Sabtu, 31 Oktober 2015

Semangkuk Mie Ayam Buat Ibu Membawa Keberkahan

Gambar 1. Me, mom, nok Faiq
Sumber: dok.pri
Tahun 1997, saya mulai mengajar di MA Ali Maksum, Krapyak Kulon, Yogyakarta. Dengan jam mengajar yang tak begitu banyak praktis honor yang saya peroleh tidak banyak. Akan tetapi dengan honor yang sedikit tersebut, Alhamdulillah, keberkahannya dapat dinikmati. Saya hanya mengajar 8 jam per minggu ditambah piket satu hari. Total honor yang saya dapatkan adalah Rp. 42.000,00.
Jarak antara tempat mengajar dengan rumah tidak terlalu jauh. Dengan berjalan kaki saja tidak akan kelelahan. Saya sering diantar Bapak bila berangkat mengajar. Bapak juga menjemput saya di dekat sekolah. Saya sering menolak bila Bapak menjemput.  Kasihan Bapak, ada pekerjaan yang dilakukan di rumah. Dengan santai saya selalu jalan kaki.
Saya masih ingat ketika  menerima honor pertama, hanya satu yang saya cari yaitu pedagang mie ayam. Saya ingin memberikan yang terbaik dari honor saya untuk Ibu. Karena sebelumnya saya bertanya pada beliau,
”Bu, besok saya terima honor. Ibu pingin dibelikan apa?”
“Belikan mie ayam.”
Hanya mie ayam! Tidak lebih! Mie ayam yang harganya lima ratus rupiah! Tapi di balik mie ayam seharga lima ratus rupiah itu tersimpan hikmah. Beberapa saat kemudian saya mendapatkan job memberi les kimia di beberapa tempat. Saya tak perlu mencari murid, mereka datang dari tempat les. Bagi saya ini adalah anugerah luar biasa.
Terima kasih MA Ali Maksum, rezeki yang saya dapatkan dari sini benar-benar barokah. Tidak hanya di sini, saya yang baru beberapa bulan mengajar (belum ada satu tahun) sudah dipercaya untuk menulis ijazah (80 lembar). Ibu dan Bapak senantiasa memberi dukungan pada saya. Ketika menulis ijazah ini Ibu dan Bapak bergantian menemani malam saya dengan melakukan sesuatu. Atau pagi-pagi saya dibangunkan agar tak melewatkan kesempatan sholat subuh di masjid. Terima kasih Ibu dan Bapak.
Dari menulis ijazah ini saya mendapatkan honor yang lumayan besar. Tak lupa saya menawarkan pada Ibu dan Bapak. Tapi mereka bilang honornya ditabung saja. Bagaimana tidak terharu, Ibu dan Bapak tidak mau mengganggu keuangan saya.
Benar juga kata orang tua, harta milik orang tua adalah untuk anak-anaknya tapi harta milik anaknya bukan untuk orang tuanya. Tapi sebagai muslim saya memiliki pemahaman yang berbeda. Harta anak-anak adalah sepenuhnya untuk orang tuanya (kalau pada akhirnya orang tua hanya mendapatkan sepersekian persen, itu lain lagi ceritanya).
Keberkahan rezeki tidak dilihat dari sedikit atau banyaknya harta yang kita miliki. Asal kita bisa mendistribusikan tepat sasaran, Insya Allah keberkahan itu akan kita rasakan. Jangan pernah mengatakan kewajiban orang tua memenuhi kebutuhan anaknya, tapi anak tidak punya kewajiban memenuhi kebutuhan orang tua.
Sekarang saya mendapatkan hikmah yang luar biasa dari sekedar membelikan semangkuk mie ayam. Setelah menikah, tak hanya semangkuk mie ayam buat Ibu ditambah dengan segelas dawet atau cincau Dongkelan buat Ibu. (Bersambung)
Karanganyar, 31 Oktober 2015