Jumat, 03 Maret 2017

Pulang Kampung Setelah Urusan Dunia Selesai

Pulang kampung

Setelah ikut mendampingi siswa-siswi melaksanakan kunjungan industry di Bengkel UD Rekayasa Wangdi, MMTC Yogyakarta dan CV. Karya Hidup Sentosa, saya langsung ke rumah Ibu dan Bapak. Rombongan menuju Pantai Parangtritis.
Alhamdulillah, saya bertemu dengan Ibu, Bapak, keponakan (mbak Afi) dan kakak nomor 2 (mbak Anna). Waktu saya lebih banyak saya gunakan untuk berbincang-bincang dengan Ibu dan Bapak. Sebelumnya, the panas sudah dihidangkan oleh Bapak untuk saya. Maklum, ke rumah Bapak ibaratnya hanya “mampir ngombe” karena hanya beberapa jam saja.
Bapak mulai bercerita tentang tetangga yang beberapa waktu yang lalu meninggal dunia. Bulan Januari, saya dan Bapak sempat membicarakan tetangga saya yang sakit ginjal. Awalnya sang tetangga mengeluh sakit maag. Bertahun-tahun keluhannya seperti itu. Tapi ternyata, setelah sekian tahun kemudian, yang terjadi adalah kondisi yang lemah dan bukan sekadar sakit maag seperti yang dikeluhkan, melainkan sakit ginjal. Tetangga harus menjalani cuci darah dua kali dalam seminggu.
Singkat cerita, seminggu sebelum meninggal, tetangga memanggil semua anak dan menantunya. Setelah berkumpul, beliau mengatakan bahwa sepertinya beliau sudah tidak bisa untuk melaksanakan ibadah haji. Uang tabungan untuk pergi naik haji dan tabungan yang lain (lebih dari 50 juta rupiah ) dibagikan untuk ketiga anaknya dan isterinya dan sisanya untuk diinfakkan ke masjid. Yang diinfakkan jumlahnya jutaan rupiah (tidak perlu saya sebutkan). Selain itu, tetangga juga berwasiat.
Sehari sebelum jadwal cuci darah, tetangga saya minta seluruh anggota keluarga dikumpulkan. Bapak saya yang bukan siapa-siapa (bukan saudara, hanya tetangga dekat) juga diminta anggota keluarganya datang. Rupanya mereka merasa tenang dengan kehadiran Bapak. Mereka minta didoakan. Bagi Bapak, doa yang paling utama adalah dari anak, isteri dan keluarganya. Tapi, menurut mereka, Bapak lebih tahu dan keberadaan Bapak membuat mereka tenang.
Beberapa saat kemudian, Bapak pamit untuk melaksanakan shalat. Di rumah, belum juga shalat, kembali Bapak dipanggil untuk ke rumah tetangga. Setelah shalat, Bapak membaca Alqur’an di rumah tetangga. Suasana tenang, sejuk. Sesekali anggota keluarga mendekati tetangga saya.
Oleh karena, dari pagi Ibu dan Bapak berada di rumah tetangga dan Ibu belum makan, maka Ibu mengajak pulang untuk makan dahulu. Sampai di rumah, belum sempat Ibu dan Bapak makan, kembali Bapak dipanggil keluarga tetangga saya.
Bapak melihat tetangga saya seperti orang tidur. Setelah minta kaca/cermin, cermin didekatkan pada hidung tetangga. Tidak ada uap sama sekali.
“Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Bapak sudah meninggal.”
Tidak ada teriakan histeris. Mereka menangis tapi tetap tenang karena sudah mengikhlaskan sejak lama.
Waktu itu saya mendapatkan pesan WA group keluarga. Saudara kandung meminta untuk semua anak-anak Bapak untuk melayat. Dari keenam anak Bapak, hanya saya yang tidak melayat. Saudara saya dari Blora juga melayat.
Bapak bilang,”Pak Marsono itu orang baik. Orang desa yang tak tahu apa-apa, tapi mau belajar agama. Beliau juga dermawan, kalau sedekah tidak tanggung-tanggung. Semoga khusnul khotimah.”
Saya mendengarkan cerita Bapak dengan perasaan terharu. Bapak, sesepuh itu tetap sehat. Dibutuhkan banyak orang. Saya pandangi wajah Bapak, memang teduh.
Jam delapan malam, saya harus ke Malioboro sesuai janji saya untuk ikut rombongan pulang kembali ke Karanganyar. Waktu saya pamit Ibu dan Bapak:
“Hati-hati ya momong anak-anak. Ojo lali shalate,”kata Bapak.
“Hati-hati ya,”kata Ibu.
“Ojo lali panenane,”kata mbak Anna.
Gerimis mengiringi perjalanan saya dari kampung halaman tercinta sampai tempat parkir Abu Bakar, timur stasiun Tugu. Terima kasih ya, mbak Afi sudah mau mengantar Bulik yang cantik ini.

Karanganyar, 3 Maret 2017  
*Foto : dokumen Noer's