Senin, 31 Oktober 2016

Mengelola Blog dengan Baik

Pemeriksaan Tekanan Darah
dok.pri

Bagi saya menulis itu melalui proses yang panjang, semua tidak dilakukan serba instan. Belajar dan belajar tak pernah bosan dan berhenti. Itulah saya. Ketika ada yang bilang blog saya isinya narasi yang panjang, saya bilang narasi yang panjang berguna untuk menjelaskan sesuatu.
Seperti kemarin waktu bertemu salah seorang anggota komunitas Pencinta Alam Puma Peta. Dia bertanya, kok saya bisa menulis panjang-panjang. Ya, memang penulis itu harus bisa menangkap informasi yang diperoleh lalu dituangkan dalam bentuk tulisan. Diberikan penjelasan yang detil agar pembaca tidak bingung. Penulis harus bisa memberikan/menulis berita yang informatif. Detil tapi tidak bertele-tele.
Selain itu bahasa yang dipakai harus ringan, agar pembaca tidak mengerutkan kening. Serius tapi ringan, tidak berat.
Ketika saya membuka blog yang dikelolanya, sebenarnya banyak berita penting yang akan disampaikan. Contoh baksos yang diadakan di Boyolali setelah Gunung Merapi mengeluarkan material panas. Foto-foto yang ditampilkan banyak. Tapi tak ada kalimat-kalimat yang menceritakan kejadian di sekitar Boyolali. Memang foto bisa bicara. Tapi alangkah sempurnanya bila diberikan keterangan yang menarik. Karena dia tidak bisa menulis/bercerita panjang lebar maka dia memosting foto-foto yang menceritakan tentang agenda kegiatan di komunitasnya.
Selain itu, banyak acara baksos yang lain dilakukan oleh komunitas pencinta alam ini. Dan, semua kegiatan ada foto-fotomya, tapi tidak disertai keterangan yang menarik.
Saya pernah mengikuti kegiatan baksos yang diselenggarakan komunitas pencinta alam tersebut. Saya bisa menuliskan berita beserta memberikan gambar-gambar yang mendukung pada acara tersebut. Hasilnya luar biasa. Komunitas pencinta alam tersebut puas dengan berita yang saya buat.
Bahagianya saya bisa berbagi informasi untuk orang banyak. Apa yang sudah saya sampaikan melalui tulisan dan foto semoga bermanfaat. Dan, tidak lupa saya mengajak para pembaca untuk menulis juga. Segera dan jangan ditunda untuk menulis.

Karanganyar, 31 Oktober 2016

Jumat, 28 Oktober 2016

Perpustakaan Karanganyar Bersama Wardah dalam Wardah Beauty Class

Cantik dengan Wardah
dok.pri
Senang rasanya mengisi libur kelas Sabtu, 22 Oktober 2016 yang lalu dengan mengikuti kegiatan yang diselenggarakan di Aula DPRD Kabupaten Karanganyar. Kegiatan bertajuk Wardah Beauty Class ini merupakan kerja sama antara perpusda dengan Wardah.
Peserta Beauty Class ini adalah Ibu Kepala Perpustakaan (Ibu Susamti), Putra-Putri Lawu, dan masyarakat umum. Ada sekitar 30 orang yang hadir di acara ini. Bagi saya ini adalah pengalaman yang luar biasa karena akhirnya saya bisa bertemu dengan orang nomor satu di perpusda. Selain itu saya juga sempat berinteraksi dengan Putra-Putri Lawu, yang ganteng dan cantik.
Mulai persiapan
dok.pri
Acara ini dibuka oleh Tim Wardah, selanjutnya sambutan disampaikan oleh Ibu Susamti. Dalam sambutannya, Ibu Susamti menyampaikan bahwa perpusda memperkenalkan ke masyarakat umum melalui CFD yang diselenggarakan setiap hari Minggu pagi. Perpusda juga mengadakan beberapa kegiatan yang melibatkan masyarakat umum misalnya yaitu Lomba Karya Tulis Ilmiah. Pada Hari Batik, perpusda menggandeng Putra-Putri Lawu. Ide Wardah membuka Beauty Class ini juga untuk mempopulerkan perpusda. Agar bisa menarik peserta maka Putra-Putri Lawu diikutsertakan pada acara ini.
Putri-putri Lawu
dok.pri
Bagi saya kegiatan yang diselenggarakan perpusda ini sangat bermanfaat. Apalagi bagi saya sebagai guru dan penulis. Manfaat yang saya dapatkan adalah mendapatkan teman baru, mendapatkan ilmu cara mempercantik diri tanpa harus pergi ke salon, dan termotivasi untuk segera bergabung di perpusda.
Ibu Susamti, Kepala Perpustakaan Karanganyar
dok.pri
Dalam Beauty Class ini, Tim Wardah melakukan demo dan peserta melakukan tahapan-tahapan berhias dari awal sampai akhir (secara mandiri dan mendapatkan bimbingan dari Tim Wardah bagi yang memerlukan). Peralatan kecantikan semua disiapkan oleh Wardah. Peserta tinggal memakai saja. Ada tips-tips yang disampaikan oleh Tim Wardah, sehingga peserta Beauty Class tidak lagi takut untuk memoles wajah.
Rupanya kegiatan ini sangat mengasyikkan. Hampir wajah semua peserta berbeda setelah melakukan rias mandiri. Untuk Putra Lawu juga melakukan praktik membersihkan wajah dan berhias simple.
Sebelum memakai Wardah
dok.Ibu Susamti
Beruntung saya mengikuti kegiatan ini. Sebab tak ada yang sia-sia. Bahkan di akhir acara ada bagi-bagi doorprize. Doorprize tersebut berasal dari Wardah dan salah satu peserta. Selain itu semua peserta mendapatkan voucer yang bisa ditukarkan langsung.
Alhamdulillah, saya mendapatkan kejutan dari Wardah berupa Creamy Body Butter. Ternyata produk Wardah ini cocok di kulit saya, rasanya adem. Satu lagi keuntungan saya menggunakan produk Wardah karena produk Wardah sudah mendapatkan sertifikat halal. Jadi saya tak perlu ragu.
Setelah memakai Wardah
dok. Ibu Susamti
Pada akhir acara, kami menyempatkan diri untuk foto bersama. Terima kasih Wardah, terima kasih Perpustakaan Karanganyar. Semoga di masa yang akan datang masyarakat luas segera bergabung ke perpusda.
Di antara produk Wardah
dok.pri
Karanganyar, 28 Oktober 2016

