Senin, 24 Oktober 2016

Bel Panjang | Kahfi Noer

Hari ini ketua guru tidak enak badan, kabarnya membeli obat. Mungkin terus mbablas pulang. Maklum rumah ketua guru jaraknya dekat saja dari perguruan. 3 menit saja perjalanan ditempuh mengendarai sepeda motor.
Maharani menduga kesehatan ketua guru baik-baik saja. Tapi kalau alasannya kurang enak badan, ya harap maklum. Maharani pikir ketua guru bisa stress berat tidak bisa masuk ruangannya sebab kunci kantor ketua guru entah di mana belum ketemu. Tidak mungkin ketua guru seharian berada di luar kantor, hehe. Bisa stress berat lihat Maharani yang jadi kembang lambe.
Ada 2 kelas yang belajar di bengkel. Waktu masih 20 menit. Dua guru kelas dua tersebut meminta anak-anak untuk kembali ke kelas. Tapi rupanya beberapa anak berbohong pada Maharani dan Reema. Kata mereka pelajaran telah selesai. Maharani tak percaya begitu saja.
Tanpa Maharani sadari bel panjang berbunyi. Maharani, Reema dan guru lainnya kaget. Masih 10 menit kok sudah dibel panjang. Ternyata salah satu murid bernama Salman, murid kelas 2 yang tidak diizinkan pulang tadi masuk ruang piket. Iseng-iseng menekan bel.
Pintu gerbang ditutup rapat. Maharani bersikeras murid-muridnya belum boleh pulang. Salman cengengesan.
Dan pada hari sesudahnya ketua guru bilang pada salah satu guru,”kok anak-anak dipulangkan?”
Tidak mungkin ketua guru tahu kalau tidak diberi tahu Laksmi, guru sejarah India yang juga isteri ketua guru. Lantas Reema menjelaskan pada Laksmi,”bu, muridmu bernama Salman kemarin iseng-iseng dolanan bel terus dibel panjang. Jadi bukan guru piket merasa mumpung ketua guru tidak ada lantas memulangkan murid-murid seenaknya.”
“Oh, gitu ya. Aku ndak tahu je.”kata Laksmi
“Besok lagi jangan sedikit-sedikit laporan ketua guru. Sampeyan bisa didemo guru-guru,”kata Reema sewot.

Karanganyar, 24 Oktober 2016