Jumat, 01 April 2016

The Power of Writing (Bagian 4)


BAB III  ALASAN MENULIS
Menulis Sebagai Tempat Perlindungan
Terry McMillah menulis pengalamannya dalam buku Chicken Soup for the Writer’s Soul. Dia menyatakan :
“Menulis adalah tempat perlindunganku. Aku tidak bersembunyi di balik kata-katanya; aku menggunakan kata-kata itu untuk menggali di dalam hatiku untuk menemukan kebenaran. Selain itu, menulis tampaknya merupakan satu-satunya cara agar aku bisa benar-benar mengendalikan sebuah situasi atau setidaknya mencoba memahaminya. Kurasa aku bisa mengatakan, sejujurnya, bahwa menulis juga menawariku semacam kesabaran yang tidak kumiliki dalam kehidupan sehari-hariku. Menulis membuatku berhenti. Menulis membuatku mencatat. Menulis memberiku semacam perlindungan yang tidak bisa kuperoleh dalam kehidupanku yang tergesa-gesa dan penuh dengan kegiatan.”
Menulis Sebagai Obat Stress
Sebagian orang mengatakan menulis itu membuat stress. Akan tetapi ada yang mengatakan bahwa menulis adalah obat stress. Kegiatan sehari-hari yang padat tanpa jeda bila tidak dinikmati dan disyukuri akan membuat tertekan. Untuk mengurangi tekanan dalam mengerjakan kegiatan tersebut, maka di antara mengerjakan kegiatan penting tersebut diselingi menulis. Ternyata “selingan menulis” ini hasilnya juga memuaskan, karena selingan yang terencana. Menulis merupakan obat stress karena kegiatan menulis ini dilakukan dengan senang.
Dosen dan Tradisi Menulis
Menulis pada dasarnya merupakan sebuah bentuk komunikasi. Komunikasi tertulis tampaknya masih menjadi aspek yang kurang berkembang secara baik dalam dunia akademis di Indonesia. Budaya menulis menjadi dasar yang penting di dalam dinamika dan pengembangan keilmuan di dunia pendidikan, khususnya pendidikan tinggi.
Idealnya, dosen sebagai seorang intelektual terus memproduksi dan mengembangkan pengetahuannya lewat penelitian dan publikasi karya ilmiah. Namun realitas menunjukkan, hanya sebagian kecil saja dosen yang memanfaatkan berbagai sarana penyebaran ilmu, khususnya lewat penerbitan karya tulis. Padahal, dosen harus membuat karya tulis untuk kepentingan kepangkatannya.
Mahasiswa Pasti Bisa Menulis
Pramoedya Ananta Toer mengatakan,”Menulislah. Selama engkau tidak menulis, engkau akan hilang dari dalam masyarakat dan dari pusaran sejarah.”
Komunikasi lisan/ucapan akan segera hilang, tapi tulisan, sepanjang bentuk fisiknya masih ada, masih dapat dibaca, ditelaah, dan terus dikaji sepanjang masa.
Di era sekarang ini, diperlukan pemikiran serius mengenai peran apa yang dapat dilakukan oleh mahasiswa. Gerakan menulis oleh mahasiswa sangat diperlukan. Menuliskan ide dan gagasan oleh mahasiswa dapat dilakukan melalui media cetak dan media elektronik. Meskipun pengaruh dari tulisan tidak sehebat gerakan fisik atau gerakan massa, tapi pengaruh dari tulisan akan jauh lebih lama, mengakar kuat dan jangkauannya lebih luas.
Seperti halnya dosen, hanya sebagian kecil saja mahasiswa yang menulis. Sebetulnya syarat menulis itu hanya memiliki kemauan untuk terus menulis.bagi mahasiswa yang harus dibangun saat menekuni dunia menulis adalah memompa semangat menulis, menjaga secara konsisten, tekun, rajin dan terus berusaha menulis. Tundukkan semua hambatan dan halangan yang membuat sulit menulis.  
 (BERSAMBUNG)