Kamis, 27 Oktober 2016

Menulis Diawali Kalimat Pada Suatu Hari

dok.pri
Seorang siswa bertanya pada saya tentang menulis di blog,”Bu, bagaimana cara menulis yang tidak diawali dengan kata-kata pada suatu hari.” Saya membesarkan hatinya dengan menjawab,”Menulislah dengan bahasamu. Kalau memang yang ada di benakmu kata-kata pada suatu hari, ya tulis saja. Lalu postinglah tulisanmu. Ingat, tidak usah panjang-panjang. Cukup 1-2 alenia saja. Tambahkan foto biar tambah manis.
Dua hari sekali blognya di update. Isilah blog dengan kabar/berita atau tulisan yang baik. Nikmati prosesnya. Tidak langsung jadi baik. Kalau tak punya foto yang lain, maka pasang saja foto yang pernah kita upload. Tidak menjadi masalah meskipun bukan foto terbaru.
Pada tulisan ketiga, keempat, kelima dan seterusnya pasti kita tidak lagi menulis kata-kata pada suatu hari pada awal kalimat. Memang semua butuh proses, tidak sekali buat langsung baik. Kalau mau membaca blog saya, bisa dilihat ada ratusan judul. Dan tulisannya tidak berat.
Apakah tulisan saya langsung bagus? Tentu saja tidak. Saya menulis sejak kelas 2 SMA, tahun 1988/1989. Sudah lama lo. Untuk tulisan yang sekarang, semua tetap diedit sebelum diposting. Baik di blog maupun facebook.
Jangan pernah melihat saya, hanya saat menerima honor atau dapat kiriman paket hadiah lomba. Lihatlah proses saya menulis. Menulis yang bolak-balik ditolak media tapi tetap saja nulis tidak putus asa.
Silakan, pada saat pelajaran multimedia, menulislah 1 alenia tentang suatu kejadian/peristiwa atau pengalaman bepergian. Nah, dua minggu yang lalu kalian kan pergi ke Umbul Ponggok, tulislah. Asyik lo nulis tentang perjalanan wisata. Ingat, kalau akan diawali dengan kata-kata pada suatu hari boleh-boleh saja. Tapi postingan berikutnya jangan ya….Selamat mencoba.”
Itulah penggalan bincang-bincang saya dengan siswa beberapa menit sebelum memulai pelajaran. Itu saja penggalannya, nah kalau utuhnya, bisa sampai ke mana-mana. Ternyata membahas menulis saja asyik dan bisa lupa waktu.
Akhirnya, saya mengajak mereka untuk membuka buku Kimia. Materinya masih tentang larutan.

Karanganyar, 27 Oktober 2016 

Rabu, 26 Oktober 2016

Tangan Hampa

Setelah selesai shalat zuhur, Mahendra bilang pada Maharani kalau diminta membawakan kaos dan sandal. Dan dijemput ditempat biasa. Tempat biasa yang dimaksud adalah masjid.
Hingga satu jam Maharani menunggu, Puja belum juga muncul padahal sudah ada 6 bus dari arah Matesih dan Tawangmangu.
Maharani pulang (tidak membawa hp). Mahendra kembali menelepon Puja. Ternyata Puja berada di rumah pamannya. Satu jam menunggu tak ada hasilnya. Hampa.
Kunci : Mahendra kaget menerima telepon karena bangun tidur. Jadi, dia tidak memahami pembicaraannya dengan Puja karena masih dalam keadaan setengah sadar.


