Minggu, 19 Maret 2017

Perlengkapan Olahraga Untuk Orang yang Aku Sayangi

Ketua Penyelenggara Cabang Bulutangkis
PORKAB 2017
dok.pri

Kalau ditanya siapa orang yang saya sayangi, saya akan menjawab Ibu dan Bapak, saudara kandung, suami dan anak-anak, serta keponakan-keponakan. Ibu dan Bapak adalah dua orang yang mencintai, menyayangi dan mengasihi saya sejak saya lahir hingga saat ini. Sudah sepantasnya saya melakukan hal yang sama, menyayangi beliau dengan sepenuh hati.
Saudara-saudara saya adalah orang-orang yang menyayangi dan mendukung saya. Mereka secara penuh memperhatikan saya. Di antara bentuk perhatiannya adalah turut serta membiayai pendidikan saya (ketika saya masih sekolah/kuliah) dan memperhatikan keadaan anak-anak saya (sampai sekarang). Hubungan kami antar saudara memang sangat erat. Tentu saja saya juga sangat menyayangi mereka. Saya tidak pernah melupakan jasa saudara-saudara saya.
Yang tidak terlewatkan begitu saja adalah anak-anak. Anak-anak adalah motivator saya. Mereka banyak memberikan inspirasi untuk saya. Setelah berumah tangga dan memiliki anak-anak, tentu saja ada suami yang wajib saya sayangi. Kali ini yang akan saya tuliskan adalah suami adalah orang yang saya sayangi. Bukan berarti saya menomorsatukan suami dan menomorduakan orang tua dan saudara saya.
00000
Ada cerita unik ketika saya pertama kali bertemu dengan suami.
Aku Ingin Naik Haji Bersamamu
Aku ingin naik haji bersamamu. Kata-kata itu aku dengar tahun 1995 beberapa hari setelah kita saling mengenal. Baru beberapa hari. Aku menanggapi dengan santai, Insya Allah. Eit, tapi mana mungkin? Impossible! Aku di Yogyakarta, kamu di Karanganyar. Jawabmu, ada cara kita bisa naik haji bersama. Aku diam. Teman kita yang lain, dari Blora juga bilang,”Mbak, aku ingin kita naik haji bersama.” Oh, berarti kita usahakan tahun pemberangkatannya sama ya. Biarpun kita beda kabupaten, beda provinsi.
00000
Dahulu, saya tak begitu memedulikan kalimat Aku Ingin Naik Haji Bersamamu. Kata seorang mahasiswa yang baru beberapa hari saya kenal karena saya dan dia satu kelompok ketika melaaksanakan Kuliah Kerja Nyata, di Sleman.
Saya tersenyum menanggapinya. Ah, mana mungkin? Dia berasal dari Kabupaten Karanganyar, sedangkan saya dari Yogyakarta. Misalnya bisa berangkat pada tahun yang sama, tapi untuk bertemu di Tanah Suci tentu saja tidak mudah.
Tujuh belas tahun kemudian. Saya mendengarkan laki-laki tersebut mengucapkan kalimat yang sama,” Aku Ingin Naik Haji Bersamamu.” Tahun 2012, uang yang ada di genggaman tangan hanya cukup untuk mendaftar haji satu orang. Saya bilang kepada laki-laki tersebut,”Berangkatlah lebih dahulu. Setelah sampai di Tanah Suci, panggil aku dan anak-anakmu.”
“Aku ingin naik haji bersamamu, kita cari solusinya. Karena denganmu semuanya akan mudah. Kita akan melakukan banyak hal bersama-sama di Tanah Suci.” Air mata saya meleleh.
Ternyata laki-laki itu tidak ingkar janji. Laki-laki yang saya kenal 17 tahun yang lalu tetap ingin bersama saya pergi ke Tanah Suci. Siapakah laki-laki yang berani mengucapkan kalimat Aku Ingin Naik Haji Bersamamu?
Laki-laki tersebut sebelum berkenalan dengan saya ternyata 5 tahun sebelumnya telah memperhatikan saya (ah, jadi ge-er saya). Menurut pengakuannya, tahun 1990, saya pergi ke kampus naik sepeda onthel. Ternyata dia juga naik sepeda onthel. (Saya Jurusan Pendidikan Kimia dan laki-laki itu Jurusan Pendidikan Olahraga, di IKIP N Yogyakarta). Dia hapal dengan rute yang saya tempuh. Tapi saya sama sekali tak pernah tahu laki-laki tersebut. Nah, tahun 1995 saya mengambil mata kuliah KKN. Laki-laki tersebut juga mengambil mata kuliah KKN. Bukan kebetulan, rasanya Allah sudah mengatur semuanya. Saya dan laki-laki tersebut berada pada kelompok kecil yang sama. Bisa ditebak ceritanya.
Setelah melalui jalan yang berliku-liku, akhirnya kami bisa mendaftar haji bersama dan ketika saya ditanya oleh petugas DEPAG tentang muhrim, laki-laki tersebut menjawab,”Saya, suaminya.”
Terima kasih, sudah kaupercaya melahirkan, merawat, membesarkan anak-anakmu. Tak pernah saya sangka ternyata  Insya Allah, Aku  Akan Berangkat Haji Bersamamu.
00000
Jalan Santai Guru-Siswa Ultah Kabupaten
dok.pri
Rasanya sudah banyak yang suami berikan untuk saya dan anak-anak. Selama ini kami saling mendukung pekerjaan kami masing-masing. Suami sebagai guru olahraga, tentu saja selain kegiatan mengajar, kegiatan olahraga di luar dinas tidak sedikit. Saya sangat mendukung kegiatannya. Demikian juga suami sangat mendukung kegiatan mengajar dan menulis saya (saya  sebagai guru dan penulis).
Selama ini saya sudah diberi fasilitas yang memadai, seperti laptop, kamera, dan lain-lain. Sepertinya, saya belum pernah memberikan sesuatu yang selalu dibutuhkan suami untuk menunjang kegiatan mengajar dan olahraga di luar dinas. Suami terlibat aktif dalam kegiatan olahraga terutama cabang bulutangkis di luar jam mengajar. Seperti aktif dalam kepanitiaan PORKAB (Pekan Olahraga Kabupaten), POPDA (Pekan Olahraga Pelajar Daerah), O2SN (Olimpiade Olahraga Siswa Nasional), Bupati Cup dan lain-lain.

