Kamis, 14 Juli 2016

Setelah Ramadan, Sudahkah Kita Menjadi Lebih Baik? #14

Tak Ada Kebohongan
dok.pri
Setelah Ramadan, Sudahkah Kita Menjadi Lebih Baik? #14
Selama Ramadan, kita berusaha menjaga puasa kita, shalat kita, sedekah kita, baca quran kita dan ibadah lainnya. Setelah Ramadan berlalu, sehari kemudian dengan penuh suka cita kita sambut hari kemenangan. (Kemenangan dilihat dari sudut manakah? Kemenangan yang bagaimana?)
Kita berusaha untuk menemui orang tua, saudara, kerabat, handai taulan dan tetanggga. Baik tetangga dekat maupun yang jauh. Bahkan kita rela menemui orang yang baru kita kenal. Sungguh sangat terpuji tindakan kita. Sebenarnya semua itu tidak terlalu muluk-muluk dan berlebihan.
Pada orang yang kita temui, lantas kita bermaaf-maafan. Mengucapkan permintaan maaf yang panjang lebar, sungkem dan biar kelihatan khusyuk diiringi tangisan dan derai air mata haru. Satu sama lain akan melakukan hal yang sama. Bagus, itu bagus, tidak ada jeleknya.
Suasana haru berubah menjadi ceria. Canda dan tawa menyertai obrolan, sehingga semuanya berjalan baik dan suasana jadi hidup. Makan besar tersedia, camilan dari yang biasa hingga yang luar biasa dihidangkan dan angpao siap dibagikan. Angpao tidak sebatas buat anak-anak, melainkan orang tua juga mendapatkan dari saudaranya yang lebih mampu. (saya termasuk orang tua yang dapat angpao dari kakak, karena memang perlu angpao dilihat dari tingkat perekonomian. Haiyahh, ini modus banget!)
Kalau di instansi, suasana halal bi halal sedikit agak resmi. Acaranya juga disusun dengan rapi. Tidak semua orang boleh bicara. Yang boleh bicara hanya pembawa acara, pemberi sambutan dan pengikrar saja. Yang lain diam, duduk manis, mendengarkan sambil menikmati kudapan. Dengan teman kiri kanan boleh bicara tetapi pakai bahasa isyarat atau bisik-bisik saja.
Setelah acara selesai, dilanjutkan bersalam-salaman. Ekspresi teman-teman memang macam-macam. Tapi intinya suka cita setelah bermaaf-maafan. Harapannya mulai hari itu, meminimalkan berbuat salah pada kawan-kawan baik disengaja maupun tak disengaja. Amin, semoga bisa menjauhkan diri dari khilaf dan dosa.
Lalu, apa jadinya bila di hari pertama ngantor sudah ada teguran keras, sudah mulai ada yang main ngancam, sudah mulai perang? Lantas, Ramadan kemarin rapornya bagaimana? Apakah Ramadan berlalu, kesalahan bisa diawali? Manakah kata-kata mohon maaf lahir dan batin?
Memang mengucapkan mohon maaf lahir dan batin itu gampang. Apalagi kalau Cuma menuliskannya di FB, twitter, group WA, seolah sudah cukup. Ternyata praktek dari mohon maaf lahir dan batin dan tak mengulangi kesalahan lagi itu tidak segampang copy paste.
Sebagai manusia, kita bisa memulai dari hal-hal yang sederhana, dari hal kecil, memaafkan dan minta maaf. Menghilangkan dendam kesumat dan menjauhkan diri menonjolkan keakuan dan keangkuhan.
Manusia tempat salah dan khilaf. Bila kita berhadapan dengan anak kecil maka katakanlah anak ini kesalahannya lebih sedikit dari saya. Kalau melihat orang yang lebih tua, katakanlah orang tersebut lebih dahulu bertaubat dan lebih lama melakukan amal baik dari saya.
Ramadan adalah sarana memperbaiki diri. Maka setelah Ramadan tentu kita menjadi lebih baik.  
Karanganyar, 14 Juli 2016