Senin, 26 September 2016

Jangan Menunda Menulis

Noer Ima Kaltsum : Jangan Menunda Menulis
dok.pri
Saya menghidupkan hape. Ketika saya klik WA,  WA diserbu pesan masuk banyak sekali dari group WA dan chat pribadi. Ada yang membuat saya ingin bersegera melihat chat. Dari Ustazahnya si Thole sing bagus dewe. Isinya : Bu, ni faiz katanya sakit perut, mau dijemput tidak? #Astaghfirullaah. Glek! Pesan dikirim pukul 10,15, sedangkan saya membuka hape pukul 12.30.
Tanpa pikir panjang saya langsung menelepon suami. Saya meminta suami untuk segera menjemput Thole, tidak pakai nanti. Loh, kok bukan saya yang langsung menjemput. Huh, nggak tanggung jawab!
Saya bilang kepada teman-teman panitia MID kalau anak saya di pondok sakit. Rata-rata mereka menganjurkan saya untuk segera pulang. Saya bilang kalau suami sudah meluncur ke pondok.
Tugas siang ini adalah lembur untuk menyelesaikan menyiapkan soal, lembar jawaban dan lain-lain yang akan digunakan untuk MID. Terpaksa saya tidak lembur sampai selesai semua. Saya harus pulang.
Meskipun saya sudah minta kepada suami untuk menjemput Thole, akhirnya saya juga ke pondok. Saya bertemu wali kelasnya. Menerima penjelasan sang wali kelas, saya menceritakan yang terjadi pada pagi hari. Thole memang bilang perutnya sakit (BAB encer). Makannya tidak bernafsu, tidak seperti biasanya.
Sampai di rumah, si Thole kelihatan lemas. Sedikit kuyu, badannya panas. Sore hari saya periksakan ke dokter. Di rumah makanan dan minuman yang baru saja masuk keluar semua, muntah. Saya paksa untuk makan 2 sendok saja memakai keripik usus. Alhamdulillah tidak muntah.  Sebelum tidur, Thole minta untuk makan nasi lauk keripik usus lagi.
Thole terus bleksek, klipuk, tidur manis. Giliran saya akan menulis. Menyelesaikan tugas membaca buku. Ceritanya mau ikut lomba menulis karya ilmiah yang diselenggarakan Perpustakaan Karanganyar. Sebenarnya saya tahu sudah sejak lama. Biasalah, menunda  dan menunda. Padahal jauh hari bisa dicicil menulis sehari satu halaman. Coba, 30 hari 30 halaman ya kan?
Tapi memang sensasinya kalau menulis itu di depan pintu DL. Ah, mungkin karena saya masih belum bisa diajak bekerja ber-DL. Bekerja ber-DL, kasihan anak-anak dan suami. Mereka bakal protes keras.
Semoga masih ada waktu untuk menulis dan menuntaskan buku bacaan. Sabar-sabar, ini menulisnya juga sambil mengawasi si Thole. Sebentar-sebentar pegang dahi dan lehernya Thole, sudah meredakah suhu badannya?
Sepertinya tidurnya nyaman, tidak gelisah. Anteng ya le, mesakke mami nek dirimu panas. Lekas sembuh cah bagus, terus besok ngopeni ayam yang terlantar seharian ini.

Karanganyar, 26 September 2016