Pembina PMR, Jumbara 2016
dok.pri

Suami aktif berolahraga bulutangkis dan tenis lapangan. Oleh karena kegiatan di luar rumah (untuk olahraga) sangat padat, maka suami memerlukan peralatan olahraga yang cukup memadai dengan kualitas yang baik. Saya pernah melihat nota pembelian sepatu, raket bulutangkis dan raket tenis, wow….harganya tidak ada yang murah.
 Untuk keperluan olahraga, suami menggunakan uang selain gaji. Biasanya kalau mendapatkan honor dari kepanitiaan olahraga (baik di kecamatan maupun di kabupaten), suami hanya bilang ke saya,”Mi, aku dapat rezeki.” Saya cukup sadar diri, itu bukan uang gaji, jadi saya tidak mau rakus memintanya. Suami akan membelanjakan uang tersebut untuk membeli sepatu, raket (bulutangkis atau tenis) dan lain-lain. Pernah suatu hari saya dan anak saya menanyakan kepadanya, kalau suami ulang tahun kepingin hadiah apa. Jawabannya,”Nanti Ayah beli sendiri saja.”
Mungkin suami sadar, uang untuk membeli raket, sepatu, aksesoris dan lain-lain harganya tidak murah. Mungkin suami saya merasa kasihan kalau saya dan anak saya harus mengeluarkan uang yang banyak untuk membeli peralatan olahraga. Tapi benar lo, saya ingin memberikan sesuatu yang spesial dan bermanfaat untuk mendukung profesi suami.
Peralatan Olahraga Tak Murah
dok.pri

Nah, tulisan ini sebenarnya bentuk dari cerita saya tentang suami yang saya ikut sertakan dalam lomba ngeblog yang diselenggarakan oleh www.elevenia.co.id. Siapa tahu dapat masuk nominasi, terus menang, terus dapat hadiah. Lumayan ‘kan kalau dapat hadiah, bisa untuk membeli peralatan olahraga buat suami.

Karanganyar, 19 Maret 2017