Karanganyar, 26 Oktober 2016

Selasa, 25 Oktober 2016

Salah Pasien [Ah Tenane, Solopos Selasa, 25 Oktober 2016]

Alhamdulillah, rezeki Jon Koplo lagi. Baru kemarin siang, Senin 24 Oktober 2016 kirim email, hari ini Selasa 25 Oktober 2016 dimuat.
dok.pri

AH TENANE [Versi Solopos, Selasa, 25 Oktober 2016]
Salah Pasien
Hari Minggu lalu, sebuah komunitas pencinta alam dan Akper di Solo mengadakan bakti sosial di desa Plosorejo, Kerjo, Karanganyar. Jenis kegiatannya ada pasar murah, pembagian alat tulis gratis dan pengobatan gratis.
Masyarakat sangat antusias. Anak-anak, tua dan muda berbondong-bondong menuju SD swasta setempat. Mereka datang dari beberapa dusun.
Dalam pengobatan gratis ini ada tempat untuk pendaftaran, pemeriksaan, cek darah, konsultasi dokter dan pengambilan obat. Masing-masing tempat ada petugas dari Akper.
Setelah pengobatan gratis dibuka, pasien dipanggil satu per satu sesuai nomor urut. Kebanyakan pasien diperiksa tekanan darahnya lebih dahulu lalu ditanya keluhan-keluhannya. Tiba giliran Lady Cempluk menggendong anaknya Tom Gembus. Genduk Nicole, mahasiswi cantik ini meminta Cempluk duduk dan dengan cekatan alat tensi meter siap dilekatkan pada lengan atas Cempluk.
“Nuwun sewu, yang dikeluhkan apa, Bu?” Tanya Nicole seraya ndemek bathuk Cempluk untuk mengetahui panas atau tidak.
“Saya ndak sakit kok mbak. Yang sakit anak saya, Tom Gembus panas, batuk dan pilek,”jawab  Cempluk.
Nicole buru-buru melepaskan rekatan alat pada lengan Cempluk.  Tenaga medis lain dan yang melihat di tempat itu ngguyu kepingkel-pingkel  membuat wajah Nicole memerah. (Selesai)

AH TENANE [Naskah Asli]
Salah Pasien
Hari Minggu kemarin, di desa Plosorejo, Kecamatan Kerjo, Kab. Karanganyar ada kegiatan baksos. Kegiatan ini berlangsung atas kerja sama antara komonitas pencinta alam PP dan Akper IH Surakarta. Adapun jenis kegiatannya adalah pasar murah, pembagian alat tulis gratis dan pengobatan gratis. Malam sebelumnya adalah pengajian akbar di masjid setempat.
Masyarakat yang ikut serta pengobatan gratis sangat antusias. Anak-anak, tua dan muda berbondong-bondong menuju SD swasta setempat. Mereka datang dari beberapa dusun. Meskipun jembatan yang menghubungkan antara 2 dusun tersebut ambrol dan sedang dalam perbaikan, tapi ada seseg (jembatan darurat dari bambu).
Dalam pengobatan gratis ini ada tempat untuk pendaftaran, pemeriksaan, cek darah, konsultasi dokter dan pengambilan obat. Masing-masing tempat ada petugas dari Akper.
Setelah pengobatan gratis dibuka, pasien dipanggil satu per satu sesuai nomor urut. Kebanyakan pasien diperiksa tekanan darahnya lebih dahulu lalu ditanya keluhan-keluhannya. Tiba giliran Ibu Cempluk menggendong anaknya Gembus. Nikole, mahasiswi cantik ini meminta Ibu Cempluk duduk dan alat tensi meter siap dilekatkan pada lengan atas Ibu Cempluk.
“Keluhannya apa Bu?” Tanya Nikole.
“Saya ndak sakit kok mbak. Yang sakit anak saya, Gembus panak, batuk dan pilek,”jawab Ibu Cempluk.
Nikole buru-buru melepaskan rekatan alat pada lengan Ibu Cempluk. Mahasiswi itu mendelik ke arah Koplo yang menyuruh Ibu Cempluk menuju mejanya.
“Aku juga ndak tau kalau pasiennya anak-anak je. Wong bagian pendaftaran juga nyebutnya ndak pakai anak Gembus.”
Oleh karena Gembus sakit batuk, pilek dan panas maka Ibu Cempluk diminta untuk menuju tempat dokter. Tenaga medis lain dan yang melihat di tempat itu ngguyu kepingkel-pingkel. Wajah Nikole sedikit memerah menahan isin. Koplo garuk-garuk kepala. Ada-ada saja, salah pasien. (Selesai)

Karanganyar, 24 Oktober 2016

Senin, 24 Oktober 2016

Bel Panjang | Kahfi Noer

Hari ini ketua guru tidak enak badan, kabarnya membeli obat. Mungkin terus mbablas pulang. Maklum rumah ketua guru jaraknya dekat saja dari perguruan. 3 menit saja perjalanan ditempuh mengendarai sepeda motor.
Maharani menduga kesehatan ketua guru baik-baik saja. Tapi kalau alasannya kurang enak badan, ya harap maklum. Maharani pikir ketua guru bisa stress berat tidak bisa masuk ruangannya sebab kunci kantor ketua guru entah di mana belum ketemu. Tidak mungkin ketua guru seharian berada di luar kantor, hehe. Bisa stress berat lihat Maharani yang jadi kembang lambe.
Ada 2 kelas yang belajar di bengkel. Waktu masih 20 menit. Dua guru kelas dua tersebut meminta anak-anak untuk kembali ke kelas. Tapi rupanya beberapa anak berbohong pada Maharani dan Reema. Kata mereka pelajaran telah selesai. Maharani tak percaya begitu saja.
Tanpa Maharani sadari bel panjang berbunyi. Maharani, Reema dan guru lainnya kaget. Masih 10 menit kok sudah dibel panjang. Ternyata salah satu murid bernama Salman, murid kelas 2 yang tidak diizinkan pulang tadi masuk ruang piket. Iseng-iseng menekan bel.
Pintu gerbang ditutup rapat. Maharani bersikeras murid-muridnya belum boleh pulang. Salman cengengesan.
Dan pada hari sesudahnya ketua guru bilang pada salah satu guru,”kok anak-anak dipulangkan?”
Tidak mungkin ketua guru tahu kalau tidak diberi tahu Laksmi, guru sejarah India yang juga isteri ketua guru. Lantas Reema menjelaskan pada Laksmi,”bu, muridmu bernama Salman kemarin iseng-iseng dolanan bel terus dibel panjang. Jadi bukan guru piket merasa mumpung ketua guru tidak ada lantas memulangkan murid-murid seenaknya.”
“Oh, gitu ya. Aku ndak tahu je.”kata Laksmi
“Besok lagi jangan sedikit-sedikit laporan ketua guru. Sampeyan bisa didemo guru-guru,”kata Reema sewot.

