Rabu, 08 Maret 2017

Calon Besan

Sudah menjadi rahasia umum tentang hubungan perbesanan antara Maharani dan Kumar Khan. Awalnya memang pembicaraan yang sambil lalu saja. Suami Maharani, Mahendra adalah guru olahraga. Teman Maharani, yaitu Kumar Khan juga guru olahraga. Puja, anak Maharani, dulu adalah atlet Tae Kwon Do dan Adit, anak Kumar Khan adalah atlet bulutangkis. Teman-teman Maharani sangat setuju kalau Maharani dan Kumar Khan berbesanan.
Teman-teman juga memberikan kompor untuk memanas-manasi. Kumar Khan kaya, ternaknya banyak, anaknya satu, sawahnya luas dan panennya melimpah. Menurut pandangan teman-teman, Maharani juga seperti itu. Jadi keduanya sederajat.
Sepertinya ketua guru tidak tahu hal ini. Setiap Maharani ngobrol dengan Kumar Khan, selalu saja Kumar Khan dipanggil untuk suatu keperluan. Seolah-olah ketua guru curiga pada Maharani dan Kumar Khan. Jangan-jangan keduanya terlibat hubungan terlarang.
Pada suatu hari, Kumar Khan dipanggil ketua guru. Di dalam kantor ketua guru, Kumar Khan ditanya-tanya tentang hal pribadi.
“Pak Kumar, jangan sampai ada hal-hal yang bisa merusak nama baik sekolah.”
“Maksudnya apa, Pak?”
“Begini, saya lihat Pak Kumar sangat dekat dengan Ibu Maharani. Di luar, sangat santer berita kedekatan antara Pak Kumar dan Ibu Maharani.”
“Tidak perlu dilanjutkan Pak. Mohon maaf, ini urusan pribadi antara saya dan Ibu Maharani. Sebaiknya Bapak jangan berprasangka buruk.”
“Hubungan itu harus dihentikan, Pak!’
“Oh, tidak bisa.”
Plok! Muka ketua guru memerah seperti habis ditampar. Setelah Kumar Khan keluar ruangan, ganti Maharani yang dipanggil ketua guru.
“Ibu Maharani tahu, mengapa saya panggil?”
“Tidak.”
“Tentang hubungan Ibu Maharani dengan Pak Kumar Khan.”
“Oh, memang tidak boleh ya.”
“Jelas dong.”
“Alasannya apa Pak?”
“Jangan ada berita miring di luar sana tentang hubungan Ibu Maharani dengan Pak Kumar Khan.”
“Oh.”
“Tolong, hentikan hubungan itu.”
“Tidak bisa, Pak.”
“Mengapa?”
“Itu urusan pribadi saya Pak.”
Tidak lama kemudian, Maharani pamit keluar ruangan. Ketua guru pusing. Akhirnya ketua guru memanggil salah satu guru senior.
“Biarkan saja mereka dekat, Pak.”
“Bapak malah mendukung?”
“Mereka dekat bukan karena selingkuh, Pak. Mereka berdua merencanakan menjalin hubungan besan. Artinya mereka menjodohkan anak-anak mereka.”
Ketua guru lunglai, lemas, malu, mukanya seperti ditampar.


Karanganyar, 8 Maret