Minggu, 17 Januari 2016

Bahagia Itu Kalau Gak Punya Hutang

Inilah surat yang saya tujukan kepada Mas Saptuari Sugiharto:
Gambar 1. Ima dan Buku Kembali Ke Titik Nol
dok.pri
Assalamualaikum, mas Saptuari.
Alhamdulillah, akhirnya saya bisa mendapatkan buku KKTN dengan sukses. Kalau saya hitung-hitung total waktu membacanya adalah dari pulang sekolah (jam 2 siang) sampai jam setengah sepuluh malam (dikurangi waktu shalat dan ngurus si kecil dan nampleki nyamuk yang gigit badannya). Kebetulan ada beberapa tulisan dari KKTN yang pernah saya baca lewat facebook.
Tentang buku tersebut pertama yang akan saya komentari adalah buku yang pas buat saya dengan gaya bahasa yang aku banget, gaya bahasa saya yang asli Yogya. Bahasanya renyah, cethar-cether, tanpa tedheng aling-aling, gak peduli dengan pembaca. Saya suka banget. Gampang dipahami, dicerna dan insya Allah sebagian sudah saya praktekkan.
Yang kedua : isinya membuat saya tambah membuka mata. Alhamdulillah saya sudah lama meninggalkan transaksi hutang/riba. Walaupun sampai sekarang masih berhubungan dengan bank (punya rekening bank murni untuk menerima gaji dan tunjangan sertifikasi, tidak untuk mengambil bunganya). Membuka rekening di bank untuk mengamankan uang, kalau disimpan di rumah was-was rasanya. Soalnya rumah saya berada di tengah sawah, tetangga terdekat berjarak dua pathok. Lingkungan tidak aman karena jauh dari tetangga. Pernah suatu hari kemalingan laptop (padahal rumah saya jelek), tapi sehari kemudian laptop saya sudah ada di tangan polisi!
Banyak hikmah yang bisa saya ambil dari testimony orang-orang yang meninggalkan riba. Saya bersyukur, suami saya juga ikut membaca. Semoga apa yang selama ini saya sampaikan tentang hutang dan menjauhi riba mengena di hati suami. Dan suami sepakat dengan ilmu tentang riba dan hutang serta menjauhinya.
Saya mau berbagi pengalaman berhutang dan bertransaksi dengan bank. Pertama kali saya mengambil hutang bank yaitu tahun 2002 ketika saya akan membangun rumah yanga akan saya tempati. Setelah lunas, saya tidak berhubungan dengan bank lagi. Tapi saya tetap hutang di koperasi sekolah untuk renovasi rumah.
Ketika hutang bank dan koperasi sudah lunas, ibu mertua saya sakit tumor limfa tahun 2008. Sebagai anak tertua, suami saya memiliki kewajiban untuk merawat ibu ( bapak mertua meninggal tahun 2006). Sebelum suami minta pendapat saya, saya justeru lebih dulu bilang pada suami bahwa hartamu semua adalah hak ibumu. Sudah menjadi kewajiban suami untuk membiayai pengobatan ibu. Kami tidak memiliki dana dan tak memiliki tabungan karena kehidupan kami biasa-biasa saja. Saya dan suami sepakat untuk mengambil hutang dari bank, untuk biaya pengobatan ibu mertua. Setiap 2 minggu sekali kami harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk kemoterapi. Kebetulan 3 adik suami dibebaskan (tidak dipaksa untuk patungan) memberi uang/tidak untuk pengobatan mertua.
Satu tahun berlalu, ibu mertua menjalani kemoterapi kurang lebih 10 kali. Ternyata tumor tersebut sudah mencapai stadium lanjut. Ibu mertua kelihatan sangat lemah. Saat itu bulan puasa, ibu dibawa ke rumah sakit. Hutang kami sudah banyak. Rencana suami mau mengambil hutang lagi di bank, tapi mendekati lebaran bank tutup libur cuti. Akhirnya suami meminjam uang di koperasi.
Setelah lebaran, ibu meninggal dunia. Uang koperasi masih utuh belum terpakai. Lalu uang koperasi dikembalikan dan tak memberikan jasa sedikitpun.
Tahun 2010, suami menerima tunjangan profesi (sertifikasi). Akhirnya pinjaman bank kami lunasi. Lega, plong! Setahun kemudian saya juga menerima tunjangan sertifikasi. Saat itu saya bilang pada suami untuk mendaftar ke tanah suci. Kata suami, dia ingin ke tanah suci bareng saya. Padahal uang kami hanya bisa untuk mendapatkan 1 porsi saja. Akhirnya kami sepakat untuk meminjam koperasi sekolah. Tahun 2012, kami mendaftar haji dan insya Allah berangkat tahun 2020.
Ketika kami sudah ada dana, pinjaman koperasi saya tutup, lunas. Ayem lagi gak punya hutang. Biarpun rumah selama 13 tahun ditempati hanya gitu-gitu tak ada peningkatan, tapi hati saya tenang. Meskipun saya dan suami hanya memakai motor lawas, kami syukuri. Allah sayang sama keluarga kami.
Suatu ketika saya disentil oleh teman kantor (sebut saja pak Sri). Katanya saya tidak mensyukuri nikmat. Lo, kok bisa? Iya bu, seharusnya rezeki yang diberi oleh Allah itu disyukuri dan ditunjukkan. Misalnya membeli kendaraan yang lebih baik. (hehe, suami saya dari tahun 1995 sampai sekarang memakai Yamaha alfa keluaran th 1993-an, suaranya memekakkan telinga trontong-trontong). Saya bilang, saya lebih tahu cara bersyukur untuk nikmat yang saya terima daripada sampeyan. Sampeyan tidak tahu apa yang saya lakukan dengan nikmat Allah yang saya terima. Setelah itu cep klakep, gak komen lagi.
Ada lagi yang bilang, wah garasinya gede… tinggal beli isinya. Herek-herek di bank langsung stang bunder. Saya jadi mikir, kok orientasi orang-orang kalau punya uang terus ujung-ujungnya punya mobil. Kalau gak punya mobil apa tabu? Saya dan suami cukup bahagia dengan 2 sepeda motor lawas. Masih senang ke mana-mana naik bus. Mudik harus berdesak-desakan dengan calon penumpang lain itu biasa.
Saya dan suami cukup hepi dengan kesederhanaan ini. Tidak punya hutang, bisa memberi sedikit gula dan teh untuk ibu dan bapak, bisa membelikan permen keponakan, bisa membawa nasi bungkus ke sekolah. Saya dan suami masih punya cita-cita, memiliki anak asuh di sekolah masing-masing ora ketang siji thok thil.
Saat ini memiliki sedikit uang untuk melunasi sisa ongkos naik haji yang belum terbayar. Semoga Allah secepatnya memanggil kami untuk menjadi tamu di tanah suci.
Dengan membaca KKTN, rasanya benar-benar disemangati lagi, dikompori dan dimotivasi untuk memberikan manfaat untuk orang lain. Terima kasih mas Saptuari, bukunya kerennnn banget!
Wassalamualaikum.
Karanganyar, 7 Januari 2016
Noer Ima Kaltsum-Guru Kimia- SMK Tunas Muda Karanganyar