Karanganyar, 24 Oktober 2016

Minggu, 23 Oktober 2016

BAKTI SOSIAL : Satu Langkah Kecil Memberi Manfaat Besar [Puma Peta - Akper Insan Husada]


Kali ini saya bersama suami dan Faiz berada di Dusun Bono, Plosorejo, Kecamatan Kerjo, Kabupaten Karanganyar. Untuk menuju  daerah Kerjo, rasanya banyaak kendala. Jalannya naik-turun dan melewati tikungan tajam. Saya bergabung dengan PUMA PETA RESCUE (Pencinta Alam, markas Karanganyar) dan AKPER Insan Husada Surakarta yang mengadakan bakti sosial (baksos). Baksos ini dilaksanakan pada hari Ahad, 23 Oktober 2016, tepatnya di SD Muhammadiyah.

Malam hari sebelum baksos, di masjid depan SD Muhammadiyah diselenggarakan pengajian akbar. Pagi harinya baksos dilakukan dengan 3 kegiatan, yaitu pengobatan gratis, pasar murah dan pembagian alat tulis untuk siswa TK dan SD setempat.
Menurut salah satu panitia, Mas Mursito, dana, alat tulis, obat-obatan dan lain-lain yang terkumpul berasal dari mahasiswa Akper, kalangan akademisi, masyarakat umum dan donatur.

Pelaksanaan kegiatan pengajian dan baksos ini berjalan dengan sukses berkat kerja sama dari mahasiswa, panitia dari Puma Peta, masyarakat, karang taruna, sekolah dan sebagainya.
Dengan mengambil tema :  Satu Langkah Kecil Memberi Manfaat Besar, diharapkan kegiatan baksos ini benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat sekitarnya.
Anak-anak, remaja, karang taruna, orang tua, ikut menyukseskan kegiatan ini. Khusus untuk pengobatan gratis, antusias masyarakat yang datang sangat luar biasa. Pelaksanaan baksos dari pagi hingga siang hari.
Saya sempat mengajak ngobrol pada 4 anak SD. Salah satu di antaranya mengatakan bahwa kedatangannya di acara ini karena sudah diberi tahu gurunya pada hari Sabtu. Orang tua mereka mengizinkan anak-anak masuk sekolah meskipun hari libur. Mereka merasa senang bisa mendapatkan alat tulis secara gratis. Kesan mereka adalah mereka puas dan senang bisa mendapatkan alat tulis secara gratis.
Pada pasar murah, 250 paket sembako disediakan oleh mahasiswa baru Akper pada saat ospek. Semua warga yang mendapatkan kupon, bisa menukarkan kupon dengan paket barang dengan harga relative terjangkau. Pelaksanaan pasar murah yaitu di depan masjid.
Untuk pengobatan gratis, ada tenaga medis yang terdiri atas dokter, bidan, perawat dan mahasiswa Akper. Yang dilakukan pada pengobatan gratis ini adalah periksa secara umum, pemeriksaan gula darah, asam urat, kolesterol dan tekanan darah.
Rata-rata masyarakat puas dengan adanya kegiatan baksos ini. Mereka merasakan manfaatnya. Baksos yang diselenggarakan Puma Peta Rescue ini memang program rutin. Biasanya dilakukan di desa-desa yang dipandang sangat membutuhkan.
Semoga kegiatan baksos ini terus berlanjut dan benar-benar memberikan manfaat, amin.







