Senin, 01 Februari 2016

Pie Susu Oleh-oleh Khas Pulau Dewata

Gambar 1. Pie Susu
dok.pri
Hari Senin ini saya siap menerima oleh-oleh dari teman yang selama Selasa sampai Sabtu melaksanakan kegiatan kunjungan industry dan wisata ke Malang dan Bali. Berhubung saya ada halangan maka saya tidak ikut. Saya tidak sendiri, sebab ada 5 orang guru dan karyawan yang tidak bisa ikut kegiatan ini.
Saya sudah bersiap-siap keranjang yang besar. Maklum, saya termasuk orang penting di sekolah jadi wajarlah kalau teman-teman saya akan memberikan oleh-oleh untuk saya.
Beberapa oleh-oleh yang saya terima dari teman-teman adalah makanan khas Bali yang biasa dijual di tempat wisata, yaitu pie susu. Sebenarnya sudah sering saya mengkonsumsi pie susu. Beberapa kali suami mendampingi murid-murid SMPN 2 Karanganyar study tour ke Bali.
Biasanya oleh-oleh yang dibawa adalah pie susu. Selain itu, teman akrab suami yang mengajar di SMPN 1 Karanganyar juga mendampingi murid-muridnya ke Bali. Pulang dari Bali biasanya beliau juga membawakan oleh-oleh buat anak-anak saya termasuk pie susu.
Pie susu berbahan dasar terigu, telur, mentega dan susu. Ciri khas dari pie susu ini adalah ukurannya yang tidak besar dan tipis. Soal rasa, jangan ditanya. Dijamin mantap dan tidak terlalu berlebihan manisnya sehingga tidak eneg bila mengkonsumsi pie susu. Sepertinya bila sarapan satu buah pie susu dan teh hangat sedikit, sudah mampu menegakkan badan dan tidak merasa lapar.
Oleh-oleh yang masuk dalam keranjang saya yang kedua adalah salak. Ada beberapa piring salak di meja guru. Saya mencicipi, rasanya masam. Teman saya bercerita, ada beberapa jenis salak yang dijual di Bali. Salah satunya adalah salak yang rasanya agak masam ini, kemudian salak gula pasir yang rasanya manis. Salak gula pasir ukurannya kecil-kecil, sedangkan salak yang masam ini ukurannya besar.
Gambar 2. Salak madu
dok.pri
Saya mencoba mengambil salak yang berada di plastik merah (dibeli khusus untuk guru dan karyawan), ternyata rasanya manis. Wah, kalau yang ini saya suka karena rasanya hampir sama dengan salak pondoh. Meskipun ukurannya kecil, tetapi juga manis.
Kata teman saya yang membelanjakan untuk oleh-oleh, salak yang barusan saya makan adalah salak madu. Salak madu ini dibelinya tidak di Bali, melainkan di Palur (dekat dengan Karanganyar kota). Jadi pikniknya ke Bali, tapi oleh-olehnya beli di kota asal, hehe. Disyukuri saja, sudah diberi gratis tidak usah banyak protes (okey).
Oleh-oleh berikutnya adalah sandal Joger. Anda jangan membayangkan sandal Joger dengan model macam-macam yang harganya selangit lo. Bukan, bukan sandal Joger yang itu.
Ceritanya mbak Rosita, teman saya memberi oleh-oleh khusus untuk Ibu Guru cantik ini. Terus saya protes!
“Mbak Rosita, panjenegan itu bagaimana sih. Mosok bu Ima diberi sandal kok ya cuma satu.”
“Bu Ima, santai saja. Sebenarnya kemarin saya membeli dua. Untuk saya satu buah dan untuk Bu Ima satu buah. Nanti atau kapan-kapan Bu Ima mencari pasangannya di Bali, Pulau Dewata. Gitu loh.”
“Welah dalah, sembrono tenan karo wong tuwa. Padhakke Cinderella saja. Sepatu kacanya tinggal satu lalu mencari pasangannya,”jawab saya bercanda.
Teman-teman yang mendengar perbincangan ini juga tertawa, sebab yang kami bicarakan adalah gantungan kunci sandal Joger.
Gambar 3. Sandal Joger, gantungan kunci
dok.pri
Oleh-oleh yang terakhir saya masukkan keranjang yang lain karena ukurannya besar alias jumbo, yakni cerita seru saat berada di Malang dan Bali. Saya hanya bisa mendengarkan dengan khusyu’. Sesekali tertawa karena cerita lucu teman-teman saya. Menyesal tidak bisa ikut ke Bali? Jawaban saya adalah : tidak. Saya mengutamakan kesehatan anak saya. Karena kesehatan anak saya, si thole sangat berarti bagi hidup dan semangat saya.
Hari ini saya menikmati pie susu dan salak bersama teman-teman ketika di sekolah dan bersama suami dan anak-anak ketika di rumah.
Karanganyar, 1 Februari 2016