisa aku ambil. Aku harus sabar mengumpulkan barang bekas ini. Mau apalagi? Aku tidak boleh mengeluh karena ini mata pencaharianku. Pemulung.
Aku masih beruntung, bisa mengambil dan memilah sampah di tempat pembuangan sampah di kompleks perumahan. Di tempat-tempat atau kampung tertentu, ada larangan pemulung masuk kawasan tersebut.
00000
Hari ini hasil pengumpulan plastik dan kardus lumayan banyak. Beberapa orang perumahan yang aku temui memberikan makanan kecil dan nasi bungkus. Bagiku, ini adalah rejeki dari Yang Maha Kaya, yang harus aku syukuri. Biasanya nasi bungkus dengan lauk daging sapi atau kambing berupa gulai, tongseng, semur, atau empal.
Sudah beberapa hari aku tidak mencari sampah/barang-barang yang bisa aku jual di tempat pembuangan sampah. Seperti hari-hari sebelumnya, setiap aku menuju tempat pembuangan sampah di perumahan, aku biasa berhenti di depan rumah yang ramah lingkungan. Sebenarnya rumah yang ramah lingkungan ini berada di dekat sawah. Halamannya yang luas ditanami pohon-pohon tahunan yang menghasilkan buah.
Meskipun pohonnya banyak, sampah daunnya banyak, tetapi rumah itu asri dan teduh. Di halaman tersebut terdapat tempat penampungan sampah khusus plastik dan kertas. Sampah daun atau bahan organik ditempatkan di dalam tong besar. Sampah daun/bahan organik tersebut digunakan untuk membuat kompos.
Setiap aku mencari rongsokan di tempat penampungan sampah rumah itu, aku mendapatkan sampah yang masih bersih. Sebab plastik dan kertas tersebut tidak bercampur dengan sisa-sisa makanan atau minuman.
Setelah selesai, aku menuju tempat pembuangan sampah di perumahan. Dari jauh aku sudah mencium bau yang sangat menyengat. Sebagai seorang pemulung, hal semacam itu sudah biasa. Bagi sebagian orang, kehidupan seorang pemulung identik dengan kumuh, dan bau tak sedap.
Tempat pembuangan sampah di perumahan berupa rumah kecil tanpa sekat. Ukuran 2m x 2m, satu meter dari tanah dindingnya berkeramik. Lantainya juga keramik (bekas). Tempat pembuangan sampah di perumahan ini jauh lebih baik dibandingkan dengan rumahku.
Tiba di depan pintu TPS, bau tak sedap sangat menusuk hidung. Lalat ada di mana-mana. Dari sampah-sampah itu kulihat keluar belatung-belatung. Sebenarnya itu bukan pemandangan yang luar biasa. Lihat belatung di TPS, itu lumrah dan biasa.
Lalat, semut, belatung dan serangga lainnya ikut berpesta pora menikmati sampah-sampah. Tapi pagi ini jumlah mereka luar biasa. Ternyata dari bungkus-bungkus makanan, baik dari plastik, kertas maupun daun keluar belatung dalam jumlah banyak.
Ada sesuatu yang tidak beres dengan orang-orang perumahan. Mengapa orang-orang perumahan tidak belajar ramah lingkungan pada si pemilik rumah dekat sawah? Seharusnya sisa-sisa makanan itu tak perlu berada dalam bungkusan. Biarkan sisa-sisa makan diuraikan mikroorganisme. Dikumpulkan dalam suatu wadah, lalu di buang di tempat penampungan khusus. Dengan demikian bila terjadi pembusukan dan keluar belatung kejadiannya tidak seperti ini.
Dalam hitungan detik, belatung itu memenuhi ruangan TPS. Jumlahnya bertambah lebih cepat. Belatung-belatung tersebut sebagian keluar dari TPS. Mereka berbaris, menuju tempat yang lebih luas.
Sepedaku tak luput dari serangan belatung. Belatung-belatung itu sebagian menempel di sepedaku, lalu bersembunyi di antara tumpulan botol plastik, gelas plastik dan kertas/kardus. Tiba-tiba perutku mual, rasanya mau muntah. Belum lagi, kepala serasa kesemutan.
Kuambil kardus, kukibaskan pada sepeda. Aku berharap belatung itu jatuh dan tidak menempel di sepeda dan bronjong (keranjang). Aku berteriak girang. Berhasil. Buru-buru aku meninggalkan TPS. Aku naik di atas sepeda. Kukayuh sepedaku dengan sekuat tenaga.
Aku menoleh ke belakang. Ternyata belatung-belatung itu mengikutiku.
“Pak Tua. Pak Tua…”suara seorang ibu. Aku tak menghiraukannya.
Aku ingin selamat dari kejaran belatung. Sampai di rumah, di gubug reyot, aku berhenti. Dari jauh, kulihat belatung-belatung itu berjalan bukan lagi ke arahku. Belatung-belatung itu berjalan ke arah rumah-rumah tetanggaku yang kaya.
Aku sedikit bernafas lega. Kusandarkan sepedaku pada sebatang pohon. Aku masuk rumah. Pemandangan di TPS berpindah di rumahku. Dalam rumah, di kamar, di ruang tamu, di dapur dan di kamar mandi, semua diserbu belatung.
Ingin rasanya aku menjerit. Ini mimpi atau nyatakah? Anak dan isteriku tidak ada di rumah. Kebetulan mereka bertiga berada di rumah mertua.
Kulihat di dalam kamar, ada sepotong daging yang sudah busuk di dalam wadah plastik yang terbuka. Dari sepotong daging tersebut keluar belatung. Di ruang tamu, di dapur dan kamar mandi juga sama kondisinya. Belatung-belatung itu keluar dari sepotong daging yang busuk, yang berada dalam wadah plastik terbuka.
00000
Isteriku memijit-mijit badanku. Apa yang telah terjadi, aku tak tahu. Ternyata beberapa saat yang lalu aku tak sadarkan diri. Isteriku pulang di saat yang tepat. Aku berada di ruang tamu yang bersih.
“Bapak capek ya? Kelelahan lalu tidur di bawah pohon.”
Aku mengingat-ingat kejadian tadi.
“Sul, kamu sudah membersihkan ruangan-ruangan itu bukan?”
“Memang ada apa, Pak? Kok dibersihkan segala. Rumah kita ya seperti ini adanya.”
“Maksudku kamu sudah membersihkan belatung-belatung itu, bukan?”
“Belatung apaan to Pak.”
Aku diam, tak melanjutkan pembicaraan. Sudahlah, lupakan masalah belatung tadi. Dua anakku bermain di rumah tetangga. Isteriku masuk kamar. Kudengar isteriku menjerit histeris.
“Belatung…….!”
Aku bangkit dan beranjak menuju kamar. Benar kata isteriku, belatung-belatung itu memenuhi kamar tidur. Belatung, itu muncul dari daging atau apa saja yang busuk. Mungkinkah belatung itu keluar dari daging yang sudah aku goreng sampai kering (abon)? Padahal daging itu sudah diawetkan.
Atau mungkin belatung itu keluar dari daging yang tidak baik, asal muasalnya tidak baik, misalnya mencuri? Ya, waktu mencari barang rongsokan di masjid, aku sempat mengambil daging yang bukan hakku. Jumlahnya lumayan banyak, dan tidak ketahuan orang. Tapi aku lupa, bahwa Tuhan Maha Tahu dan Maha Melihat. (SELESAI)
Karanganyar, 10 Oktober 2014