* Foto-foto merupakan dokumen pribadi


Karanganyar, 23 Oktober 2016 

Sabtu, 22 Oktober 2016

Bahagianya Ibu dan Bapak di Usia Senja | Kahfi Noer

Dunia milik berdua, yang lain ngontrak
dok. Mbak Sudiyati-Mas Waljiman
Sore tadi saya dikirimi pesan lewat inbox oleh tetangga saya di Yogyakarta. Sungguh kabar yang membuat saya menitikkan air mata haru. Betapa tidak? Kabar bahwa Ibu dan Bapak ikut jalan-jalan bersama tetangga lansia lainnya ke hutan pinus Imogiri. Sungguh, di luar dugaan saya.
Sudah 2 kali tetangga saya (dulu suaminya) mengabarkan bahwa Ibu dan Bapak ikut rombongan jalan-jalan. Beberapa bulan yang lalu Ibu dan Bapak diajak jalan-jalan ke Suramadu dan Masjid Turen, Malang. Mungkin lelah, tapi kelihatannya Ibu dan Bapak sangat bahagia.
Apa istimewanya jalan-jalan bersama rombongan (tetangga)? Ya, karena Ibu dan Bapak tak muda lagi. Ibu usianya 70 tahun sedangkan Bapak 74 tahun. Di usia itu mereka bisa berdua tanpa anak-anak, menikmati perjalanannya.
Ah, itu sederhana. Itu biasa. Mungkin sebagian orang akan mengatakan seperti itu. Tapi bagi saya tidak. Itulah waktu istimewa buat Ibu dan Bapak. Dahulu Ibu dan Bapak tak mengenal piknik atau menghilangkan penat. Waktu mereka dihabiskan untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang tidak sedikit. Kalau sekali tempo bepergian, itu artinya menabung berbulan-bulan!
Bersama orang-orang yang saling memberi perhatian
di usia senja
dok. Mbak Sudiyati-Mas Waljiman
Enam anak-anak Ibu dan Bapak membutuhkan biaya sekolah, uang saku, dan lain-lain. Dahulu belum ada dana BOS, tidak ada KIP (Kartu Indonesia Pintar) dan kemudahan-kemudahan untuk mendapatkan beasiswa. Untuk anak yang bersekolah di negeri memang ada keringanan atau bebas SPP. Saya dan saudara saya juga mendapatkan keringanan SPP, besarnya 50%.
Kembali ke bahagianya Ibu dan Bapak menikmati masa tua. Ya, sudah 52 tahun Ibu dan Bapak mengarungi bahtera rumah tangga. Suka dan duka, sedih dan bahagia, membesarkan, merawat dan mendidik anak-anak. Kami pantas bangga memiliki orang tua yang secara materi kekurangan namun cinta dan kasih saying mereka telah membuat kami tangguh dan berhasil.
Di usia senja ini, masa tua, Ibu dan Bapak hanya ingin melihat kami bahagia. Melihat kami menjadi sholeh dan sholehah. Kami selalu mendoakan untuk kesehatan Ibu dan Bapak. Demikian pula Ibu dan Bapak selalu mendoakan kami menjadi yang istimewa.
Tak ada yang bisa kami lakukan lebih banyak. Saudara-saudara saya yang tinggal di Yogyakarta dan ketika berada di rumah Ibu dan Bapak, berusaha membahagiakan Ibu dan Bapak dengan cara mengajak beliau berdua “keluar rumah”, jalan-jalan atau makan di luar. Kalau saya biasanya hanya bisa membawakan makanan dan minuman kesukaan Ibu dan Bapak, hehe.
Di usia senja ini Ibu dan Bapak bahagia bersama anak-anak dan tetangga yang baik hati dan penuh perhatian. Kami, anak-anak, sayang Ibu dan Bapak.
Karanganyar, 22 Oktober 2016

Jumat, 21 Oktober 2016

PAMIT

Hari ini ketua guru pamit akan mengikuti kegiatan musyawarah guru pelajaran bahasa India di perguruan lain di India bagian barat. Guru-guru yang lain heran saja, sebab musyawarah dilaksanakan pada jam 10.00 pagi sedangkan ketua guru berangkat jam 11.15 siang. Perjalanan bisa memakan waktu setengah jam. Artinya bisa saja ketua guru datang pas acara musyawarah telah selesai.
Keesokan harinya, ada tamu yang akan mencari ketua guru. Beliau ketua dari musyawarah guru pelajaran bahasa India. Kata beliau kemarin tidak bertemu ketua guru. Ibu Reema mengatakan bahwa kemarin ketua guru berangkat pukul 11.15.
“Wah, saya kok tidak bertemu ya?” (padahal orang ini ketua musyawarah guru pelajaran bahasa India)
Maharani, Reema, dan Vijay saling berpandangan. Mereka tersenyum. Maharani pura-pura saja menegaskan dengan pertanyaan,”Bapak Suraj kemarin datang ya?”
Bapak Suraj, ketua musyawarah pelajaran bahasa India menjawab,”saya datang. Saya kan ketuanya.”
Lalu muncullah Ibu Laksmi, guru Sejarah  India yang juga isteri dari ketua guru. Ibu Laksmi kelihatan sekali mukanya agak memerah mendengar cerita Bapak Suraj. Tapi Ibu Laksmi menimpali dengan penjelasan yang diplomatis.
“Kemarin pulang sekolah saya mendapatkan Bapak Ketua Guru tiduran. Lalu saya bertanya:  katanya berangkat musyawarah kok di rumah. Ketua Guru menjawab kalau sebenarnya beliau sudah berangkat tapi badannya panas dingin, gemetaran, meriang sehingga balik ke rumah tidak jadi berangkat.”
Maharani melirik pada Vijay. Sedangkan Reema tersenyum simpul. Setelah bapak Suraj mengatakan keperluannya, beliau pamit pulang. Ibu Laksmi mengantarkan Bapak Suraj sampai pintu gerbang. Maharani dan Vijay sudah tidak tahan. Mereka tertawa, Reema juga tertawa. Maharani dan Vijay tos.
“Berarti, selama ini memang ketua guru selalu menghindari undangan dan pulang. Untung saja Pak Suraj datang kalau tidak kita ndak tahu kalau kepergian ketua guru tidak sampai pada tempatnya.”
Malah ada guru yang bilang, ketua guru selalu sengaja mendatangi undangan terlambat atau tidak datang sama sekali. Capek deh.
00000

