Minggu, 12 Juni 2016

Di Pantai Kwaru dan Pantai Baru Kita Selalu Bersama


Bersama sahabat
dok.pri
Sebenarnya jalan-jalan kali ini (Senin, 24 Agustus 2014) bukan acara keluarga. Saya dengan terpaksa mengajak si kecil, Faiz, sebab suami ada dinas keluar kota. Saya tak memiliki asisten rumah tangga, sedangkan kalau saya tinggal bersama kakaknya jelas tidak mungkin. Teman-teman saya memaklumi keadaan saya yang jalan-jalan membawa anak.

Perjalanan wisata mengambil tujuan Pantai Kwaru dan Pantai Baru, Bantul, DIY. Saya orang asli Yogyakarta piknik ke Yogyakarta, itu sesuatu banget. Saya sangat bersyukur bisa bersama sahabat-sahabat dekat, melihat air.

Baik Pantai Kwaru maupun Pantai baru, tempatnya sungguh indah. Konon kabarnya Pantai Kwaru sudah berubah drastis. Pantai Kwaru mengalami kerusakan besar ketika terjadi gempa bumi Yogyakarta tahun 2006 yang lalu. Karena tak banyak pohon besar, jadi terasa panas sekali.
Bergaya di atas motor ATV
dok.pri
Gelombang tak besar, air juga tenang. Saya tetap takut air, saya harus mengawasi Faiz ke mana dia berjalan. Dia suka dengan pemandangan di pantai. Sesekali dia menunjuk laut lepas, mungkin takjub. Akan tetapi karena mungkin dia bosan, dia mulai ngambek. Ada saja tingkahnya yang membuat saya ekstra sabar.

Teman-teman saya jadi bertanya-tanya, ada apa? Biasa, dia kan dekat Ayahnya. Kalau tak ketemu Ayah beberapa hari pasti membuat ulah. Teman-teman membujuk untuk naik motor ATV. Sewa motor ATV Rp. 25.000,00 per 15 menit. Akhirnya Faiz berboncengan dengan anak teman saya. Kelihatannya senang.
Siapa dia?
dok.pri
Saya tak bisa menikmati travelling ini. Namanya juga momong anak. Tempat berikutnya yang kami tuju adalah Pantai Baru, sebelah barat Pantai Kwaru. Nah, sampai di Pantai Baru sebenarnya pas waktunya makan siang. Kebetulan panitia sedianya mau membeli di rumah makan di Yogyakarta saja. Karena waktunya tanggung, sampai Yogya belum jam maksi, begitu sampai Pantai Baru waktu maksi telah lewat. Sebelumnya kudapan sudah habis tuntas. Ceritanya kelaparan gitu. Teman-teman membeli nasi bungkus. Isinya nasi, miehun dan telur, tidak ada pedasnya sama sekali. Yang penting Faiz kemasukan nasi, saya membeli 2 bungkus.

Di Pantai Baru tempatnya tidak panas, sejuk. Banyak pohon cemara sebagai peneduh. Di sini kami bisa bercanda ria, ngobrol sana-sini, sambil melihat laut dengan segala keindahannya. Faiz bermain pasir. Teman saya yang kebetulan bisa berkomunikasi dengan dunia lain berada di dekat pantai. Dengan menghadap ke pantai, entah apa yang dilakukannya. Tiba-tiba gelombang besar datang mencapai tempat Faiz bermain pasir. Faiz langsung saya angkat menjauh. Sandal Faiz sempat hanyut, tapi berhasil diambil teman saya.

[Saya tidak habis mengerti, kok bisa begini. Ketika perjalanan pulang ke Karanganyar, saya sempat bertanya, kok bisa begitu? Tiba-tiba air datang? Kata teman saya (mungkin bagi orang lain tidak masuk akal), waktu dia menghadap laut, dia bilang kalau “kamu ada” tunjukkan dengan air, maka airnya yang besar benar-benar datang. Saya melihat sendiri keanehan itu]

Ketika waktu kami habis, kami harus shalat dulu. Ini yang bikin saya tambah lebih sabar. Faiz tak mau ditinggal shalat, rewel. Teman saya mengajak Faiz jalan-jalan agar saya bisa shalat.

Sampai di bus, sungguh saya kaget sebab Faiz membawa kucing. Ya, ampun le Thole. Jangan bawa pulang kucing itu. Kasihan simboknya, nanti mencari. Akhirnya kucing dilepas, saya cuci tangan Faiz pakai air mineral.

Sebelum ke Malioboro, kami mampir rumah makan. Maksi yang terlambat. Tak apa-apa yang penting tetap makan nasi. Selesai makan, lalu perjalanan dilanjutkan ke Malioboro. Saya tidak jalan-jalan ke Malioboro. Saya dijemput adik saya, mampir di rumah adik saya. Ketika waktunya teman-teman yang di Malioboro akan meninggalkan parkiran timur kantor Pos Besar, saya menunggu di depan Jogja Expo Center.

Akhirnya sampai Karanganyar dengan selamat. Saya menelepon suami, minta dijemput. Oleh karena suami lelah, tak bisa menjemput. Akhirnya pertama kalinya saya pulang dari sekolah menuju rumah pada malam yang telah larut. Sesekali Faiz saya tepuk, saya ajak ngobrol biar tidak ketiduran, membonceng di depan saya. Iz, romantic banget ya seharian kita nempel kayak perangko.