Rabu, 12 April 2017

Cara Mengedit Naskah oleh 3 Editor

Ketika kami berdiskusi tentang mengedit naskah atau tulisan, ada 3 narasumber yang ahli dalam bidangnya. Ketiga narasumber tersebut sudah tidak diragukan lagi kemampuannya sebab mereka bekerja sesuai bidangnya, yaitu sebagai editor.
Adapun ketiga narasumber tersebut adalah mbak Neng, mbak Misb, dan mbak Rien. Mbak Neng dan mbak Misb, spesialis mengedit naskah Lembar Kerja Siswa (LKS) dan mbak Rien spesialis mengedit naskah pada lomba dan naskah buku.
Setelah diuraikan panjang lebar, sungguh saya menjadi melongo dibuatnya. Ternyata pekerjaan editor “sangat kejam”. Akan tetapi kekejaman ini sebenarnya untuk kebaikan penulis. Mengapa demikian? Sebab tulisan yang diedit besar-besaran dengan cara yang “kejam” ini akan menghasilkan naskah akhir yang lebih baik.
Pesan ketiga editor kepada kami, sebelum mengirimkan naskah ke penerbit atau media, sebaiknya diedit terlebih dahulu. Tugas editor memang mengedit naskah tapi jangan sampai merubah total naskah. Kami, anggota IIDN yang mengikuti kopdar menjadi lebih paham. Tugas editor ternyata berat juga.
Kami siap kecewa bila naskah atau tulisan kami dibantai habis-habisan. Oleh sebab itu jangan terlalu percaya diri setelah tulisan kita selesai dibuat. Tulisan yang kita anggap baik, belum tentu layak terbit atau layak tayang/dimuat di media.
Pesan mbak Neng adalah menulislah dengan mengikuti kaidah-kaidah yang telah ditentukan. Pakailah EYD, buatlah kalimat dengan pola SPOK. Menurut saya, menulis dengan pola SPOK sepertinya tulisan menjadi kaku. Lebih enak menulis dengan bahasa tutur yang mudah dipahami. Asal menuliskan tanda baca sesuai EYD maka tulisan akan memiliki makna.
Aktifitas menulis sangat menyenangkan. Seandainya jam terbang penulis sudah tinggi, kemungkinan kecil tulisannya banyak diedit sana-sini. Tapi ada kasus bahwa seorang editot ditantang untuk membuat tulisan. Ternyata seorang editor juga memiliki kesulitan untuk menulis. Buktinya, tulisan/naskah yang dibuat mengundang reaksi editor lain untuk mengoreksi.
Akan tetapi, seorang editor yang baik selalu berpesan kepada penulis-penulis. Pesannya adalah: jangan hanya karena dikririk, karya dibantai, lalu down, trauma berkepanjangan lalu tidak mau menulis lagi. Jadi penulis itu mesti tangguh. Setuju!
Untuk penulis pemula, segera menulis. Usahakan menulis sesuai bidangnya. Menulis mengalir begitu saja tidak perlu teori yang malah membuat kepala pusing. Kalau sudah menulis lalu dibaca kembali selanjutnya diedit. Tulislah materi yang ringan-ringan saja. Sebagai penulis pemula, tidak perlu menulis hal-hal yang berat.
Kalau kita menulis sesuai kata hati nurani, tentu saja tulisannya akan mengalir begitu saja. Memang kadang mengawali suatu tulisan tidaklah mudah. Semua butuh proses dan bisa dipelajari. Harapan kita tulisan kita mendekati sempurna dan berkualitas. Amin.

Karanganyar, 12 April 2017