Selasa, 31 Mei 2016

Selamat Tinggal Koperasi

Menabung Uang Receh
dok.pri
Berat rasanya berpisah dengan koperasi. Bagaimanapun saya banyak mendapatkan manfaat dari koperasi. Akan tetapi beberapa bulan yang lalu, saya telah memantapkan hati untuk meninggalkan koperasi. Saya akan memilih jalan saya sendiri.
Teman-teman saya kaget ketika saya mengutarakan hal itu. Bahkan, sebenarnya untuk tahun ini saya akan dipilih kembali untuk menjabat bendahara koperasi. Keputusan saya keluar menjadi anggota koperasi sangat disayangkan teman-teman.
Saya jadi ingat kisah awal saya ikut koperasi (menjadi anggota koperasi). Tahun 1999, awal tahun ajaran baru, saya masuk di SMK Tunas Muda sebagai guru baru. Waktu itu saya baru saja pindah dari SMA N di Blora, Jateng. Kebetulan saya mengikuti suami yang tinggal di Karanganyar. Waktu itu, kami baru beberapa bulan melangsungkan pernikahan. Alhamdulillah, Allah mempercayakan kepada saya untuk segera momong anak alias saya mengandung.
Waktu itu suami masih berstatus CPNS dengan gaji hanya pas untuk kebutuhan sehari-hari. Semakin mendekati hari kelahiran, saya belum memiliki perlengkapan bayi sama sekali. Saya dan suami tak ingin merepotkan orang tua. Jalan satu-satunya yang saya tempuh adalah meminjam uang dari koperasi untuk membeli perlengkapan bayi. Uang Rp. 300.000,00 cukup untuk membeli pakaian bayi, popok, gurita, bedong, kaos tangan/kaos kaki, selimut, selendang, kain jarik, handuk dan lain-lain.
Dengan cicilan ringan, saya bisa menyelesaikan pinjaman dengan sukses. Setelah itu saya tidak mudah tergiur untuk meminjam uang di koperasi. Saya memiliki prinsip kalau tidak kepepet, saya tidak akan berhutang. Demikian juga suami saya, orangnya juga tidak mudah tergiur meminjam uang ke koperasi. Bila kami menginginkan sesuatu, tapi belum ada dana, kami cukup sabar dan sabar.
Selama saya mengikuti koperasi, saya akui, saya sangat terbantu. Kami bisa membuat rumah, memperbaiki rumah, biaya berobat di rumah sakit, juga karena kemurahan koperasi. Ya, mungkin ada unsur ribanya. Saya mengakui itu! Saya tidak memungkirinya. Saya merasa itu jalan satu-satunya yang bisa saya tempuh, sebab ketika saya datang ke saudara untuk meminjam uang, mereka juga tidak memiliki. Misalnya mereka punya uang, tapi mereka juga punya kebutuhan sendiri. Saya tidak mau mengganggu mereka. Dengan meminjam koperasi, saya dan suami tidak ada rasa pekewuh karena meminjam uang adalah salah satu hak kami.
Kalau sekarang mungkin saya dan suami akan lebih berhati-hati dalam mengelola uang. Saya lebih memprioritaskan menabung. Menabung untuk anak-anak, menabung untuk saya dan suami terutama tabungan akhirat. Semoga Allah menitipkan kemudahan buat kami, amin.
Kembali ke masalah koperasi, saya akhirnya memutuskan untuk keluar dari keanggotaan. Ketika saya ditanya alasan saya keluar dari koperasi, saya tidak perlu menjawab. Saya tidak mau menyakiti orang-orang yang telah terlanjur dekat dengan saya. Kalau saya akhirnya dianggap sok-sokan, ya biarlah mereka berbicara apa saja. Itu hak mereka dan saya tak perlu tersinggung. Dibuat gampang saja. Hidup ini indah kalau kita tidak mudah merasa sakit hati. Sedikit-sedikit sakit hati, bisa makan hati, yang rugi pasti saya sendiri.
Saya selalu terbuka dengan pendapat orang lain. Sekalipun mereka tak sepaham dengan saya, saya akan menghargai pendapat mereka. Walaupun masih ada perbedaan pendapat dengan suami, Insya Allah dia akan memahami dengan berjalannya waktu.
Sahabat, maafkan saya yang mendadak meninggalkan koperasi (ah, sudah beberapa bulan kok wacananya). Maafkan kesalahan saya ketika dulu saya menjadi pengurus koperasi. Mungkin kalau koperasi yang akan datang mekanismenya berbeda, saya bisa bergabung lagi.
Karanganyar, 31 Mei 2016