Karanganyar, 21 Oktober 2016

Kamis, 20 Oktober 2016

Momen yang Paling Berkesan dan Tak Terlupakan

Dua puluh satu tahun (sejak tahun 1995)  mengenalnya, kini bersamanya, selalu indah ceritanya. Bersama anak-anak lengkap sudah kebahagiaan itu. Di balik semua yang pernah aku dan dia alami, ada sesuatu yang sangat berkesan dan tak mungkin aku lupakan. Dua puluh satu tahun yang silam, kala kami baru beberapa hari bertemu. Jelas, waktu itu aku tak pernah menilainya omong kosong atau ngegombal belaka. Karena dia adalah orang yang serius dan tak suka bercanda (kala itu).
Ketika aku melanjutkan kuliah dari D3 ke S1, aku pernah mengikuti program semester pendek. Aku mengambil mata kuliah KKN (Kuliah Kerja Nyata). Ternyata sebagian besar mahasiswa mengambil mata kuliah KKN pada semester pendek.
Sebelum berangkat ke lokasi KKN, aku mengikuti program pembekalan KKN. Di sinilah aku bertemu dia. Kebetulan aku dan dia berada dalam satu kelompok kecil. Artinya, nantinya tinggal di tempat yang sama.
Pada saat pembekalan, dia bertanya padaku. Apakah aku adalah mahasiswa yang naik sepeda onthel dengan rute bla-bla pada tahun 1990-an? Aku jawab ya. Kok kamu tahu? Katanya, dia juga naik sepeda onthel dan melewati jalan yang sama denganku. Kebetulan dia mengambil Jurusan Pendidikan Olahraga sedang aku mengambil Jurusan Pendidikan Kimia. Kampus kami tidak begitu jauh jaraknya.
Singkat cerita, aku dan teman-teman yang bergabung dalam kelompok kecil, tinggal di rumah penduduk. Selama 2 bulan, kami melakukan kegiatan bersama. Sebagian besar kegiatan kami adalah bergabung dengan penduduk di desa dalam banyak kegiatan. Kegiatan tersebut dilaksanakan dari pagi hingga malam hari.
Biasanya kami saling berbagi tugas. Dalam kelompok kecil ini terdiri dari 5 mahasiswa dan 5 mahasiswi. Untuk menyediakan sarapan, makan siang dan makan malam serta minumannya, kami bekerja sama.
Kalau malam hari, dalam suasana santai, kami merencanakan program berikutnya pada keesokan harinya dan melakukan evaluasi kegiatan yang sudah  kami laksanakan.  
Suatu hari dia bilang ingin menunaikan ibadah haji bersamaku. Aku tersenyum. Jawabku, Insya Allah. Ternyata temanku yang lain juga mengatakan hal yang sama, ingin menunaikan ibadah haji bersamaku. Tapi, apa mungkin? Aku dari Yogyakarta, dia dari Karanganyar, dan temanku lainnya dari Blora. Ya, mungkin kami bisa berangkat pada tahun yang sama, tapi kan belum tentu bisa bertemu saat di Mekah atau Madinah. Betapa nekatnya dia, dia bilang ada cara agar aku dan dia bisa sampai ke tanah suci bersama.
00000
Tahun 2011, aku diuji dengan kelebihan uang. Aku bilang ke laki-laki yang pernah mengajak naik haji bersama tahun 1995 tersebut.
“Berangkatlah ke tanah suci lebih dahulu. Lalu panggil aku dan anak-anakmu, agar kami juga bisa segera ke tanah suci,”kataku
“Aku akan berangkat bersamamu. Kalau kita bisa bersama, Allah akan memudahkan urusan kita ketika berada di tanah suci. Semua bisa kita kerjakan bersama,”jawabnya.
Hampir saja air mataku meleleh. Rasanya harus menunda lebih lama karena kami hanya memiliki dana untuk mendaftar satu orang (mendapat porsi). Rupanya Allah menunjukkan jalan-Nya. Tahun 2012, ketika aku berada di depan petugas DEPAG, mendaftarkan “naik haji”, ditanya siapa muhrimnya, laki-laki itu menjawab,”saya, suaminya.” Nyes! Laki-laki itu adalah dia yang tahun 1995 pernah bilang,”aku ingin naik haji bersamamu.”
Aku baru menyadari, bahwa tahun 1995 ketika dia mengatakan ingin naik haji bersamaku adalah momen yang sangat mengesankan dan tak pernah aku lupakan. Dan ketika dia bilang,”ada cara kita bisa naik haji bersama,” rupanya itulah cara dia melamarku dengan cara yang santun dan elegan, tidak main-main.
Semoga Allah memudahkan urusan kami baik di dunia maupun di akhirat.



