Senin, 09 Mei 2016

[Religi] Mengganti Puasa Yang Ditinggalkan

Oleh-oleh dari Tawangmangu
dok.pri
Saya berniat untuk mengganti puasa yang saya tinggalkan tahun lalu. Memang menjalankan ibadah puasa, baik puasa sunah maupun mengganti puasa wajib yang ditinggalkan sangat berat. Selain berat karena tidak ada teman yang sama-sama berpuasa juga karena godaannya tidak ringan.
Hari ini saya sudah berniat untuk berpuasa. Si kecil membangunkan saya sebelum fajar karena dia biasa buang air kecil dan minta dibuatkan susu. Si kecil tidak lantas tidur, tapi malah bermain mobil-mobilan. Saya makan sahur dengan porsi teramat sedikit. saya tidak melupakan minum madu. Sebenarnya kalau di rumah ada VCO, saya akan mengkonsumsinya, agar puasa saya tidak mendapatkan halangan. Tapi VCO belum tersedia, jadi saya cukup minum teh panas dan madu saja.
Sampai di sekolah, godaan pertama datang dari petugas yang menaruh minuman di atas meja saya. Saya bilang, minuman ini menggoda iman saya. Belum juga saya tawarkan, teman saya sudah minta izin untuk memindahkan gelas saya ke mejanya.
Godaan yang kedua adalah acara syukuran. Seorang teman yang baru saja mendapatkan kelebihan rezeki membuat syukuran kecil-kecilan. Petugas menaruh kudapan 3 jenis di atas piring plasti kecil di meja saya. Lagi-lagi, saya harus menyingkirkan kudapan ini supaya saya tidak lupa memakannya. Kudapan saya taruh di meja teman saya yang duduk di belakang saya.
Dua godaan tersebut belum seberapa. Yang ketiga, yang ini benar-benar menguji iman kita. Seorang teman mengajak makan tengleng di warung sate kambing. Astaghfirullah, beruntung saya tidak kepincut. Saya tetap bertahan.
“Bu, kalau besok bagaimana? Kita ke warung sate bareng-bareng.”
Benar-benar bikin ngiler. Kalau sekarang jelas berpuasa karena sudah separo perjalanan. Nah, kalau besok jadi terus puasa atau berhenti dulu diganti hari lain?
“Maaf, jangan menawarkan makan daging kambing mulai hari ini sampai Sabtu. Saya mau mengganti puasa yang saya tinggalkan dulu. Mumpung waktunya masih longgar. Kemarin-kemarin ada saja alasan untuk tidak berpuasa. Kalau sekarang tidak ada alasan lagi.”
“O, iya. Bulan puasa sebentar lagi ya. Memang bagi ibu-ibu, bulan ini waktunya mengganti puasa yang ditinggalkan tahun lalu,”kata teman saya, yang mualaf,  yang isterinya seorang guru agama Islam.
00000
Sebenarnya saya ingin mengganti puasa bulan Ramadhan yang saya tinggalkan sesegera mungkin. Tapi apa daya, godaan selalu ada. Saya salut pada teman-teman, saudara-saudara saya yang selalu menyegerakan mengganti puasa yang ditinggalkan tanpa halangan. Saya salut pada teman-teman yang terbiasa menjalankan puasa sunah.
Saya sendiri jauh sekali dari mereka. Saya akui, mungkin saya kurang taat ya. Mulai saat ini, saya mau mencoba menjalankan puasa sunah. Memang harus ada komitmen. Paling tidak dalam sebulan, meski hanya sehari harus menjalankan puasa sunah. Semoga Allah memberi kemudahan pada saya. Wahai teman-teman saya, jangan ganggu saya dong.
Catatan : Puasa wajib yang ditinggalkan, harus diganti pada lain waktu sesegera mungkin. Mengganti puasa yang ditinggalkan bisa dilaksanakan dari bulan Syawal sampai Sya’ban (sebelum bulan Ramadhan tahun berikutnya). Apabila tahun-tahun sebelumnya, masih ada puasa yang ditinggalkan, maka kita tetap memiliki kewajiban menggantinya. Berniat kuatlah untuk mengganti puasa yang ditinggalkan. Allah Mahatahu dan Allah Maha Pengampun. Jangan berkecil hati, tetaplah berbaik sangka pada Allah.
Kalau kita sudah dalam keadaan tidak berdaya, sakit yang tak mungkin sembuh, tua renta dan senja (lemah), pikun, tak ada waktu untuk mengganti maka membayar fidyah adalah solusi. Membayar fidyah pun ada ketentuannya ya, fidyah  bukan jalan pintas lo. Untuk fidyah, silakan Anda mencari referensinya.
Semoga bermanfaat. Ayo menulis, wahai muslimah.

Karanganyar, 9 Mei 2016