Minggu, 17 Juli 2016

Besok Senin Hari Pertama Masuk Sekolah #17

X Imersi SMA Karangpandan
dok.Faiqah Nur Fajri
Besok Senin Hari Pertama Masuk Sekolah #17
Sepertinya libur kenaikan kelas dilanjut dengan libur akhir puasa dan Idulfitri, menjadi libur panjang. Ya, sebulan penuh anak-anak libur sekolah. Bagi anak-anak yang naik tingkat, mungkin hal ini tidak menjadi masalah. Nah, untuk yang pindah jenjang sepertinya harus melakukan penyesuaian.
Dua Faiq-Faiz, tentu saja memiliki cerita sendiri. Faiq naik kelas XI SMA. Dia sudah mempersiapkan semuanya untuk hari pertama masuk sekolah dengan matang. Baju seragam, tas dan sepatu sudah siap. Pakaian, memang ada sedikit perubahan, bedge-nya harus diganti dari tingkat X menjadi XI. Dengan senang hati kemarin saya lihat sudah memasang bedge dengan cara menjahit dengan tangan, bahasa Jawanya ndondomi. Karena sejak kelas 5 SD Faiq sudah akrab dengan dunia per-ndondoman, dia tak mengalami kesulitan. Berarti besok pagi siap berangkat.
Berbeda dengan satunya yaitu Faiz. Faiz masuk sekolah setingkat dengan SD, memang namanya SDIT. SDIT yang ini tidak sama dengan SDIT umumnya. Saya tak perlu menceritakan secara detail. Awalnya SDIT ini menyerupai pondok pesantren dengan pelajaran agama sebagai pelajaran utama (porsinya lebih besar). Akan tetapi kemudian dikembangkan menjadi sekolah dasar dan jam pelajaran umumnya lebih banyak (dari sebelumnya).
Kalau dahulu (dahulu sekali alias awal berdiri), lulusan pondok ini tidak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi di sekolah umum karena tidak memiliki ijazah SD atau yang setara. Karena banyak santri yang ingin melanjutkan ke sekolah umum, akhirnya ponpes tadi menjadi SD.
 Saya harus bekerja lebih keras untuk menyertai penyesuaian Faiz ini. Memang enam hari terakhir saya sudah berhasil mengatur pola bermain dan belajar menyenangkan untuk Faiz. Namun sayang, hari Jumat dan Sabtu, suami mengubah pola saya ini. Akhirnya usaha keras saya kalah dengan pola yang baru diterapkan suami.
Tadi pagi bahkan sudah terjadi aksi marah karena mau bermain game. Bermain game, itu bukan yang saya ajarkan dan tak pernah saya izinkan. Ternyata kemarin waktu mengikuti halal bi halal di sekolah suami, anaknya rewel. (sebenarnya kami berempat menghadiri acara ini. Saya izin meninggalkan acara ini untuk menghadiri rapat kedinasan di sekolah saya). Kalau rewel, ada saja ulahnya yang membuat kami menahan emosi.
Nah, kakaknya punya ide. Agar tak ngamuk-ngamuk maka Faiz diberi mainan game dari hape. Kata kakaknya Faiz terus anteng. Tetapi dampaknya, sampai malam hari yang dipegang Cuma hape. Ketika saya bilang mainannya selesai ya Le, dia tetap asyik.
Untuk meredam kemarahan dan keributan Faiz, Ayah mengajak naik sepeda keliling sawah dan pasti nanti mampir sarapan “soto sawah”. Sebenarnya bersepeda adalah kebiasaan rutin yang dilakukan Ayah dan Faiz setelah bangun tidur.
Kembali pada besok Senin adalah hari pertama masuk sekolah. Zaman memang sudah berubah. Saya tidak bisa melakukan sesuatu seperti waktu Faiq masuk SD dulu. Semua serba manis-manis saja, datar, berjalan apa adanya. Kali ini saya harus lebih perhatian kepada Thole.
Besok saya harus ikut sekolah, tidak sekadar mengantar. Besok hari pertama sekolah, Faiz akan diberi jadwal pelajaran, jadwal pemakaian seragam sekolah, diberikan buku penghubung antara wali dan pihak sekolah. Saya harus berkenalan dengan sang ustad. Saya harus meyakinkan padanya bahwa semua baik-baik saja. Kemarin waktu rapat wali santri, pimpinan sekolah sudah membeberkan dengan gamblang tentang pengajaran di pondok ini. Kami sebagai wali harus ikhlaskan anak-anak belajar di sini. Semua akan baik-baik saja.
Kalau Thole masih bersifat kanak-kanak, semoga di sini bisa mandiri. Kalau Thole memiliki kekurangan di bidang akademik, semoga di bidang agama dia lebih oke. Itulah harapan saya di hari pertama masuk sekolah besok.
Karanganyar, 17 Juli 2016