Minggu, 16 Oktober 2016

Mahendra Tak Kunjung Pulang, Maharani Nekat…..| Kahfi Noer

Kalau Raju menanyakan sang guru tenisnya tanpa henti, bahkan pakai edisi mewek juga, Maharani tak bisa berbuat apa-apa. Meskipun Mahendra sudah berulang-ulang ditelepon, tetap saja tidak diangkat. Dan seperti biasa, pesan sms juga tidak segera dibalas. Maharani memberikan alasan yang agak masuk akal. Tidak ada sinyal.
Raju memang sangat dekat dengan guru olahraganya daripada dengan guru kimia. Bila guru olahraga belum ada di rumah, sudah pasti Raju akan rewel. Tapi, bila guru kimia tidak ada di rumah, Raju tak begitu mempersoalkan. Akan tetapi ada perkecualiannya lo, yaitu ketika sakit tetap saja Maharani yang dicari.
Seperti biasanya bila hari Sabtu, Mahendra pulang agak sore. Mahendra mendampingi siswanya yang latihan Pramuka.  Oleh karena tidak begitu repot, kadang Maharani mengantar Raju untuk menemui ayahnya di perguruan. Maharani terus pulang, beres-beres rumah dan mengerjakan pekerjaan lainnya.
Yang jadi masalah kalau Mahendra mendampingi kegiatan siswa-siswanya di luar sekolah. Seperti kemah dan Jumbara beberapa waktu yang lalu. Maharani bukan tidak percaya pada Mahendra. Demi sang buah hati, Maharani nekat untuk ikut serta dalam kegiatan Mahendra. Semua dilakukan agar Raju tidak rewel.
Tiap acara kemah, Mahendra selalu pulang tengah malam atau dini hari. Sebelumnya, siangnya tidak bertemu Raju. Jadilah Raju rewel, kehilangan pegangan (halah, pegang tangan Maharani juga bisa kok).  
Bila ikut serta di bumi perkemahan atau tempat kegiatan, Raju tidak bisa diam. Selalu saja ke sana kemari. Maharani melihat Raju rasanya lelah sekali, tapi sepertinya Raju biasa-biasa saja.
Waktu Jumbara, Mahendra sulit dihubungi. Biasanya pulang tengah malam. Tapi sudah jam setengah empat pagi, Mahendra belum juga pulang. Maharani menelepon Mahendra. Ketika diangkat, Maharani minta Mahendra segera pulang karena Raju rewel.
00000
Hari Sabtu, Maharani dan Raju libur. Maharani ingin ikut ke tempat diselenggarakannya Jumbara. Mahendra mengizinkan. Jadilah mereka bertiga melakukan perjalanan ke desa. Hari Sabtu itu, acara penutupan Jumbara.
Ternyata waktu yang ditempuh lama, jalannya juga menanjak tajam. Maharani mengajak ngobrol Raju dan menjelaskan tentang pekerjaan Ayahnya.
“Kasihan Ayah.”
“Iya, oleh sebab itu kalau Ayah bekerja dan tak segera pulang, kamu jangan rewel. Lihat, jalannya seperti ini. Kalau malam gelap gulita.”
Sampai di lokasi, tenda-tenda sudah dilipat. Peralatan yang digunakan sudah dikemasi, tinggal menunggu mobil jemputan. Sore sebelumnya sampai malam hari hujan turun deras. Jadilah lapangan becek.
Meskipun becek, Raju tetap saja mengikuti langkah Mahendra. Pada akhirnya baju kotor kena cipratan air campur tanah, sepatu kotor.
Semakin siang semakin panas. Raju tetap tidak bisa diam. Setelah upacara penutupan selesai, Raju ikut mobil yang menjemput peserta Jumbara. Mobil tersebut milik adik Mahendra.
Sesekali Maharani dan Raju ikut serta dalam kegiatan Mahendra. Tujuan Maharani mengikutsertakan Raju dalam kegiatan tak resmi ini agar Raju tahu pekerjaan guru tenisnya. Tidak hanya rewel kalau ditinggal guru tenisnya yang super sabar ini.
Walapun Raju belum sepenuhnya paham, paling tidak sedikit-sedikit tahu pekerjaan Ayahnya.
00000
Karanganyar, 16 Oktober 2016

Kamis, 13 Oktober 2016

Jangan Salah Sangka Karena Tak Mengenal | Kahfi Noer

Hari ini saya membuka pesan dari messenger. Ternyata ada pesan yang baru bisa saya buka hari ini, padahal pesan sudah 1-2 tahun yang lalu. Ada yang bahasanya baik-baik saja, ada yang bernada marah, ada yang tak begitu penting.
Saya minta maaf. Bukan berarti saya sok. Saya memang membatasi diri dan selektif dalam menerima pertemanan di FB. Apalagi bila yang mengajak berteman, memakai nama samaran, bukan nama asli. Lalu dari fotonya juga saya tidak mengenal. Meskipun mutual friend-nya ada, kalau saya harus mengerutkan kening untuk mengingat siapa nih orang maka saya belum mengkonfirmasi.  
Sekali lagi, saya minta maaf. Bukan berarti saya tidak memedulikan.
Karanganyar, 12 Oktober 2016

Selasa, 11 Oktober 2016

Taman Tebing Breksi dari Endapan Abu Vulkanik | Kahfi Noer

Taman Tebing Breksi dari Endapan Abu Vulkanik
Endapan Abu Vulkanik, Tebing Breksi

