Kamis, 08 Oktober 2015

IIDN Solo, 1 Jam Bersama Majalah Hadila

Gambar 1 : IIDN dan IIDMejeng
Sumber: dok.Yuni Astuti
Beberapa hari yang lalu ketua IIDN Solo, mbak Siti Nurhasanah memberitahukan kepada anggota bahwa Majalah Hadila akan bersilaturahmi ke IIDN Solo. Setelah melalui perundingan dan beberapa pertimbangan, disepakati wawancara dilaksanakan di rumah Ibu Astuti yang biasa dipanggil Uti, pada hari Kamis, 8 Oktober 2015 setelah Shalat Ashar.

Oleh karena tidak semua anggota IIDN Solo bisa hadir, maka bagi yang waktunya longgar diminta untuk bisa datang ke rumah Uti Astuti. Alhamdulillah, saya sendiri berusaha untuk bisa hadir. Walaupun demikian, ada sedikit kendala sebelum berangkat menuju rumah Uti Astuti.
Saya berencana berangkat pukul 2 siang karena saya selesai mengajar pukul setengah dua.  Dalam perjalanan pulang dari sekolah, saya harus menjemput Nok Faiq di tempat penitipan anak. Saya harus menunggu Nok Faiq karena dia diajak makan siang bersama temannya.

Sampai rumah pukul dua lebih sedikit.Ternyata suami sudah bersiap-siap. Sebelum berangkat saya membuka nasi bungkus yang saya beli di warung. Baru beberapa suap nasi melewati kerongkongan, datanglah adik ipar saya, adik suami. Dia dari takziah dan bermaksud mampir saja. Nasi bungkus saya tinggal begitu saja. Saya membuatkan minuman dan menemui adik ipar. Mungkin sudah suratan takdir saya, suami bilang,”Mi, buatkan mie telur buat adikku.” Saya mengiyakan saja. Padahal saya diburu waktu. Waktu terus berjalan. Ketika adik saya makan, azan ashar berkumandang. Setelah mandi dan menunaikan ibadah shalat, mau tidak mau, tega tidak tega, saya bilang pada adik ipar,”Om, maaf. Saya mau ke Solo ada kepentingan wawancara dengan Majalah Hadila (sok penting). Sungguh, bukannya saya mengusir tapi saya sudah ditunggu teman-teman (halah, yang nunggu ya siapa kok ge-er banget nih orang).”

