Minggu, 04 Desember 2016

Faiz Kecemplung Sawah

Seperti hari sebelumnya libur sebelumnya, hari Ahad pagi ini sangat sibuk. Maklum, saya akan menghadiri acara Ulang Tahun IIDN Solo yang ketiga. Kalau tidak datang rasanya sangat rugi.
Begitu saya repot di dapur, Faiz dan Ayah pergi memancing. Lokasinya di dekat SDIT Al Karimah, tidak jauh dari rumah. Saya berdoa semoga Faiz mendapatkan ikan, biar tambah bersyukur. Alhamdulillah, pulang dari memancing ada suara ceria.
“Mama, Ayah dapat ikan besar. Faiz dapat ikan kecil.”
“Alhamdulillah, tidak apa-apa le. Ikannya ditaruh di ember ya!”
Setelah itu, saya tidak mendengar suaranya Faiz. Biasanya Faiz terus bersepeda di sekitar rumah. Dhenok minta diantar Ayah ke pasar. Katanya mau membeli camilan biar sedikit irit.
Selesai mencuci, saya bermaksud untuk menyeterika pakaian yang akan saya kenakan saat KOPDAR IIDN Solo. Tiba-tiba saya mendengar suara Faiz.
“Mama…. Mama.”
Saya membuka pintu, ternyata Faiz tidak ikut ke pasar. Biasanya Faiz tidak pernah ketinggalan kalau Dhenok pergi ke pasar bersama Ayah.
“Ayah mana, Ma?”
“Sama kakak ke pasar. Kamu tidak ikut?”
Faiz tidak menjawab pertanyaan saya. Dia malah bilang,
“Ma, Faiz kecemplung sawah.”
Kaos dan celananya kotor kena lumpur sawah yang baunya sedap-sedap haicingggg. Sawah tetangga samping rumah, yang siap ditanami padi, sudah diluku dan digaru.
“Stop, jangan masuk.”
“Mandi di luar, Ma.”
Saya mengambil ember, gayung, sikat, pasta gigi dan sabun. Saya perhatikan keceriaan Faiz hari ini. Ini kisah Faiz kecemplung sawah Episode kedua. Yang pertama dulu, setahun yang lalu pas sawahnya kering tak ada air. Sampai-sampai lengan kiri bagian atas patah.
Hati-hati ya Le, jangan jatuh lagi. Selesai sudah mandi dan dandannya.
“Ma, mau ambil sepeda.”
“Sepedanya di mana to Le?”
“Itu, di pinggir jalan dekat sawahnya tetangga.”
“Kamu tadi ditertawakan ya?”
“He-eh.”

Faiz meninggalkan saya. Tetap semangat ya Le, semoga kamu menjadi anak sholeh dan mau belajar membaca dan menulis.