Rabu, 24 Agustus 2016

Melatih Disiplin dan Kebiasaan Tertib

Melatih Disiplin dan Kebiasaan Tertib
Sesekali saya membaca artikel yang mengupas tentang pendidikan ala Finlandia dan disiplin ala anak-anak Jepang. Kali ini saya tidak akan membandingkan pendidikan ala Negara luar dan disiplin ala Negara luar juga. Cukup ala Indonesia, karena Indonesia adalah negeri yang berbudaya.
Di rumah tetangga saya sering digunakan untuk mengaji Ibu-ibu. Dahulu pengajian ini khusus untuk belajar membaca Al Quran dengan metode Iqro. Setelah menyelesaikan Iqro lalu belajar membaca Al Quran (ayat-ayat Al Quran). Sekarang malah belajar qiroah.
Ada yang menarik dari berkumpulnya Ibu-ibu pengajian ini, yakni mereka duduk lesehan. Dengan demikian sandal yang dikenakan harus dilepas di depan pintu.  Sandal-sandal tersebut sudah tertata rapi. Tapi ada seseorang yang siap lebih merapikan lagi. Sandal-sandal tersebut ditata dihadapkan ke luar. Kalau pengajian selesai dan Ibu-ibu akan pulang, mereka tinggal memakai tanpa membalikkan sandalnya lebih dahulu.
Selain di rumah tetangga saya, di sebuah sekolah SMP di Kabupaten Sukoharjo juga menata sepatu siswa-siswi dengan rapi. Siswa-siswi wajib shalat berjemaah di masjid. Sepatu milik siswa-siswi ditata rapi menghadap ke luar. Meskipun murid yang akan shalat berjemaah banyak, tapi mereka tertib sekali.
Semua itu memerlukan proses. Melatih disiplin dan tertib tidak hanya memerlukan 1-7 hari saja melainkan berhari-hari bahkan berbulan-bulan. Dari kebiasaan baik itulah akan diikuti adik kelas berikutnya.
Itu saja penataan sepatu dan sandal tanpa rak sandal/sepatu. Seandainya tersedia rak sandal/sepatu, saya yakin akan lebih rapi lagi. Oleh sebab itu biasakan anak-anak untuk merapikan sandal dan sepatunya. Mengajak anak menata rapi sandal/sepatu dengan cara memberikan teladan. Insya Allah anak akan terbiasa.
Kalau kebiasaan baik ini belum bisa dilakukan anak-anak, sebagai orang tua kita harus  bersabar.
Karanganyar, 24 Agustus 2016