Akhirnya perjalanan dengan mengejar waktu dimulai. Alhamdulillah, saya tiba di rumah Uti Astuti dengan selamat. Ternyata di rumah Uti sudah datang mbak Eki, reporter Majalah Hadila. Beberapa anggota IIDN Solo yang hadir adalah saya, Noer Ima Kaltsum, Bunda Yuni Buy, Astutiana M, Zakiah Wulandari, Arinta Adiningtyas, Siti Nurhasanah, dan Fafa Fatturochma.
Dengan penuh keakraban dan santai, wawancara pun dimulai, meskipun pertanyaannya umum tapi yang punya kewajiban menjawab biasanya hatinya tersentuh secara spontan untuk menjawab. Bahkan, karena sudah terbiasa mendapat pertanyaan dari luar anggota IIDN Solo (ceileeee, sttt soalnya sudah pernah tampil Talkshow di Goro Assalam dua kali), kami menjawab pertanyaan dengan cara saling melengkapi. Kami kelihatan banget kompaknya. Mbak Eki menanyakan:
1.      awal mulanya dibentuk IIDN Solo, kapan lahirnya dan bagaimana kepengurusannya, berapa anggotanya,
Ini tokoh utamanya yang menjawab adalah mbak Ketua, Nurhas yang lainnya menyemangat: IIDN Solo adalah komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis yang berada di daerah. Pusatnya di Bandung. IIDN didirikan oleh mbak Indari Mastuti. Group di FB ini kemudian memiliki niat untuk bertemu dengan anggotanya di wilayah eks Karisidenan Surakarta.  Niat bertemu alias kopi darat atau yang keren disebut Kopdar terwujud pada tanggal 25 Desember 2013. Dipilih tanggal itu karena hari libur dan sebagian bisa hadir. Resmilah IIDN Solo lahir pada saat Kopdar I.
Dengan pertemuan pertama itu berhasil dibentuk kepengurusan. Pembina : Candra Nila Murti Dewojati, Ketua: Siti Nurhasanah, Sekretaris : Zakiah Wulandari, Bendahara: Arinta Adiningtyas. Anggota IIDN Solo mencapai ratusan orang, akan tetapi yang aktif sekitar 20 orang, dan tiap pertemuan rata-rata dihadiri 15 anggota. Pada Kopdar II kami bertemu langsung dengan mbak Indari Mastuti. Kami bersilaturahmi ke Pustaka Arofah (Penerbit dan Toko Buku) dan Penerbit Tiga Serangkai
2.      bagaimana cara berbagi ilmu, bagaimana cara memotivasi anggota, bagaimana cara menularkan ilmu menulis, adakah pencapaian target membaca buku dan membuat karya,
Kalau yang ini, semua anggota aktif menjawab. Mbak Eki sampai tertawa bahkan kelihatan sekali ikut bahagia soalnya IIDN-nya agak berbunga-bunga (maklum mau ada penampakan di Majalah Hadila. Sebagai bocoran : dalam waktu dekat penampakan itu akan nyata terlihat).
Setiap anggota membagikan ilmu yang dimiliki sesuai bidangnya masing-masing. Tiap Kopdar materi dan nara sumbernya sudah ditentukan. Tiap nara sumber memiliki ilmu yang harus disampaikan kepada anggotanya. Tiap anggota menekuni bidangnya masing-masing, tapi perlu mempelajari bidang yang lain.
Biasanya bila ada anggota IIDN Solo yang tulisannya berhasil tembus media, bukunya berhasil terbit, atau memenangkan kompetisi (lomba menulis), mereka akan menyebarkan virus keberhasilannya dengan membuat postingan di group. Jadilah para anggota ingin mengikuti jejak anggota yang lebih dulu berhasil. Contoh : ketika ada yang menulis cerita lucu Jon Koplo di Solopos, maka teman yang lain akan ikut mencobanya. Alhamdulillah, sepertinya anggota aktif IIDN Solo sudah berhasil menembus Jon Koplo-nya Solopos. Demikian juga dengan cerpen, artikel, opini yang sudah dimuat di media, akan disebarkan di group agar anggota yang lain memiliki kesempatan berhasil yang sama.
Karena kesibukan masing-masing anggota tidak sama maka kami tidak memberikan target minimal membaca buku dalam sehari. Untuk membuat karya juga demikian, target kami berbeda-beda.
3.      bidang apa saja yang ditekuni penulis, , apakah ada syarat khusus untuk menjadi anggota IIDN Solo, apakah calon anggota yang belum menikah alias belum ibu-ibu bisa bergabung di IIDN Solo.
Mbak Candra : Buku religi, mbak Nurul : buku non fiksi, mbak Hana: fiksi, mbak Nurhas, Arinta, Noer Ima: Cerita anak, mbak Fafa dan Uti Astuti: pendidikan, mbak Ety: Blogger. Anggota lain yang belum saya sebut boleh mengangkat jari protes hehe. Akan tetapi kami juga mempelajari bidang yang lain. Sebagai contoh saya, saya suka menulis bermacam-macam, target saya tulisan yang saya posting di www.kompasiana.com banyak pembacanya. Syukur-syukur masuk artikel pilihan atau HL
Tak ada syarat khusus menjadi anggota IIDN Solo, yang belum menikah pun bisa bergabung, yang penting perempuan meski belum memiliki satu karya pun, keanggotaan umum tidak sebatas muslimah, kalau ada yang non muslin kami juga terbuka. Di sini ada anggota yang statusnya belum menikah, yaitu mbak Hana, Rozie dan Zukhruf.
4.      apakah calon anggota yang mau bergabung harus sudah memiliki karya, sudahkah IIDN Solo memiliki karya (buku) bersama,
calon anggota yang belum memiliki karya boleh bergabung, justeru dengan bergabung di komunitas ini diharapkan ada perubahan lebih maju. Jadi bisa menulis, jadi memiliki karya dan lebih berhasil lagi. Untuk sementara IIDN Solo belum memiliki karya bersama. Dulu memang pernah berusaha mengumpulkan karya anggota untuk dijadikan satu buku, akan tetapi belum pas untuk diterbitkan. Suatu saat kami memiliki karya bersama, Insya Allah. (Diingatkan mbak Eki jadi bernafsu untuk membuat buku bersama, semangat-semangat)
5.      pesan apakah yang akan disampaikan pada masyarakat agar bisa menulis dan termotivasi untuk menulis?
Kalau mau menulis, menulislah. Menulislah sampai selesai, diendapkan beberapa hari, dibaca lagi lalu diedit. Kalau memiliki tulisan, mintalah tolong kepada orang lain untuk membaca. Orang lain akan obyektif menilai tulisan kita. Selanjutnya kirim tulisan kita ke media atau penerbit. Jangan takut gagal dan jangan menyerah! 10 karya terbaik  kita kirim ke redaksi semoga salah satunya berhasil. Kalau belum berhasil simpan saja, jangan dibuang atau didelete. Biarkan tulisan itu terkumpul banyak, suatu saat kita edit lagi, kita revisi lagi, semoga berhasil.
Gambar 2. IIDN Solo bersama Mbak Eki Reporter Majalah Hadila
Sumber: dok.Fafa Fatturochma
Bincang-bincang ini tak terasa lebih dari satu jam. Semoga bermanfaat untuk kita semua, dan terus berharap agar IIDN Solo dikenal masyarakat luas. Siapa tahu kita diundang lagi oleh pengundang dadakan. Silaturahmi itu perlu karena silaturahmi mendatangkan rezeki. Kalau tidak percaya ada kudapan bakpia, pudding, pastel, mie rebus yang rasanya maknyus dan teh hangat.

Tak sia-sia usaha saya untuk bergabung dengan sahabat IIDN Solo hari ini, meski agak kemalaman dikit. Di penitipan si thole sudah menunggu. Hari sudah gelap, azan maghrib berkumandang ketika saya berada di Solo. Alhamdulillah, Nok Faiq dan Thole Faiz baik-baik saja.

Karanganyar, 8 Oktober 2015