Jumat, 09 September 2016

Suvenir Kipas dari Jipangan, Kasongan, Bantul, DIY


Pengerjaan Kipas
dok.pri
Suvenir Kipas dari Jipangan, Kasongan, Bantul, DIY
Saya gagal memahami rencana dadakan suami. Pagi Minggu, 4 September 2016, setelah sarapan, saya dan Thole diajak suami naik sepeda motor menuju Madukismo. Kebetulan ada barisan truck pengangkut tebu yang antri di bagian penimbangan. Thole sangat suka, karena momen ini sangat berarti baginya. Saya bisa menjelaskan tahapan pembuatan gula.
Perjalanan dilanjutkan ke Kasongan lalu ke Selarong. Dan yang terakhir tujuannya adalah ke Pantai Baru-Pantai Kwaru. Beberapa waktu yang lalu, saya sudah menceritakan perjalanan ke Selarong. Untuk Pantai Baru-Pantai Kwaru, perjalanan kami hentikan padahal sudah hampir sampai obyek wisata. Maklum, Thole tidak mau karena merasa pernah saya ajak.
Bambu sebagai bahan baku
dok.pri
Kali ini saya mau menulis tentang suvenir kipas yang diproduksi di Jipangan, Kasongan, Bantul, DIY. Ketika melewati sentra industry gerabah, saya jadi ingat ketika SMA mengikuti ekstrakurikuler KIR. Anggota KIR mengadakan observasi ke Kasongan. Di sepanjang pinggir jalan dan kampung-kampung, sebagian besar dijajakan aneka macam gerabah dan keramik.
Perjalanan dilanjutkan menuju kampung yang belum pernah saya lewati. Suami menawarkan pada saya untuk bertanya-tanya pada salah satu warga yang memroduksi kipas untuk suvenir. Kebetulan saya melihat seorang anak yang tengah membuat kipas dari bambu. Bahan baku kipas ini adalah bambu dan kain perca.
Dijemur agar awet
dok.pri
Saya minta izin pada anak tersebut untuk sekadar melihat aktivitasnya. Bersyukur, saya bisa bertemu langsung dengan bapaknya. Sebut saja Mas Tomo, usia 42 tahun.  Sudah lebih dari 10 tahun Mas Tomo memroduksi kipas. Mas Tomo menerima pesanan kipas untuk suvenit pernikahan. Bekerja sama dengan anggota paguyuban, membuat usaha pembuatan kipas semakin maju.
Mas Tomo, 42 tahun
dok.pri
Dengan mengikuti paguyuban, pesanan akan mengalir begitu saja. Mas Tomo, isteri dan anaknya membuat kipas mentah (finishing dilakukan oleh orang lain). Sambil mengobrol, saya melihat anaknya Mas Tomo dengan cekatan memroses pembentukan kipas dengan alat tertentu dan pisau yang sangat tajam.
Ukuran kipas juga bervariasi. Saya tidak sempat menanyakan harga kipas per buahnya. Kebetulan, di sini Mas Tomo juga tidak menunjukkan kipas yang sudah jadi. Atau mungkin tempat ini khusus untuk memroses pembentukan dan pengeringan saja. Sedangkan untuk finishing dilakukan di tempat lain.
Menurut pengakuan Mas Tomo, usaha pembuatan kipas ini sangat membantu perekonomian warga. Hampir tiap rumah memroduksi kipas. Saya melihat potongan bamboo di sekitar rumah penduduk.  Apapun, bisa dilakukan untuk menambah uang dapur, uang jajan dan memenuhi kebutuhan sehari-hari, asal mau berusaha.   
Kipas Bambu
dok.pri
Pemesan kipas ini tidak hanya sebatas orang Bantul saja, melainkan luar kota juga. Apalagi setelah ada medsos. Pemesanan lebih praktis. Pengiriman barang juga mudah. Semoga usaha ini semakin berkembang.
Setelah selesai bincang-bincang, saya melanjutkan perjalanan ke Gua Selarong.

Karanganyar, 9 September 20116