Senin, 16 Mei 2016

Mangkok, Sendok Bebek Dan Wedang Ronde

Mangkok dawet
dok.pri
Beberapa hari yang lalu, Faiq bernah bertanya pada saya,”Ma, kita punya mangkok buat wedang ronde, tidak?”
“Punya, tapi nggak banyak. Di sana letaknya.”
Saya menunjuk bawah tandon air kosong. Saya pernah membeli mangkok kecil dan sendok bebek. (Saya biasa menyebut mangkok dawet. Dulu ketika saya masih kecil, kalau membeli dawet memang menggunakan mangkok bukan gelas. Sendok bebek lazimnya dipakai untuk makan soto.)
Kata Faiq siswa kelas X Imersi diberi tugas membuat wedang ronde dan cara menyajikannya. Sebenarnya saya mau mengajarkan cara membuat bola-bola ronde, tapi Faiq mengatakan besok saja kalau sudah waktunya. Saya tidak memaksa.
Setelah maghrib, Faiq bertanya kalau mau membuat bola-bola ronde sekarang bisa tidak? Saya jawab tidak bisa, sebab saya hanya memiliki tepung ketan dan gula jawa saja. Saya tak memiliki tepung beras untuk campuran tepung ketan.
“Dipakainya kapan?”
“Besok!”
“Walah, jelas tidak bisa. Tepung berasnya habis, sedangkan sekarang hujan. Faiq kok bilangnya mendadak.”
“Sebenarnya ini tugas teman satu kelompok, tapi mereka tergantung Faiq. Mangkok dan sendok saja Faiq yang sediakan.”
“Kalau bilangnya siang, kan Mama bisa cari bahannya. Nyerah!”
Saya tahu, baru saja Faiq chatting dengan temannya. Biasanya Faiq ready, kalau tidak dadakan. Hujan-hujan begini, siapa mau basah kuyup demi beberapa butir bola-bola ronde? Ya, namanya ABG berpikirnya belum maju. Semoga kelak bisa lebih dewasa lagi.
Karanganyar, 16 Mei 2016