Minggu, 12 Juni 2016

Aku, Kamera Ponselku Dan Dunia Menulis


Satu tahun yang lalu, ketika rumah saya kemalingan, saya harus merelakan barang-barang berharga yang saya gunakan untuk keberlangsungan mengajar, menulis, dan mengambil gambar. Dua benda, laptop dan kamera, yang ke mana-mana saya bawa akhirnya berpindah tangan. Sebagai guru dan seorang penulis, saya sangat kecewa. Setiap hari dua benda tersebut saya bawa ke mana-mana. 

Rumah saya kan jauh dari tetangga, jadi biar aman saya masukkan tas ransel dan tas kerja. Kalau ada sesuatu yang menarik, saya langsung jepret-jepret. Beginilah penulis, ambil gambar, lalu bikin narasi, nulis di blog, ditempelin foto, terus diposting. Ternyata tulisan saya bermanfaat dan menarik, apalagi didukung gambar yang bagus.

Kopdar IIDN Solo
dok.pri
Keluarga saya, nun di Yogyakarta, tahu kalau saya kemalingan maka saya diminta segera pulang. Saya sudah siap dengan komentar saudara-saudara saya yang ceplas-ceplos tanpa tedeng aling-aling. Saya membatin, paling-paling mereka bilang sedekahnya kurang banyak! Karena saya sudah tahu watak saudara-saudara saya, saya persiapkan mental saya. Ambil napas dalam-dalam dan wushhh. 

Sampai di rumah Bapak, kakak perempuan yang kedua, mbak Anna bilang,”biarpun kita sedekahnya banyak, tapi kalau Allah menghendaki barangmu hilang, maka ada saja jalannya, yaitu kemalingan.”
Indari Mastuti, Kopdar IIDN, EPY, IIDB Me1 2016
dok.pri
Wah, saya lega. Saudara saya tidak mengatakan kalau saya pelit atau kurang sedekah. Saya dibuat melongo ketika kakak saya yang lain, mbak Lichah bilang,”Kamu belum masuk group WA keluarga. Biar kita gampang berkomunikasi, maka kamu perlu ponsel yang lebih baik.” Mbak Lichah menyodorkan ponsel ASUS Zenfone

Katanya ponsel tersebut dari mbak Anna, baru seminggu digunakan terus mati pet, wassalam. Karena discharge juga tak bisa, ponsel tersebut dibawa ke konter tempat membeli. Nah, ternyata oh ternyata kakak saya tak mengindahkan pesan dari karyawan konter. Kan sudah dibilang, baterainya tidak boleh mencapai nol. Kalau tak segera discharge, maka akan terjadi masalah. Mbak Lichah mengira kalau semua ponsel perlakuannya sama. 

Akhirnya, sang ASUS Zenfone ini harus mendapatkan perawatan secara intensif, opname. Ketika menyodorkan ponsel, kakak saya pesan pada saya bla-bla-bla. Saya manut, kebiasaan saya selalu mencharge ponsel untuk menyambung nyawa sebelum baterainya benar-benar drop. Akhirnya saya punya ponsel yang aplikasinya lumayan. Saya tak perlu repot untuk aktivitas menulis, berinternet dan mengambil gambar. 

 Saya guru sekaligus penulis. Saya bergabung di komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN) dan Kumpulan Emak2 Blogger (KEB). Oleh karena suka memosting tulisan di blog, maka saya memerlukan bahan untuk dijadikan tulisan.

 Pada dua komunitas tersebut, saya lebih aktif di IIDN dibandingkan di KEB. Setiap pertemuan dengan anggota-anggota IIDN (kopi darat = kopdar), selalu ada sesi foto-foto. Dalam serangkaian kegiatan (selama kopdar berlangsung), tiap anggota yang datang selalu memanfaatkan ponselnya untuk mengambil gambar. 

Nah, ternyata praktis banget mengambil gambar dengan ponsel. Lalu buat status tentang kopdar, ambil foto dari ponsel dan taraaa, upload. Manis sekali hasilnya. Kalau untuk kepentingan ngeblog, saya harus memindahkan foto-foto tersebut di laptop supaya gampang untuk mengedit sana-sini, atau sekedar mengubah ukuran fotonya.
Segarnya Udara Tawangmangu, Jateng
dok.pri

Saya menulis dengan tema bermacam-macam, tinggal sedang mood nulis apa hari ini, langsung nulis saja. Kadang untuk kepentingan menyesuaikan tema (mengikuti lomba penulisan, GA), saya rela untuk melakukan perjalanan wisata, terutama kuliner. Ternyata penulis juga harus jadi fotografer lo. 

Dari GA yang saya ikuti, Alhamdulillah ada rezeki nomplok. Itu juga karena dalam penulisan di blog didukung foto-foto yang saya ambil menggunakan ponsel ASUS Zenfone. Sekarang, selain menggunakan kamera ponsel, saya juga sering menggunakan kamera digital untuk mengambil gambar. 
Wisata Kuliner
dok.pri
Pernah suatu hari, saya melakukan perjalanan wisata ke Grojogan Sewu, Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jateng. Saya berusaha untuk mengambil gambar sebaik mungkin dengan kamera digital. 

 Hari masih agak gelap, sebelum berangkat, saya bertanya pada anak saya yang masih tidur. “Nok, kameranya sudah ada kartunya?” “He-eh,”jawab Dhenok, matanya masih merem. “Baterainya masih maksimal (full)?” “Iya.”
Selamat Datang Di Grojogan Sewu, Tawangmangu, Jateng
dok.pri
Saya, suami dan si kecil mulai menjalankan misi mencari inspirasi, bahan tulisan travelling. Kami lewat jalur selatan. Sesampai di Matesih, suami minta saya mulai mengambil gambar. Kamera digital saya keluarkan. 

Dan semuanya siap. Tapi, badalah….. no card. Ya ampyun…. Dhenok ini sungguh terlalu. Saya cari-cari kartu di dalam tas kamera. Tidak saya temukan kartunya. Saya berinisiatif memotret memakai ponsel ASUS Zenfone. Ketika sampai di Grojogan Sewu, saya juga mengandalkan kamera ponsel. Ya, tak apa-apa yang penting momen-momen baik ini tak terlewatkan pengambilan gambarnya. Hampir 3 jam kami berada di Tawangmangu. 

 Setelah berada di rumah dan bertemu Dhenok, saya bilang,”Nok. Kamu itu diajak ngomong mami kok nggak respek blas.” 
“Kapan, Ma?” 
“Tadi pagi. Mama nanya baterai dan kartunya sudah siap tidak? Jawabanmu he-eh. Ternyata tidak ada kartunya.” 
“Lah, aku jawab gitu ya Ma. Nggak sadar je, Ma. Lagian Mama juga nggak mencoba dulu di rumah,”Dhenok membela diri. 

00000 

 Sampai sekarang saya sangat bersyukur, ada hikmah di balik musibah kehilangan laptop dan kamera. Tapi sekarang laptopnya dah ketemu, ya ini… laptop yang saya pakai membuat tulisan. Sampai sekarang ponsel ASUS Zenfone yang saya miliki sudah menghasilkan uang dan barang. 

Dari ponsel tersebut saya beberapa kali memenangkan lomba menulis. Semoga tulisan ini bermanfaat. Tulisan ini diikutsertakan dalam 'Giveaway Aku dan Kamera Ponsel by uniekkaswarganti.com'