Senin, 08 Februari 2016

Ibu, Tamu Istimewa

Minggu-Senin, kedatangan tamu dari Yogyakarta. Adik saya yang dulu sering berkunjung ke Karanganyar kali ini datang ke KRA bersama keluarga, Ibu dan anaknya kakak saya. Ceritanya, adik saya ingin makan durian Jumantono seperti yang dilihat di TV.
Hari Minggu, setelah mendapatkan izin dari si Thole sing bagus dewe, saya menyembelih dua ekor ayam untuk saya masak sop. Lumayan, menjamu tamu dengan cara pengiritan. Saya mulai memasak dibantu si dhenok. Setelah hampir semuanya selesai tinggal memasukkan sayuran ke dalam kuah yang sudah saya beri bumbu, rombongan adik saya datang.
Alhamdulillah, kedatangan mereka disambut dengan teh panas dan tempe goreng anget. Berapapun saya menggoreng tempe, ludes. Tapi saya justeru puas, karena mungkin inilah yang dinamakan rezeki barokah. Makanan tempe yang harganya murah dan bergizi ini diminati di saat hangat-hangat enak disantap.
Episode berikutnya adalah makan siang. Menunya adalah sop ayam kampung dan tempe goreng saja. Ada karak dan rambak sebagai pelengkap kriuk-kriuk. Saya senang melihat mereka makan dengan lahap. Apalagi keponakan saya memiliki hobi ngrikiti tulang-tulang kalau makan pasti sampai tetes penghabisan.
Menjelang sore, adik saya minta diantar mencari tempat seperti yang dimaksud dalam TV, yaitu daerah Jumantono. Rombongan berangkat ke Jumantono, sementara saya, Ibu dan dhenok tinggal di rumah. Kebetulan Ibu dan dhenok mengantuk, jadi mereka tidur. Sementara saya harus membereskan tempat dan alat makan lainnya.
00000
Saya dibawakan durian oleh pasukan yang pulang dari Jumantono. Saya, Ibu dan dhenok makan durian secukupnya saja. Rasanya benar-benar mantap. Bagi adik saya yang makan durian di tempat jual-beli adalah hal yang menyenangkan. Apalagi ada garansi, bila durian yang dibuka ternyata kualitasnya jelek atau tidak manis maka durian boleh diganti.
Sore hari kami bersantai-santai istirahat.  Malam hari saya harus menanak nasi lagi untuk menyiapkan makan malam. Namanya juga menjamu tamu, maka kita muliakan dengan memberikan makanan yang terbaik. Saya tawarkan kepada mereka, apakah masih mau makan atau tidak? Kalau mau makan kira-kira lauk kesukaannya apa. Ternyata sebagaian menginginkan bebek goreng. Meskipun makan malam dengan porsi sedikit, tapi tetap saja menanak nasi dalam jumlah banyak.
Bebek goreng dengan sambal Lombok rawit hijau dan lalapan, paduan yang pas disantap malam hari. Saya bersyukur hari ini tidak hujan. Setelah makan malam, kami berbincang-bincang. Sebenarnya adik saya ingin mengajak pulang (tidak menginap) karena rumah saya yang tengah sawah banyak nyamuknya. Tapi akhirnya mau menginap dengan menyiapkan anti nyamuk bakar dan spray.
00000
Pagi harinya, Senin, kembali saya menyiapkan sarapan. Teh  manis sudah siap. Dhenok membeli sari kedelai yang sudah siap minum. Saya tidak menanak nasi lagi. Nasi yang tadi malam masih ada disantap bareng-bareng dan dibagi rata. Semua kebagian meski terpaksa porsinya lebih sedikit.
Ada yang membuat saya bahagia dua hari ini. Saya bersyukur pada hari libur ini kedatangan tamu istimewa. Terasa istimewa karena Ibu akhirnya sampai rumah saya lagi. Ibu berusia 70 tahun. Bagi saya Ibu sudah sepuh dan Ibu sekarang mudah lupa atau menjadi pelupa. Apapun yang terjadi pada ibu, beliau tetap ibu saya yang harus saya sayangi. Saya sedikit kasihan karena di rumah bersama bapak, menghabiskan waktunya hanya ngobrol dengan bapak. Memang ada anak-anak yang datang ke rumah ibu, tapi waktu anak-anak terbatas. Semoga Allah mengampuni kami, anak-anaknya, yang tidak bisa selalu dekat dengan ibu dan bapak.
Satu setengah tahun yang lalu ibu masih sehat tidak pelupa. Semua dikerjakan sendiri. Sekarang jauh berbeda, menurut ibu sendiri, tiap hari bapak yang menyiapkan minuman buat ibu. Tapi ibu masih sehat, Alhamdulillah shalat tidak tinggalkan. Semoga Allah memberikan kemudahan untuk ibu dan bapak untuk mengisi sisa umurnya untuk kegiatan yang lebih religious, Amin.
00000
Jam Sembilan, rombongan adik saya pulang meninggalkan Karanganyar menuju Yogyakarta. Beberapa saat kemudian ayah, dhenok dan thole meluncur ke Solo, mau lihat lampion. Semoga thole puas dengan diajak jalan-jalan bersama ayah dan kakak. Saya tinggal sendiri, dan menulis adalah tempat saya melepaskan penat.

Karanganyar, 8 Februari 2016