Kamis, 28 April 2016

[Utang-Piutang] Delcon, Delete Contact

Telaga Mandirda
dok.pri
Dhenok bercerita tiba-tiba teman ketika masih SD dan masih tetangga men-delete contact-nya. Dhenok merasa aneh saja, tapi dia hanya bisa mengira-ngira. Mungkin si Teman tadi tidak ingin sepak terjangnya diketahui Dhenok. Padahal si Dhenok ini orangnya cuek bebek, enggak ada urusan, enggak ngganggu.
“Dulu yang meng-invite siapa?”tanya saya
“Dhenok.”
“Ya, sudah. Dia tidak membutuhkan kamu, santai saja.”
00000
Sehari setelah saya ngobrol dengan Dhenok soal delcon ini, saya bertemu tetangga yang kebetulan dekat secara emosional. Saya ceritakan masalah delcon tadi. Ternyata di luar dugaan saya sasuatu telah terjadi.
“Nyah, sampeyan apa nggak tau. Mereka kan sudah pindah.”
“Apa?” mata saya membola.
Pantas saja si Teman delcon Dhenok. Ternyata benar, supaya sepak terjangnya tidak lagi diketahui dan keberadaannya tidak diketahui. Lantas saya merenung, kok Ibunya si Teman tadi tidak pamit saya ya? [ sok terkenal dan dibutuhkan kale].
Sampai di rumah saya ingin menulis, tapi tangan ini terasa berat untuk memencet tuts. Akhirnya saya hanya bisa membatin. Tiga setengah tahun bukan waktu yang singkat. Saya telah memberi kelonggaran pada keluarga itu. Gaya hidupnya itu yang membuat saya tidak merasa kasihan. Orang mengaku tak punya tapi dolannya di kafe, jajan di rumah makan, pesiar ke mana-mana, ulang tahun dirayakan, mengontrak rumah juga yang mahal.
Uang gajiku sebulan lebih dipinjam selama tiga setengah tahun, sampai sekarang belum dikembalikan. Padahal saya  merencanakan mau menagih uang saya sendiri (duh, seperti mengemis), berapapun saya terima. Saya mau menyelamatkan keluarga itu dari siksa. Bukankah utang harus dibayar? Bahkan Nabi saja tidak mau menshalatkan orang meninggal yang masih punya utang.
Semoga dia punya itikad baik. Mau berjuang dan sukses lalu mendatangi saya. Membayar utangnya dengan lunas. Kehidupannya menjadi lebih mapan. Tapi caranya itu mbok nggak usah delcon gitu loh.
Karanganyar, 28 April 2016
Cerita ini fiktif belaka. Bila ada persamaan nama dan keadaan, itu memang disengaja penulisnya.