Minggu, 29 Mei 2016

Mendukung Anak Berwirausaha, Berjualan

Nostalgia Kulakan
dok.pri
Ketika Faiq memutuskan untuk berjualan di kelas, modalnya patungan dengan temannya, saya tidak melarang. Saya membiarkan mereka berdua untuk terjun di dunia usaha. Daripada membeli jajanan, lebih baik berjualan jajanan. Keuntungannya dibagi 2, buat Faiq dan temannya.
Saya tahu, Faiq termasuk anak yang kreatif. Selain menjual jajanan, Faiq juga membuat kerajinan dari kain flannel berupa wadah hp. Hasil kerajinan tangan tersebut ditawarkan kepada teman-temannya. Ada bando lucu dan jepit kupu-kupu. Tapi sekarang tak ada sisanya.
Saya suka dengan keseharian Faiq sepulang sekolah. Langsung ke pasar tradisional, kulakan. Naik sepeda dengan dilengkapi keranjang. Dagangannya ditaruh di keranjang. Jajanan anak-anak tidak terlalu berat. Sampai di rumah, langsung ganti pakaian, makan siang lalu tiduran.
Malam harinya hanya sebentar membuka-buka buku. Saya tak menekan, tak memaksa Faiq belajar. Saya repot dengan si kecil yang usianya belum 1 tahun, sering sakit. Sementara Ayah tidak telaten dan sabar menunggui Faiq belajar. Kalau Faiz kecil sudah dapat diatasi, saya akan membantu Faiq belajar. Saya memang harus ekstra sabar, sebab Faiq tidak mau membaca. Jadilah saya membacakan materi pelajaran. (Sampai sekarang juga begitu. Yang mau ujian ini siapa?)  
Walaupun Faiq terjun langsung di dunia usaha, tapi prestasinya  tidak  kalah dengan temannya yang tak punya kegiatan apapun. Saya bersyukur, saya memberikan kenyamanan bagi Faiq. Mungkin karena Maminya ini tidak pernah memaksa menjadi yang terbaik, Faiq juga punya tanggung jawab. Menurut saya Faiq is the best.
Setelah naik kelas 6, Faiq tak lagi berjualan jajanan. Dia mulai mengatur waktu untuk belajar menghadapi ujian. Waktu itu Faiz masih 2 tahun, sementara Ayah beberapa hari repot tugas ke luar kota. Ayah mendampingi atlit badminton yang akan bertanding pada POPDA Provinsi, di Semarang. Saya membiarkan Faiq mandiri mengikuti les. Berangkat dan pulang les naik sepeda.
00000
Faiq yang dulu imut pandai mencari uang, kini mulai ingin memiliki usaha. Sebenarnya saya menyarankan berjualan di Car Free Day. Bisa sendiri atau dengan teman sekolahnya yang rumahnya dekat  kota. Tapi rupanya dia merasa tidak sreg. Ingin membuka usaha kalau sudah kuliah saja (masih lama yooo).
Lupakan Faiq yang belum memulai usaha di usia remaja ini. Tadi pagi, Faiq menagih saya untuk belanja ke Pasar Jungke Karanganyar. Ceritanya dia ingin terong goreng, ayam, dan membuat sambal.
Selesai berbelanja, Faiq mengajak saya ke tempat dia kulakan ketika masih SD dulu. Kali ini Faiq membeli jajanan banyak, tapi tidak untuk dijual, melainkan untuk stok menemaninya belajar. (walaupun Faiq sudah 4 tahun tidak jualan lagi, tapi pedagangnya hapal, sebab Faiq kadang-kadang membeli jajanan dalam jumlah banyak). Selain jajanan, Faiq membeli kopi. Saya jadi heran, dia memiliki kebiasaan minum kopi (tidak selalu pagi, kadang siang atau malam). Awal bulan kemarin dia membeli Fresco, pagi tadi membeli White Koffie. Saya tak pernah mengenalkan padanya minuman kopi.
Kopi dan cerita
dok.pri
Oh, mungkin kami memiliki kebiasaan yang sama, begadang. Bedanya dulu saya belajar hanya ditemani suara radio, sekarang Faiq ditemani lagu-lagu dari hp. Kalau malam telah larut, yang ada suara murotal. Bila suara murotal, hanya satu surat saja, berarti dia sambil menghapal. Tapi kalau saya panggil, tak ada sahutan, itu artinya saya harus mematikan hp.
Bagi saya, kalau Faiq membeli jajanan dalam jumlah banyak, itu pertanda mengurangi jajan di sekolah. Sekarang Faiq memiliki kesadaran sendiri mengurangi pengeluaran. Dia minta uang saku seminggu sekali. Karena uang yang diterima dalam seminggu jumlahnya banyak, dia merasa sayang untuk boros. Semoga Faiq bisa mewujudkan cita-citanya ketika masih kecil, yaitu memiliki toko atau rumah makan. Sekarang waktunya mengumpulkan modal.
Karanganyar, 29 Mei 2016