Jumat, 12 Agustus 2016

Faiz Saat Hari Pramuka di Bumi Perkemahan

Kemah di rumah
dok.pri
Faiz Saat Hari Pramuka di Bumi Perkemahan
Sore ini, Faiz ikut ayah ke bumi perkemahan, Delingan, Kabupaten Karanganyar. Saya tidak ikut serta sebab saya harus menjemput kakak Faiq yang mengikuti les tambahan. Biasanya, ayah pulang ke rumah setelah Isya’. Istirahat di rumah sebentar lalu kembali ke buper lagi.
Tepat satu tahun yang lalu, saya dan Faiz ikut di buper sejak sore. Ayah menyiapkan semuanya untuk murid-muridnya, terutama menyiapkan lampu penerangan. Giliran saya mengikuti Faiz ke mana dia melangkah. Saya khawatir, meskipun buper terang tetap saja situasinya lain.
Tiba-tiba Faiz rewel, mulai minta yang aneh-aneh. Memang di buper banyak pedagang yang berjualan makanan dan minuman. Saya tidak terbiasa membelikan Faiz jajanan di keramaian. Tujuannya agar Faiz tidak sering minta jajan bila bepergian.
Memang Faiz tidak minta makanan dan minuman, dan inilah anehnya. Faiz menunjuk suatu arah. Katanya tempatnya terang, ada penjual mainan. Saya bilang gak ada. Taapi dia tetap ngotot. Padahal yang ditunjuk bukan tempat yang terang benderang. Dan saya berusaha mengikutinya.
“Itu tempat yang gelap, Le.”
“Mama ki lo. Itu ada penjualnya, yang membeli juga banyak.”
“Mana? Nggak ada.”
Saya mengikuti langkahnya. Lalu saya bilang dengan tegas. “Faiz, itu tempatnya gelap. Gak ada pedagangnya.”
“Tadi di sini ada rame-rame. Ada yang membeli jajanan.”
Faiz saya pegang, lalu saya gendong.
“Faiz, dengarkan mama. Ini tempatnya gelap. Faiz bilang terang. Yang terang sebelah sana.”
Saya menunjuk tempat yang terang. Ada banyak pedagang yang menjajakan dagangannya.
“Ah aku salah, Ma.”
Saya lega. Ternyata tidak seperti yang saya duga sebelumnya. Saya takut Faiz bisa melihat “sesuatu” lagi seperti ketika masih kecil.
Akhirnya, saya harus membelikan minuman untuk Faiz. Agar dia tak rewel lagi. Ketika saya ceritakan kejadian barusan pada suami, suami tersenyum.
“Gak papa. Maksudnya Faiz barangkali mau menunjuk tempat orang jualan makanan dan minuman. Nah karena saking banyaknya orang, saking banyaknya tempat yang terang, saking banyaknya suara dan pengeras suara itulah yang membuatnya bingung,”kata suami.
00000
Hari ini saya sempat khawatir, Faiz dan suami belum juga pulang. Pikiran saya, kalau di jalan nanti mengantuk terus bagaimana? Saya mengirim pesan lewat sms. Sms tidak dibalas, tidak sampai 10 menit kemudian, suara sepeda motor masuk garasi terdengar. Alhamdulillah, mereka sudah sampaai rumah.
Faiz saya ajak tidur. Setelah istirahat sebentar, suami pamit akan ke buper lagi. Semoga selamat sampai tujuan. Sebenarnya saya kasihan pada suami. Tiap ada kegiatan sekolah/kecamatan selalu kurang istirahat. Tapi suami selalu menenangkan saya,”Namanya juga bekerja. Sudah dibayar Negara, ya harus bertanggung jawab.”
00000
Karanganyaar, 12 Agustus 2016