Sabtu, 01 April 2017

Kimia Itu Gampang, Kimia Itu Tidak Sulit

Kimia itu gampang. Kimia itu mudah. Kimia itu tidak sukar dan sulit. Kimia itu bisa dipelajari dari kehidupan sehari-hari. Kalau mendengar kata-kata kimia jangan gentar, gemetar, dan takut. Biasa saja, santai saja, jangan spaneng, slow saja.
Dahulu saya juga menganggap kimia itu sulit. Belajar kimia akan selalu mengerutkan kening dan mulutnya sedikit monyong. Ah, dugaan saya keliru. Mengapa dahulu ketika saya belajar kimia menganggap pelajaran itu sulit? Ternyata saya salah menempatkan diri. Saya pernah salah cara menyerap ilmunya.
Dan yang paling saya ingat adalah awalnya saya tidak begitu suka dengan cara guru menyampaikan pelajaran kimia. Loh, kok jadi menyalahkan gurunya. Ya, iyalah, kan suka pelajaran dimulai dengan suka pada guru yang mengajar/menyampaikan pelajaran. Itu dulu, dulu sekali ketika saya kelas satu SMA.
Sebenarnya guru kimia saya waktu kelas satu adalah guru senior dan ilmunya tinggi. Hanya saja, cara menyampaikan yang berbelit-belit, tidak to the point inilah yang membuat saya bingung. Bukan hanya saya saja lo yang bingung. Teman yang lain, yang lebih pandai dari saya juga banyak yang mengeluh bingung.
Eits, tunggu dulu, sebenarnya yang membuat bingung itu apa ta? Atau saya hanya membela diri, mencari alasan karena saya memiliki DDR alias daya dong rendah? Nggak juga. Saya termasuk siswa dengan tingkat kecerdasan rata-rata (bukan rata-rata daya dong rendah lo).
Mungkin saya kurang konsentrasi alias tidak fokus. Mengapa demikian? Sebab, saya kalau pas diajar kimia bukan hanya menyiapkan buku tulis untuk mencatat pelajaran, tapi juga kertas corat-coret lainnya. Saya akan membuat turus, menghitung berapa kali guru kimia saya mengatakan “dengan adanya hal demikian, maka”…. Jreng! Jelas saja saya tidak bisa konsentrasi, karena materi yang disampaikan tidak banyak tapi kata-kata “dengan adanya hal demikian, maka” diucapkan berulang-ulang.   
Suatu saat guru kimia menyampaikan materi. Kalau tidak salah tentang kation, anion, senyawa. Enggak dong sama sekali! Penyebabnya adalah belajar konfigurasi elektron juga hanya meraba-raba. Begitu diberi soal (waktu itu guru kimia sedang ada tugas keluar) bentuknya tabel, disuruh mengisi senyawa yang terjadi hasil reaksi kation dan anion tertentu, saya hanya bisa melongo. Disuruh ngapain tabelnya? Ya, terus keluarlah ajian mencontoh/mencontek teman yang pandai. Yang penting tugas kelar, dapat nilai gitu. Perkara tidak mudeng, besok bisa dipelajari.
Saat kenaikan kelas, jreng-jreng, nilai kimia semester 2 pada rapor saya hanya enam. Pede saja, nilai kimia di rapor pas-pasan berani masuk jurusan A1 (ilmu fisika), hahaha.
Setelah duduk manis di kelas dua, Alhamdulillah, guru kimia saya berbeda dengan yang dulu. Bukan guru kimia saat kelas satu. Hore, saya suka sekali. Guru kimia kelas dua ini cara menyampaikan materi gampang ditangkap. Nah, kimia gampang kan. Kok enggak dulu-dulu saya diajar guru yang ini?
Materi kimia kelas dua itu sulit. Konfigurasi electron, Sistem Periodik Unsur, kesetimbangan kimia, laju reaksi, termokimia, tidak gampang. Tapi cara guru kimia menyampaikan materi yang mengenai sasaran inilah menurut saya kimia jadi gampang. Akhirnya sampai kelas tiga, guru kimia kelas dua mengikuti kelas kami. Asyik-asyik.
Belajar kimia, bisa dengan cara membaca buku, belajar dari dapur, belajar dari perkakas pertukangan yang dimiliki Bapak saya, belajar di pabrik tahu depan rumah saya (eh, pemilik pabrik tahunya pindah, sekarang rumahnya dibeli kakak saya). Belajar kimia memang gampang karena kimia dekat dengan kita.
Oleh sebab itu, mulai sekarang jangan bilang kimia itu sulit atau belajar kimia itu tidak gampang. Ubahlah cara berpikir seperti itu. Belajar kimia bisa secara otodidak kok. Zaman sekarang mau belajar pelajaran apa saja banyak sumbernya. Ada buku, ada film, video, bisa lewat internet, bisa belajar langung ke sumbernya. Kalau sudah membaca lalu berlatih mengerjakan soal. Dijamin akan berhasil!    
Berbeda dengan zaman dulu, ketika saya SMA. Belum ada internet, komputer saja programnya masih basic, chi writer. Barulah saat kuliah mengenal WS bukan MS. Tidak ada alasan untuk berkata kimia itu sulit, karena memang kimia itu gampang.
Karanganyar, 1 April 2017