Rabu, 11 Mei 2016

Bersyukur Atas Nikmat Sehat Dan Rezeki Barokah

Nikmat sehat dan rezeki barokah
dok.pri
Ini hari ketiga saya digoda teman-teman, diajak makan tongseng/sate/tengleng di warung sate kambing di depan Stadion 45 Karanganyar. Yang ngajak ini dermawan atau cuma menggoda saja? Selain menggoda sebenarnya teman-teman benar-benar mau mengajak makan siang. Maklum, waktu kami bisa makan siang bareng tinggal beberapa hari lagi. Bulan depan sudah memasuki bulan Ramadhan.
Saya berniat untuk mengganti puasa yang saya tinggalkan selama 6 hari. Pada hari Senin yang lalu sampai Sabtu yang akan datang, saya tidak menemani sarapan Thole dan ayah. Kalau Dhenok biasa sarapan di sekolah. Kalau sudah selesai barulah saya mau diajak makan siang ke mana saja asal gratis. (Okeh kancane nek ngene iki)
Sore hari, saya dan suami menjemput Thole di Taman Penitipan Anak. Saya pikir, setelah menjemput Thole terus pulang. Saya harus menyiapkan buka puasa sendiri. Tapi Ayah mengajak bezuk Maya, temannya Dhenok, di rumah sakit. Ya, sudahlah tak apa, yang penting sebelum Maghrib sampai rumah.
Hanya sebentar saja kami bertemu Maya dan Ibunya. Maya, Ibu dan Bapaknya mengalami keracunan makanan setelah menghadiri acara pertemuan keluarga di rumah keluarga besarnya. Tidak hanya keluarga Maya, keluarga yang lain termasuk tuan rumah (5 anggota keluarga) masuk rumah sakit dan opname. Kebetulan Ibunya Maya hanya makan nasi lauk telur, tidak mengambil lauk yang lain. Beliau selamat tidak muntaber., sedangkan Bapak dan Maya mengalami muntaber. Sudah 4 hari Maya dirawat di rumah sakit.
Pulang dari rumah sakit menuju rumah. Saya lihat Jalan Lawu bagian timur putih pertanda hujan. Kebetulan kami hanya membawa sepasang jas hujan. Kami harus berteduh. Saya terus berdoa, semoga hujan segera reda. Di tempat berteduh, saya memikirkan si Dhenok yang masih dalam perjalanan pulang.
Dhenok baru saja membezuk temannya. Pagi tadi, temannya (Salsa) dan Ibunya mengalami kecelakaan di dekat sekolah. Kaki kanan Ibunya patah, kaki kirinya retak. Salsa sendiri hanya lecet-lecet.
Setelah reda, kami melanjutkan perjalanan pulang. Tak lupa saya mampir ke warung angkringan. Beli nasi bandeng dan teh hangat. Alhamdulillah, saya berbuka puasa cukup dengan minum teh hangat.
Kembali sepeda motor membawa kami menuju Taman Pancasila. Dhenok turun dari bis di Taman Pancasila. Akhirnya kami bertemu, Dhenok diantar pulang terlebih dahulu, baru saya dijemput Ayah.
Sampai di rumah, Alhamdulillah bisa makan malam bareng. Meskipun kami menyantap makanan yang sederhana, rasanya semua harus disyukuri. Nasi bandeng, nasi tumpang, dan soto, siap untuk dihabiskan.
Seperti biasa, Dhenok bercerita tentang semua yang dialami di sekolah, di jalan dan kegiatan hari ini. Saya memang harus mendengarkan semua ceritanya dengan baik. Maklum, saya ibu yang baik, yang harus mau mendengarkan curhatnya Dhenok.
Kembali saya mengingatkan Dhenok,
“Fai, bersyukur itu kuncinya. Allah terlalu sayang pada keluarga kita. Tanpa kita minta pun Allah sudah menitipkan nikmat yang begitu banyak. Nikmatnya sehat dan rezeki lancar. Masih tidak mau bersyukur?
Keluarga Maya dan Salsa sedang diberi ujian sakit. Bersyukurlah kamu, jangan lupa shalat sama sedekah,”itu pesan saya.
Setelah makan, rupanya Thole dan Dhenok mengantuk. Ditinggal cuci piring, keduanya terus klipuk, sudah berada di alam mimpi.

Karanganyar, 11 Mei 2016