Hari Minggu, 9 Oktober 2016 setelah shalat Zuhur, perjalanan saya dan sahabat-sahabat dari Keraton Ratu Boko kami lanjutkan ke Taman Tebing Breksi. Tebing Breksi merupakan endapan abu vulkanik dari Gunung Abu Purba Nglanggeran Gunung Kidul.
Tebing Breksi ini merupakan situs Geoheritage Candi Ijo. Tebing Breksi berupa bukit batu dengan ketinggian 20 meter. Bila kita berada di atas bukit batu ini, kita akan melihat Candi Prambanan, Candi Sojiwan, Candi Barong serta Keraton Ratu Boko.
Tebing Breksi terletak di Dusun Groyokan, Kalurahan Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, DIY (Jalan antara Prambanan dan Piyungan). Dari Candi Prambanan berjarak sekitar 7 km (ke selatan).
Dari arah Solo, sampai Candi Prambanan belok ke kiri. Sedangkan bila dari arah Yogyakarta, sampai Candi Prambanan ke kanan (Jalan antara Prambanan dan Piyungan)
Di pinggir jalan raya yang kita lewati ada tanda/tulisan Wisata Tebing Breksi, kita ikuti saja petunjuknya. Akses menuju Tebing Breksi sangat mudah. Jalannya beraspal atau beton. Meskipun jalan yang kita lewati tanjakannya cukup tajam, namun jalan tidak berkelok-kelok.
Saya menyarankan bila akan mengunjungi Tebing Breksi pastikan kendaraan kondisinya baik dan tidak bermasalah. Menurut saya, jalan menuju Tebing Breksi ini hampir sama kondisinya jalan menuju Candi Ceto, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Hanya saja kalau ke Candi Ceto, jalannya berkelok-kelok.   .
Sampai di sekitar Tebing Breksi, saya disuguhi pemandangan yang sungguh menakjubkan. Masya Allah, luar biasa. Tempat wisata berupa bukit batu ini pengunjungnya sangat padat. Padahal saat itu panas matahari cukup menyengat.
Saya melihat pengunjung berada di atas bukit yang diberi pengaman berupa pagar  kawat. Di bawah bukit, atau di dekat tempat parkir, saya menduga akan dibuat taman dan bisa dipakai untuk bersantai-santai.
Bukit Batu

Taman Tebing Breksi

Bukit yang Dipotong

Tangga Menuju Atas

Pahatan Wayang di Dinding

Saat itu, saya dan rombongan membayar parkir mobil Rp. 5.000,00. Sebenarnya tidak ada tiket masuk. Tapi kami diminta sumbangan ala kadarnya. Ya, untuk mereka yang sudah mau ikut “mengelola” Tebing Breksi, kami memberikan Rp. 15.000,00 (ini tidak paksaan. Seandainya hanya memberi sepuluh ribu saja juga boleh).
Sedia payung sebelum hujan. Dan payung yang saya siapkan dari rumah sangat bermanfaat meskipun tidak hujan. Panas matahari sangat terik. Semula kami mau mencari warung makan di sekitar Tebing Breksi tapi ternyata tidak ada pedagang/warung yang menyediakan makan berat. Jadilah saya menahan lapar (padahal sejak pagi belum sarapan)
Ketika kami beristirahat di tenda, saya melihat ada rombongan yang membawa orang tua (lansia). Beberapa orang tua tersebut mengalami kesulitan untuk berjalan. Mereka memerlukan bantuan orang lain untuk mencapai tempat parkir. Sepertinya, tempat ini tidak cocok untuk para orang tua.
Di Tebing Breksi ini, kita bisa berjalan-jalan, naik ke atas bukit batu. Bukit batu ini di potong sedemikian rupa, dibuatkan tangga, agar pengunjung dengan mudah bisa sampai di atas bukit.
(Dahulu batuan ini ditambang. Namun sekarang dikelola dan akan dibuat taman. Tujuannya adalah dibuat obyek wisata edukasi yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat luas).
Di dinding bagian dalam, saya melihat pahatan wayang. Kebetulan ada 2 bagian dinding yang dipahat. Hanya pahatan yang satu belum selesai. Bila kita tidak naik bukit, kita bisa berfoto dengan burung hantu (tidak ada tariff, memberikan dana ala kadarnya). Saya membaca tulisan kecil di papan yang disiapkan pemberi jasa foto bersama burung hantu. Tulisannya “Mengadopsi Burung Hantu 500.000. Saya tidak tahu maksudnya apa, karena saya tak berbincang-bincang dengan penyedia jasa.
Tidak terlalu lama saya dan sahabat-sahabat berada di Tebing Breksi. Alhamdulillah, akhirnya kami harus kembali lagi ke rumah. Mumpung masih panas dan masih siang. Harapan kami, sampai rumah belum malam.
Ada tips bila akan berkunjung ke Taman Tebing Breksi, di antaranya:
1.    Siapkan kendaraan dengan kondisi baik
2.    Bawa bekal makanan dan minuman
3.    Bawa topi dan payung
4.    Bawa kamera atau ponsel untuk mengabadikan momen penting
5.    Bila mengajak anak kecil awasi selalu, atau dampingi karena di atas bukit tidak ada pagar pengaman yang benar-benar aman buat pengunjung
6.    Jangan mengajak orang tua (sangat sepuh/lansia), karena akan merepotkan
7.    Jangan membawa anak yang masih tergantung dalam gendongan untuk naik bukit
8.    Bila makan/minum, menghasilkan sampah, buanglaah sampah pada tempatnya
9.    Bersikaplah ramah/sopan pada petugas parkir/pengelola
10. Berbagi tempat dan berbagi waktu foto dengan pengunjung lain
Semoga bermanfaat. Sampai bertemu di obyek wisata lainnya di Yogyakarta dan sekitarnya.
Karanganyar, 11 Oktober 2016
* Foto di atas semua dokumen pribadi