Rabu, 25 Mei 2016

Dua Yang Tak Akur

Duo Faiq-Faiz
dok.Faiqah Nur Fajri
Dua yang tak akur ini memiliki selisih usia 10 tahun. Dhenok tak mau mengalah dan Thole maunya menang sendiri. Saya tak bisa menengahi mereka. Kalau saya menengahi, si Dhenok bilang,”Faiz yang dibela padahal salah.”
Namanya juga anaknya semua, saya tahu banyak hal tentang mereka hingga yang remeh sekalipun. Ketika Dhenok  masih kecil, kehidupan kami masih kurang dan prihatin. Pernah suatu hari, tak ada uang untuk membeli susu (beras tinggal mengambil hasil panenan, makan dengan lauk seadanya, memasak sayur tinggal memetik di sawah), Dhenok merengek minta minum susu. Saya menenangkan Dhenok dan memberinya teh hangat sambil memberi pengertian. Dan saya berjanji esok harinya pulang sekolah membawa susu. Dan saya membawa susu bendera 1 kg, hutang koperasi (potong gaji bulan berikutnya). Saya ingin membahagiakan putri saya yang ketika itu masih berusia 3-4 tahun.  Akan tetapi saya pantang mengeluh pada mertua (kalau saya mau, pasti juga diberi).
Lain halnya dengan Thole, kehidupan kami Alhamdulillah lebih mapan. Masalah rezeki, pokoknya ada saja sumbernya. Akan tetapi Thole memiliki kisah yang sedikit mengharu biru. Sejak kecil, belum ada 1 tahun usianya, Thole masuk rumah sakit karena kejang. Sebenarnya kejang yang dialami Thole termasuk ringan, penyebabnya adalah demam biasa. Demam yang menyertai batuk pilek. Thole dirawat di rumah sakit selama seminggu. Baru seminggu keluar dari rumah sakit, Thole mengalami kejang lagi (masuk rumah sakit lagi).
Sampai umur 3,5 tahun, Thole sudah 4 kali masuk rumah sakit. Tiga kali karena kejang dan satu kali karena muntaber. Dengan demikian, saya tak tega kalau pas tidak akur Thole dimarahi Dhenok. Satu lagi, bulan Nopember 2015, Thole menjalani operasi pemasangan pen karena lengan kirinya patah. Menurut saya sebagai ibunya, lengkap sudah kesusahan Thole. Kalau Dhenok sering marah-marah pada Thole, saya selalu menengahi. Memang Thole itu juga sering usil, memancing kakaknya biar marah.
Dua yang tak akur, kata teman saya, perlu ada yang ketiga. Saya hanya tersenyum. Sepulang dari Tawangmangu kemarin, sore harinya badan saya terasa lungkrah. Buntil tahu dan molen pisang yang saya makan akhirnya keluar pada malam hari. Perasaan saya, kok sama seperti ketika Thole tiduran di dalam perut saya ya. Malam hari, kondisi saya juga tak semakin baik. Tapi tidak muntah, hanya mual saja.
Pagi harinya, perasaan saya kok jadi tidak enak. Di sekolah suasananya jadi terbawa ngantuk pol. Lah, ini kan sama dengan kondisinya ketika Thole diam-diam tidur di dalam perut. Semangat, dua yang tak akur akan ditengahi satu anak yang adil.
Saya bilang pada suami,”Sudah siapkah Ayah dengan satu lagi?”
“Insya Allah, siap.”
“Kalau begitu, atur jadwal, kurangi badminton dan tenis!”
“Wah, itu tidak bisa.”
Nah, betul kan. Dulu ketika Thole lahir, dia bilang siap momong. Tapi sekarang,mau  tenis dan badminton sering main petak umpet dulu. Lalu meninggalkan tangis Thole yang kejer-kejer.  
“Sebelum pergi, beli onemed dulu. Kalau positif, ya mulai besok kurangi acara pergi-pergi.”
Ketika saya melahirkan Thole, usia saya 39 tahun. Kini Thole berusia 6 tahun. Semangat! Mata saya berbinar ketika saya lihat ada satu garis merah. Alhamdulillah, ternyata hanya kurang tidur saja dan kondisi badan tidak seimbang.
Dua yang tak akur, akan Mami jaga dengan sepenuh hati karena kalian memang punya cerita sendiri dengan latar belakang yang tak sama.

Karanganyar, 25 Mei 2016