Jumat, 15 Januari 2016

Terapi Kelereng Pasca Operasi Tangan Patah

Gambar 1. Sondokoro, sambil terapi
dok.pri
Sekitar 2 bulan yang lalu, Faiz (5 tahun 6 bulan) mengalami patah tulang tangan kiri (atas siku). Faiz menjalani operasi pada pagi hari. Setelah operasi keadaan Faiz sehat. Tangan Faiz dibalut perban elastis. Sore harinya, seorang perawat (terapis) datang. Saya tidak tahu namanya, sebut saja Mas Ahmad. Mas Ahmad mulai mengajak ngobrol Faiz. Mungkin karena takut atau malu, Faiz tidak mau menurut apa yang dicontohkan Mas Ahmad.
Gambar 2. Sebelum operasi
dok.pri
“Dik Faiz, tangan kiri digerakkan seperti ini.” Mas Ahmad membuka tutup jari-jarinya. Faiz diminta untuk membuka menutup jari-jarinya. Faiz mau memraktekkan. Alhamdulillah
“Dik Faiz, ikuti saya ya. Pegang hidung, mulut, telinga. Kalau tidak bisa dibantu tangan kanan.”
Ya Allah, belum mencoba Faiz sudah bilang sakit.
“Sakit, sakit Mama.”
Mas Ahmad berkata,”Ibu, bapak, nanti kalau di rumah tolong dibiasakan memegang hidung, mulut dan telinga. Kalau anaknya tidak mau atau bilang sakit, jangan dimanjakan ya. Tetap harus dipaksa supaya tangannya tidak kaku. Kalau nanti gerakan-gerakan tersebut tidak dilakukan tangannya bisa ceko (thuing, mendengar kata itu langsung saya membatin ah, mosok bagus-bagus kok ceko. Ya Allah berilah kemudahan buat anakku).
Gambar 3. Setelah operasi
dok. Nur Laely Roza
Selama dua minggu nanti memang gerakan yang dilakukan adalah memegang hidung, mulut, telinga, pundak. Tangan memang ditekuk, tidak boleh diluruskan. Supaya posisi tangan ditekuk selama dua minggu, maka tangan digendong.
Sampai di rumah, ternyata Faiz dengan kesadaran sendiri mau melakukan terapi. Saya tidak memaksa, biarlah dia melakukan semampunya. Dalam waktu dua minggu Faiz sudah bisa melakukan gerakan-gerakan minimal yang harus dilakukan sesuai anjuran terapis. Saat mandi, tangan/luka tak boleh dibasahi/kena air. Jadilah Faiz hanya dilap bagian atas. Sedangkan bagian bawah tetap diguyur air.
Gambar 4. Sondokoro
dok.pri
Dua minggu setelah operasi, Faiz melakukan kontrol ke rumah sakit. Kali ini perban elastis dilepas tetapi masih memakai gendongan tangan. Terapi yang dianjurkan adalah memindahkan benda misalnya kelereng dengan tangan kiri terutama memindah ke atas. Luka/tangan boleh kena air. Melakukan gerakan tangan secara bebas.
Tidak gampang ternyata sebab jari telunjuk Faiz kalau digerakkan masih sakit. Selain telunjuk masih sakit, telapak tangannya juga dingin, pergelangan tangan masih biru. Saya memotivasi Faiz. Ada satu hal yang saya syukuri, yaitu Faiz tetap mau makan dalam jumlah banyak.
Lama-kelamaan jari telunjuk bisa digerakkan dan tidak sakit lagi. Telapak tangan tidak dingin dan warna biru pada pergelangan tangan hilang. Faiz masih memakai gendongan tangan. Ketika saya amati, bila memakai gendongan tangan, Faiz bebas menggerakkan tangan kirinya. Tangan kirinya bekerja sama dengan tangan kanan tatkala bermain. Begitu kain gendongan dilepas, Faiz malah takut menggerakkan tangannya. Tangan kirinya ditekuk takut bergerak.  Ya sudah, terserah anaknya saja. Dia bisa mengukur kemampuannya. Kalau merasa nyaman gerakan terus berlanjut. Bila sakit, dengan sendirinya berhenti bergerak.
Selama sebulan terapi memindahkan kelereng ke tempat yang tinggi atau memindah benda-benda kecil dengan cara memungut (tidak gampang lo!). Saya juga menyuruh Faiz untuk melakukan gerakan senam ringan, tujuannya ingin tahu apakah tangannya sudah bisa diluruskan. Lagi-lagi saya tidak memaksa. Rupanya dengan kemauannya sendiri, lumayan bisa diluruskan. Untuk keberhasilan-keberhasilan yang dilakukan saya selalu memberikan acungan jempol lalu memeluknya seraya mengucapkan,”Alhamdulillah.”
Gambar 5. Terapi kelereng
dok.pri
Sebulan terapi kelereng, lalu kontrol lagi. Alhamdulillah, perkembangannya bagus. Ketika dirontgen lagi, hasilnya bagus. Kali ini terapinya agak berat. Memindahkan bola voli dengan cara melempar. Wah, saya tidak berani mengajari yang satu ini. Kebetulan sang Ayah yang guru olahraga di rumah ada bola voli dan bola sepak. Ini jatahnya sang Ayah.
Pagi hari, Faiz sudah teriak-teriak girang main lempar bola voli bersama Ayah. Alhamdulillah, ternyata semua berjalan dengan lancar. Kini saya tak lagi mencemaskan Faiz dalam keadaan tidur. Maklum, anak kecil tidurnya tak terkendali gerakannya. Apalagi kalau tidur tak mau diselimuti. Apa yang ada di sekitarnya, tanpa disadarinya dilemparkan begitu saja.
Matur nuwun sampun kersa pinarak. Mugi-mugi wonten manfaatipun tulisan punika.

Karanganyar, 15 Januari 2016