Kamis, 21 Juli 2016

SMS Sedikit Bohong Dari Suami #21

Hijau, sejuk
dok.pri

SMS Sedikit Bohong Dari Suami #21
Faiz baik-baik saja, semuanya aman terkendali. Hati saya berbunga-bunga membaca pesan sms dari suami. Alhamdulillah, ternyata Faiz memang selalu baik-baik saja bila dengan Ayah. Kalau dengan saya selalu membuat ulah. Semoga di masa yang akan datang kamu menjadi anak yang selalu baik-baik saja ya le.
Dua hari diantar Ayah, selalu baik-baik saja laporannya. Bagaimana saya tidak terharu? Ternyata Ayah memang bisa diandalkan untuk mengendalikan Faiz.
Seperti biasa, saya dan suami selalu menaruh hape begitu saja bila sudah sampai rumah. Bertukar hape lalu membuka-buka sms atau internet, itu hal biasa dan wajar. Kami tak perlu nyolong-nyolong atau curiga tentang isi sms di hape.
Iseng-iseng saya membuka hape suami. Lalu beberapa pesan sms saya buka. Ternyata suami telah berbohong pada saya. Mungkin inilah yang namanya berbohong demi kebaikan. Dua dari beberapa sms tersebut isinya suami izin pada sekolah datang terlambat karena mengantar anak. Bagi saya mengantaar Faiz memang perlu perjuangan. Dan tentu saja mengantarnya bukan mengantar biasa. Alhamdulillah, pihak sekolah mengizinkan.
Ketika saya tanyakan pada suami, jawabnya hanya singkat,”semua bisa diatasi.” Padahal ustaz yang mengatasi juga perlu tenaga yang kuat karena pemberontakan Faiz tidak sekadarnya. Saya membayangkan, betapa hebatnya sang ustaz telah berhasil menaklukkan Faiz dengan caranya.
Hanya saya heran, selama ditinggal sampai jam 3 sore, Faiz tidak rewel. Saya sempat bertanya pada ustazah, wali kelasnya.
“Nggak apa-apa, Ibu. Insya Allah semua baik-baik saja. Sudah ada perkembangannya.”
Terus terang, saya harus berkata sejujurnya.
“Anaknya sudah tak mau kembali duduk di bangku TK. Tapi dia belum bisa fokus. Kalau diajari baca-tulis ada saja alasannya.”
“Tenang Ibu. Ibu tak perlu khawatir.”
Ternyata suami juga cukup menenangkan saya. “Nggak papa, Mi. Besok Insya Allah lebih baik.”
Saya dan suami berharap sangat besar, Thole sing bagus dewe menjadi anak yang manis-manis saja. (Kalau tak bisa manis, itu artinya super kreatif. Dan ibunya juga super sabar).
Dua anak saya adalah dua yang beda. Keduanya istimewa tapi ada perbedaannya. Dan saya tidak boleh memperlakukan sama pada mereka. Dua yang beda inilah yang memberikan warna di rumah. Pagi, siang, petang dan malam. Suara-suara riuh mereka, padu, adu mulut adalah hal yang tak bisa saya cegah, tapi saya tetap mengarahkan. Bagaimanapun suara riuh mereka adalah pengobat rasa.
Kalau sms suami yang bohong itu hanya untuk menenangkan saya, itu juga ada hikmahnya. Karena kalau suami jujur, saya akan cemas dan frustasi, banyak mikir dan saya bekerja di sekolah tak tenang.
Hebatnya suami adalah membiarkan saya bekerja secara profesional, tidak terganggu dengan masalah Thole yang bisa diatasi.

Karanganyar, 21 Juli 2016