Minggu, 26 Juni 2016

Menjenguk Tetangga Sakit Kanker Payudara

Kebun Teh, Kemuning, Ngargoyoso, Kab. Karanganyar
Dok.pri
Menjenguk Tetangga Sakit Kanker Payudara
Hari ini saya menjenguk tetangga kampung yang sedang sakit. Empat bulan yang lalu tetangga saya tadi tergolek di tempat tidur tak bisa mengerjakan apa-apa. Kabarnya sakitnya luar biasa, bahkan untuk memiringkan badan saja tak mampu, harus dibantu orang lain.
Sebelum sakit, tetangga saya adalah perempuan pekerja keras. Pekerjaan apa saja dilakukan asalkan halal. Setahu saya beliau adalah buruh tani. Tiap musim tanam, beliau ikut menanam padi, lalu menyiangi rumput. Berangkat kerja setelah subuh, pulangnya matahari sudah akan tenggelam. Dalam bekerja, beliau memiliki team khusus. Team ini terdiri dari beberapa perempuan tangguh.
Saya sering mengamati beliau kalau sedang menanam padi di samping rumah saya. Sambil bekerja beliau ngobrol dan bersenda gurau dengan sesama teman menanam padi. Pada suatu musim tanam, saya tak mendapatkan beliau ada dalam satu rombongan buruh tani. Suatu ketika saya bertanya pada tetangga kampung, ternyata beliau sedang sakit.
Awalnya beliau mengatakan sakit badannya. Saya tidak berani bertanya lebih jauh. Tadi pagi, adalah kedatangan saya yang keempat. Kondisi beliau masih sama, bahkan sekarang malah kedua kakinya harus diikat dengan kain jarik agar tidak bergerak bebas tanpa control (menurut beliau dan saudaranya kedua kakinya bisa bergerak sendiri tanpa digerakkan. Setelah itu kakinya sulit untuk dikembalikan seperti pada posisi semula bila tak dibantu orang lain.
Saya tak bisa membayangkan, betapa berat penderitaan wanita perkasa ini. Kini semua aktivitasnya dikerjakan di atas tempat tidur. Beruntung, kalau ditinggal suami dan anaknya bekerja, beliau ditunggui oleh saudaranya yang rumahnya berada di samping rumahnya.
Sudah segala macam pengobatan ditempuh. Dulu ketika keluhannya pada tulang, beliau sudah dibawa ke ortopedi. Pengobatannya juga sudah sampai Yogyakarta. Dan akhir-akhir ini pengobatan dan pemeriksaan dilakukan di RS Muwardi, Jebres, Surakarta.
Menurut cerita beliau dan saudaranya, di RS Muwardi dilakukan pemeriksaan scan (beliau bercerita badannya dimasukkan dalam terowongan). Kata dokter yang memeriksa, sakit yang diderita tetangga saya karena ada benjolan di payudara sebelah kanan.
[Memang ketika saya datang, beliau pertama kali menunjukkan pada saya payudara yang ada benjolannya dan ditekan-tekan. Menurut beliau sudah 5 tahun ini benjolan itu ada dan tidak terasa sakit sama sekali]
Kata dokter penyakit beliau bisa sembuh kalau benjolan itu diambil (artinya benjolan itu kanker atau tumor). Sayangnya, beliau tak tahu kalau itu kanker dan mungkin tak diberi tahu.
Setelah cukup lama saya menjenguk tetangga kampung, akhirnya saya pulang. Saya ceritakan keadaan tetangga kampung pada suami. Seperti biasa, suami tak menanggapi, tapi memperhatikan cerita saya.
Sore harinya, suami bercerita kalau dia bertemu salah satu saudara tetangga kampung yang sakit tadi, sebut saja Mas A. kata Mas A, sebenarnya saudaranya menderita kanker payudara stadium 4. Astaghfirulloh. Ibu, semoga cepat sembuh ya.

Manusia hanya bisa menjalani semua yang sudah menjadi bagian hidupnya. Jalan cerita sudah disiapkan Yang Maha Pandai, dan kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi. Maka mulai sekarang perbanyaklah bekal untuk pulang kampung.

Saya hampir mewek, teringat Ibu mertua saya yang dulu mengidap tumor limfa stadium lanjut. Saya dan suami merahasiakan sampai beliau meninggal.