Senin, 06 Juni 2016

Tak Pantaskah Kami Naik Motor Lebih Baik?

Di depan Candi Ceto
dok.pri
Beberapa teman saya jelas meragukan cerita saya yang akhirnya sampai di Candi Sukuh beberapa waktu yang lalu. Apalagi kemarin malah sampai Candi Ceto yang tempatnya lebih tinggi dan ekstrem. Mereka memiliki alasan kok kalau tidak percaya. Tapi saya juga punya alasan untuk mempertahankan cerita saya. Bukan cerita fiktif yang mengada-ada. Ini kenyataan! Kecewa dan sakit hatikah saya ketika mereka meragukan cerita saya? Tidak sama sekali! Saya memang tidak pernah menanggapi siapapun yang melihat saya dengan sebelah mata sambil memicingkan matanya. Biarlah, itu hak mereka.
“Naik apa?”
“Sepeda motor.”
“Nggak mungkin kuat sepeda motormu untuk diajak naik sampai Ngargoyoso.” (motor saya Impressa)
“Bukan sepada saya. Sepeda suami.”
Mereka semakin tak percaya. Sepeda motor suami Yamaha Alfa keluaran tahun 1993-1994. Memang saya dan suami kadang dicemooh mengendarai sepeda penuh kenangan tersebut. Apakah saya dan suami bersalah bila memakai kendaraan tua tersebut?
“Naik Alfa?”
“Bukan, Revo.”
“Oh. Motornya baru ya?”
“Nggak juga, sudah lama kok.”
Suatu saat saya memakai motor suami. Kebetulan suami ada tugas ke Semarang. Daripada motor hanya diparkir di Kantor Dinas Dikpora, mending saya pakai. Sampai di sekolah teman saya menagih syukuran. Syukuran apaan? Ternyata syukuran sepeda motor baru. Padahal sepeda motor sudah lama saya miliki.
Ya, mungkin saya memang tidak dipercaya kalau bisa naik motor yang lebih baik dari sebelumnya. Tetap bersyukur, karena dengan bersyukur siapa tahu besok saya bisa membeli kendaraan yang lebih baik lagi. Amin!
Suatu hari teman suami bertanya pada saya ketika suami belum pulang dan dihubungi tidak bisa.
“Pak Budi naik motornya sendiri atau yang hitam?”
“Yang biasa dipakai sekarang.”
“Kan punya pak Budi  yang Alfa itu.”
Dalam hati saya tersenyum. Bu ibu, itu bukan motor pinjaman. Itu yang hitam motor suami juga, asli lo, nggak bohong. Belinya juga ada tanda terimanya lo.
Kalau yang ini mungkin lebih parah lagi kalimatnya. Tapi saya juga Cuma tersenyum saja. Wah benar, kami tidak pantas memakai motor baik di mata orang-orang. Mungkin karena terbiasa apa adanya. Atau mungkin dinilai nggak mampu? Ya, tak apalah yang penting tidak minta-minta orang lain.
“Bu motornya Pak Budi yang elek (jelek) itu di mana?”
“Itu motornya tidak jelek kok Bu, masih baik. Sementara disimpan dulu.”
Saya hanya membatin, ternyata ukuran orang-orang menilai orang lain dilihat dari apa yang dimiliki dan dapat dipamerkan. Yang tersimpan rapat tidak diketahui orang, tidak bisa dinilai karena tidak terlihat. Bagi saya tidak masalah.
Semoga motor ayah yang suaranya trontong-trontong kembali menggema, dan orang-orang mengenal lagi suami saya yang dulu, bukan yang sekarang.