Rabu, 15 Juni 2016

Bila Pulang Kampung Bawalah Bekal Yang Cukup

Tanaman Hias
dok.pri
Siang tadi, saya menuju rumah adik ipar saya. Dhenok minta dijemput di rumah Om. Biasanya pulang dari sekolah, Dhenok minta dijemput di masjid yang terletak di sebelah Timur Taman Pancasila. Berhubung hujan, maka dia turun dari bis menuju rumah Om.

Sebelumnya hujan turun dengan derasnya. Saya masih berada di sekolah. Setelah hujan reda, tinggal sisa rintik yang masih sanggup membasahi baju saya, saya bergegas meninggalkan sekolah. Sampai di rumah, ternyata rintik-rintik ini kembali semakin besar.

Setelah shalat, saya berangkat ke Bejen (rumah adik ipar). Di sana Dhenok malah pingin tidur dulu. Aktivitas saya menunggu Dhenok tidur adalah blog walking. Hujan turun lagi. Bulan Juni ini hujan kerap turun. Saya bersyukur, tanaman padi di belakang rumah tak kekurangan air. Ya, baru kali ini Musim Tanam Kedua air berlimpah ruah.

Akhirnya, saya dan Dhenok bersiap pulang. Di depan toko adik ipar ada dua orang yang memanggil-manggil adik saya. Adik saya muncul. Belum juga ditanya, salah satu dari keduanya mengatakan,”Mbak, yang ini sebelah rumahnya, bertetangga.”

Saya paham maksudnya meskipun belum pernah bertemu kedua orang tadi. Saya juga tidak tahu apa yang telah terjadi sebelumnya. Ya, kedua orang tadi adalah orang yang biasa disuruh untuk membeli peti satin, kain kafan, sabun, kapur barus, dan lain-lain.

Satu orang di antaranya juga bilang bahwa dia juga belum sampai rumah, baru saja pulang dari makam. Kakinya juga kotor karena bertugas di pemakaman.  

“Meninggalnya karena apa, Pak?”
“Terpeleset di kamar mandi. Kebetulan orangnya pernah stroke.”

Sambil mengeluarkan sepeda motor, saya merenung kembali. Ajal memang datang mendadak, tiba-tiba. Tak memandang pada orang yang sehat, sakit, tua, muda, besar, kecil, laki-laki, dan perempuan. Dia datang tidak minta izin dulu. Lantas saya berpikir,  sudah cukupkah bekalku?


Saya tetap ingin membawa bekal yang cukup ketika pulang kampung. Hanya saya sendiri tak tahu itu kapan. Maka mulai sekarang saya harus mempersiapkan bekal, sedikit demi sedikit.