Selasa, 02 Agustus 2016

Kapan Sebaiknya Anak-anak Belajar Membaca?

Dua Istimewa
dok.pri
Kapan Sebaiknya Anak-anak Belajar Membaca?
Ketika saya duduk di bangku SD dahulu, saya baru mulai belajar membaca: ini budi. Di TK baru dikenalkan huruf dan angka-angka. Kalaupun diajari menulis, cukup menulis namanya sendiri.  Pada saat kelas 1 SD, barulah diajar membaca, menulis dan berhitung.
Beberapa tetangga saya bahkan tidak masuk TK terlebih dahulu. Mereka langsung kelas 1 SD. Meskipun tidak melalui jenjang prasekolah, anak-anak juga bisa membaca. Belajar membaca dengan asyik. Setiap siswa diminta untuk maju di depan papan tulis, membawa kayu untuk menunjuk tulisan. Waktu itu guru kelas 1 di SD saya cukup sabar.
Beberapa tahun yang lalu, anak-anak usia prasekolah tidak diizinkan belajar calistung di TK. TK adalah tempat bermain anak. Di TK hanya ada permainan dan permainan. Akan tetapi permainannya yang menyenangkan. Setelah masuk SD, anak-anak sudah mulai belajar. Belajar yang benar-benar belajar secara serius.
Ketika si Dhenok masih TK, di rumah saya perkenalkan huruf dan angka-angka. Saya juga mengajarinya membaca. Oleh karena Dhenok mau diajari membaca dan menulis, maka ketika kelas 1 SD tidak ada kesulitan.
Berbeda dengan kakaknya, si Thole bila di rumaah saya ajari mengenal huruf dan membaca tapi tidak mau. Thole tidak bisa fokus, dia masih ingin bermain-main. Meskipun saya sudah menyediakan alat tulis, buku-buku belajar membaca, tetap saja dia tak mau belajar membaca.
Thole selalu beralasan saja. Mana yang lelah, mengantuk, pingin bermain dan beberapa alasan lainnya. Saya memang tidak mau memaksa. Menurut saya, kalau di TK tak boleh diajari calistung maka di SD tugas guru kelas 1 adalah mengajari anak untuk membaca dan menulis.
Dari sekolah, Thole diberi beberapa buku pegangan. Saya mencoba membuka-buka isinya. Badalah… tidak ada pelajaran membaca dan menulis. Pelajarannya sudah masuk ke inti pelajaran.
Contoh materi pelajaran Bahasa Indonesia. Tema: diri sendiri. Materinya yang disampaikan adalah mendengarkan.
.nama saya isa
.umur saya 6 tahun
.saya adalah murid sekolah dasar islam terpadu
.dan seterusnya……
Di bagian yang lain ada perintah: jawablah pertanyaan di bawah ini sesuai dengan bacaan di atas:
1.      .siapa yang memperkenalkan diri?
2.      .berapa umur isa?
3.      .di mana sekolah isa?
4.      .dan seterusnya
Di bagian yang lain ada perintah : tulislah data dirimu di bawah ini!
1.      .nama saya …..
2.      .umur saya …..
3.      .saya tinggal di …..
4.      . dan seterusnya
00000
Kalau di TK tidak boleh diajarkan calistung, yang akan saya tanyakan: kapan dan di mana anak belajar membaca? Seperti kasus si Thole, anak belum tentu mau belajar membaca di rumah dengan orang tua/saudaranya. Saya sendiri sudah tak kurang-kurang cara membujuk Thole agar mau belajar membaca. Dinding rumah saya tempeli fotokopian buku belajar membaca yang tulisannya besar-besar. Tujuannya adalah biarpun Thole bermain, saya berharap dia tertarik dengan rangkaian huruf-huruf tersebut. Ternyata masih kurang tertarik.
Kalau sekarang usianya 6 tahun, seharusnya sudah mau diajak belajar membaca (kakaknya dulu seusia dia sudah lancar membaca). Saya minta bantuan pihak pondok untuk memberikan pelajaran “membaca” bagi Thole. Di pondok, Thole belajar sampai sore hari. Harapan saya, Thole mau belajar membaca bila diajar ustaznya. Ternyata benar, sedikit demi sedikit Thole mulai mau memperhatikan deretan huruf yang saya tempel di dinding.
Setiap anak memang beda dan unik. Saya tidak akan memaksakan diri, memaksa Thole agar sama dengan Dhenok. Mereka memang istimewa meski beda. Dan sebagai anak yang istimewa, Thole harus diperlakukan secara istimewa. (ini nasihat buat saya sendiri, saya bukan mendikte orang lain lo)
Thole memiliki kisah masa lalu yang cukup melelehkan air mata. Saya tidak akan keras padanya. Saya tahu keistimewaan Thole, maka saya ceritakan ke ustaz-ustazahnya. Saya berharap mereka, guru-guru Thole memaklumi.  Tidak hanya Thole yang belum bisa membaca. Ada beberapa temannya yang belum bisa membaca dan orang tuanya juga tenang-tenang saja.
Saya dan beberapa orang tua yang menyekolahkan anak-anak di pondok tidak begitu memaksakan kehendak. Biarlah anak-anak belajar mengalir dan mengikuti arus. Kami yakin lama-lama juga bisa membaca. Yang penting hafalan surat pendek dalam Alquran makin bertambah, akhlak mereka baik dan shalat mereka juga baik.
Ternyata saya tak perlu pusing dan khawatir. Pasti ada jalan keluar, jalan terbaik buat Thole.
Karanganyar, 2 Agustus 2016